Bertamu Sejenak di Keraton Kadariah, Pontianak

Istana Kesultanan Pontianak atau lebih dikenal orang dengan sebutan Keraton Kadariah merupakan salah satu obyek wisata favorit di Pontianak bagi para wisatawan ketika datang ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Tentunya, sambil berjalan menyusuri sungai kapuas, para pengunjung bisa juga belajar sejarah. Jadi, tak heran jika banyak wisatawan, baik dari Indonesia maupun mancanegara yang datang ke keraton untuk melakukan wisata sejarah. Penasaran tentang informasi seputar Keraton di Pontianak? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Keraton Kadariah ini dibuka untuk umum, kita dapat mengunjunginya secara gratis, namun harus tetap sopan dan izin dulu sama penjaganya. Ketika ke dalam komplek keraton, kita akan disuguhi gerbang keraton yang menjadi icon kota Pontianak. Kompleks yang dihiasi pohon palem ekor tupai ini membuat suasana panas Pontianak menjadi sumilir. Pokoknya adem lah. Di spot ini, biasanya dijadikan tempat foto-foto karena menurut aku, spot di sini cantik abis.

Keberadan keraton Kadariah tidak lepas dari sosok Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie (1738-1808M), yang masa mudanya telah mengunjungi berbagai daerah di Nusantara dan melakukan kontak dagang dari para Saudagar di berbagai Negara. Ketika Habib Husein Alkadrie, yang pernah menjadi Hakim agama kerajaan Matan dan ulama terkemuka di Kerajaan Mempawah, wafat pada tahun 1770M, Syarif Abdurrahman beserta keluarganya memutuskan untuk mencari daerah pemukiman baru. Sampai pada tanggal 23 oktober 1771M (24 Rajab 1181H), mereka tiba di daerah dekat pertemuan tiga sungai, yaitu sungai Landak, Sungai Kapuas kecil dan Sungai Kapuas. mereka memutuskan untuk menetap didaerah tersebut.

Secara historis Keraton Kadariah mulai dibangun pada tahun 1771M dan baru selesai pada tahun 1778M. Tak lama setelah Keraton selesai dibangun Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri di nobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak. Dalam perkembanganya, keraton ini terus mengalami proses renovasi dan rekonstruksi hingga menjadi bentuk yang sekarang ini. – Wikipedia

Struktur bangunan Keraton Kadariah yang didominasi warna kuning ini terbuat dari kayu pilihan. Pada bagian depan, tengah, dan kiri depan Keraton kita dapat melihat 13 meriam kuno buatan Portugis dan Perancis. Sebuah ruangan berupa mimbar yang menjorok kedepan yang dulunya digunakan Sultan sebagai tempat peristirahatan atau untuk sekadar untuk menikmati keindahan pemandangan sungai kapuas dan sungai landak.

Di dalam Keraton, kita akan disajikan barang-barang peninggalan kerajaan seperti baju raja/sultan, foto kenang-kenangan sultan, alat musik, senjata kuno dan lain-lain. Kita juga akan disuguhi singgahsana keraton. Saat masuk ke keraton ini, kita harus melepas sandal atau sepatu, bagi yang memakai sandal. Jika memakai sepatu sandal atau sepatu, boleh dipakai.

Di ruangan ini juga kita dapat melihat Genta, sebuah alat yang dulunya dipakai untuk penanda adanya marabahaya. Pada aula utama keraton ini juga terdapat cermin antik dari Perancis yang oleh masyarakat setempat disebut “Kaca Seribu“. Di dalam Keraton seperti halnya Keraton-keraton melayu lainya yang didominasi oleh warna Kuning.

Keraton Kadariah juga masih memiliki koleksi benda- benda bersejarah yang cukup lengkap seperti beragam perhiasan yang digunakan secara turun temurun, benda-benda kuno seperti benda pusaka dan artefak, barang pecah belah, foto keluarga Sultan dan arca- arca. Beberapa ruangan pribadi milik keluarga kesultanan juga dibuka untuk umum, walaupun terdapat beberapa larangan ketika pengunjung luar memasukinya.

Letak Keraton Kadariah yang berada di pusat kota memudahkan wisatawan untuk mengunjunginya. Akses ke keraton ini dapat dilalui dengan jalur darat ataupun jalur sungai. Jika menggunakan jalur darat anda dapat menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat di Kampung Beting tepatnya Jalan Tanjung Raya 1 sedangkan jika menggunakan jalur sungai anda dapat menggunakan perahu atau speedboat dari pelabuhan Senghie.

Keraton Kadariah yang berada di kawasan Beting ini satu lokasi dengan alun-alun pasar kenanga dan masjid Jami’ Pontianak. Di seberang masjid Jami’ juga terdapat halaman besar yang biasa digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara.

Untuk informasi tambahan, berikut daftar nama sultan yang pernah menjadi sultan di Keraton Kadariah ini.


Gimana udah nambah informasi belum, sebentar lagi ulang tahun Kota Pontianak, yuk mari berkunjung ke Keraton Kadariah Pontianak, semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
  • Radit Mananta

    Tadak ngajak

  • Ega Tiara

    Udah lama tidak ke Sana, kangen jalan ke keraton 😥

    • Siti Mustiani

      Kapan2 kita explore keraton yang lainnya ya egaa... 😄

  • PIPIT

    Baru tahu kalau di Pontianak ada keraton, kirain keraton itu cuman identik sama kerajaan di jawa aja

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *