Buku yang Sama Kisah yang Berbeda

Sungguh, hal ini mengganggu pikiran saya karena sering saya gunakan sebagai sindiran bagi anak-anak yang berusia 18-23 tahun itu (mengacu ke kalian yang sering merasa menjadi korban sindiran saya). Maaf karena menggunakan istilah “anak-anak”. Sindiran saya mengenai mantan pacar mereka yang tidak setia atau mantan pacar yang diputuskan karena memiliki visi dan misi yang berbeda.

Ngapain kembali ke mantan kalau akhirnya akan sama?

Jika dia adalah yang terbaik, tidak mungkin dia sengaja memposisikan dirinya supaya menyandang status “mantan”.

Kisah ini akan saya mulai dengan:

Dalam suatu peristiwa, saya berbicara dengan seorang teman. Teman yang memiliki harga diri (sehingga tidak akan melakukan pelanggaran hukum) dan begitu bangga dengan pola hidupnya (harap diingat bahwa kita tidak membahas harga diri maupun pola hidupnya). Saya ingat bahwa dia sedang membahas sistem pendidikan yang ada saat ini (perhatikan tanggal terbit tulisan ini). Dia mengatakan:

“Monyet, jerapah, dan kodok berada dalam satu kelas yang sama, kemudian semuanya disuruh memanjat pohon. Sama seperti kita, masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda, tetapi dipaksa untuk melalui ujian yang sama. Begitulah sistem pendidikan yang ada sekarang.” (kalimatnya mungkin tidak sama persis dengan yang saya tulis, tetapi seperti itulah yang saya pahami)

Awal mendengar analogi seperti itu, rasanya masuk akal juga. Jika disuruh untuk memanjat pohon, monyet akan mengalahkan jerapah dan kodok. Tetapi saya memikirkannya kembali dengan menggunakan kalimat: “analogi tersebut adalah penjelasan mengenai makhluk hidup dengan kemampuan yang berbeda-beda tetapi diminta untuk melakukan hal yang sama”. Frasa yang perlu diperhatikan adalah “makhluk hidup dengan kemampuan yang berbeda-beda”. Monyet, jerapah, dan kodok adalah makhluk hidup dengan kemampuan yang berbeda-beda, tetapi perlu dicatat juga bahwa mereka bukanlah makhluk hidup yang sama.Education System Nowaday

Menurut Charles Darwin, ada parameter, kategori, atau nilai tertentu pada makhluk hidup sehingga masing-masing makhluk hidup bisa kita kelompokkan. Monyet adalah kelompok mamalia, jerapah adalah kelompok mamalia, sedangkan kodok adalah kelompok amfibi. Kelompok mamalia terbagi lagi menjadi marsupial, pengerat, primata, dll. Dan ada hal-hal lain tentang makhluk hidup yang tidak bisa saya jelaskan karena hal tersebut tidak saya pelajari secara mendalam. Monyet jelas-jelas berbeda dengan jerapah (walaupun sama-sama dari kelompok mamalia), apalagi jika dibandingkan dengan kodok. Menggunakan teori pengelompokan makhluk hidup tersebut saja, kalimat teman saya tentang sistem pendidikan yang ada saat ini sudah dapat dipatahkan. Catatan: (untuk yang ahli) mohon informasikan istilah yang tepat tentang pengelompokan makhluk hidup dalam paragraf ini atau silahkan tambahkan dalam komentar.

Dalam sistem pendidikan yang ada, masing-masing orang mempelajari hal yang sama dalam kelas yang sama. Seperti anak-anak singa yang belajar berburu, mereka juga mempelajari hal yang sama. Setelah singa-singa tersebut cukup besar dan kuat, mereka akan melakukan perburuan sendiri-sendiri. Tetapi tidak semua singa mendapatkan hasil buruan yang sama. Sedikit mendalam, ada beberapa faktor penyebab kegagalan perburuan, misalnya kemampuan mangsa dalam menghindar atau menjauh sebelum para singa mendekat, tingkat vitalitas dari masing-masing singa yang melakukan perburuan, hingga kondisi cuaca. Begitu juga dengan sekelompok orang yang sedang belajar. Kita mempelajari kemampuan dasar untuk mandiri, kemampuan dasar kita sebagai seorang manusia. Kita juga belajar menulis, membaca, berhitung, dan lain sebagainya sebagai kemampuan pendukung untuk bertahan hidup dalam sistem kependudukan yang telah dibangun selama berabad-abad. Tetapi hasil yang diperoleh masing-masing orang (saat menggunakan kemampuan tersebut) tidak pernah sama persis.

Perhatikan bahwa kita bisa mempelajari kemampuan dasar sebagai seorang manusia dan meningkatkan kualitas diri kita dengan mempelajari kemampuan lainnya. That’s what makes us human. Secara utuh, kita tidak bisa disamakan dengan sekelompok hewan kharismatik (singa, gajah, maupun ikan paus), hewan peliharaan (anjing, kucing, iguana, dll), maupun dengan hal-hal lain. Tetapi per-bagian, kita bisa saja menggunakan hal lain sebagai pembanding, misalnya “tatapannya tajam seperti elang”, dll (apa mungkin ini arti dari totem?). Pertimbangkan kembali, apakah orang-orang yang kita kenal bisa kita anggap sebagai sebuah buku? Secara utuh? Manusia bisa berubah, oleh karena itu kita bukanlah buku yang sudah ditulisi, walaupun ada yang terlalu besar kepala sehingga tidak menyadari pentingnya perubahan (untuk menjadi lebih baik). Bahkan sebagian orang harus mengalami kehilangan untuk belajar mensyukuri apa yang dimiliki.

Apapun yang Anda lakukan hari ini dan seterusnya, ingatlah bahwa perbuatan baik adalah sesuatu yang Anda lakukan untuk membahagiakan diri sendiri dan/atau orang lain, tanpa menyakiti siapapun. Dan saya percaya ada kisah yang berbeda untuk kita semua.

Be social share!
  • nanang rifai

    disini yang salah adalah manusia diharuskan untuk menjadi multitasking. semua hal bisa. matematika, ipa, bahasa indonesia, inggris, agama, fisika, dll. memang ada yang berhasil, tetapi hanya permukaan. tidak mendalam. setelahnya bingung mau ngapain. karena memang sedari awal tidak diajarkan bagaimana belajar jangka panjang.

  • nanang rifai

    sekedar tambahan silahkan di baca tulisan keren dari Ibrahim Vatih tentang "multitasking membunuhmu" search aja di google

    • adipura

      iya bagus tuh Tulisan Ibrahim Vatih yang multitasking membunuhmu. harusnya kita emang fokus kalo pengen mengalami quantum leap.

    • marilib

      saya blom pernah membaca karangan dari ibrahim vatih, nanti saya cari dulu di google.

  • restu mande

    bener banget ini :D harus diperhatikan lagi soal yang beginian :D

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *