Pesona Bukit Tiong Kandang, dengan Trekking yang Menantang

Sanggau, Kalimantan Barat. Perjalanan kali ini masih ke daerah hulu. Berhubung cuma punya waktu yang singkat buat liburan, tapi butuh keindahan alam untuk menghilangkan sedikit penat akibat aktifitas sehari-hari. Pas weekend kebetulan banget teman-teman Djelajah Borneo ngajakin ngr-trip lagi.

Ini trip yang ketiga kalinya aku bersama mereka. Karena liburannya gak bisa lama-lama dan gak bisa jauh-jauh. Jadi, destinasi trip kali ini jatuh kepada Bukit Tiong Kandang, Batang Tarang daerah ini juga belum pernah saya explore sama sekali.

Dunia itu seluas langkah kaki, jelajahi jangan takut melangkah… hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya   —” Soe Hok Gie

Bukit Tiong Kandang merupakan salah satu bukit dengan ketinggian sekitar 900 mdpl terletak di Dusun Mangkit dan Dusun Mak Ijing Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau dengan jarak 83 kilometer dari Kota Sanggau atau sekitar tiga jam dari Kota Pontianak dengan hutan pegunungannya masih sangat masih alami.

Untuk menuju kawasan Tiong Kandang dapat mengunakan dua jalur, pertama melalui Dusun Mangkit, Desa Temiang Mali dan yang kedua melalui Dusun Mak Ijing, Desa Tae. Perjalanan kami melalui jalur kedua yaitu Dusun Mak Ijing, Desa Tae, walaupun kelihatannya lebih jauh tapi menurut kami justru lebih dekat karena di Dusun Mak Ijing kami dapat membawa kendaraan hingga balai desa tae, di Dusun Mak Ijing kami bertemu dengan sorang warga yang akan menemani kami untuk mendaki Bukit Tiong Kandang ini.

Di Bukit Tiong Kandang ini kita tidak dianjurkan untuk nge-camp atau menginap di puncak, karena bukit ini masih sakral banyak sekali ritual-ritual adat yang masih dilakukan oleh warga setempat. Jadi, karena kami tidak menginap di puncak kami berangkat dari subuh hari kemudian kembali turun di siang hari.

Perjalanan dimulai dari Pontianak (29/7) dengan jumlah anggota TIM kali ini sebanyak 31 orang, keberangkatan dibagi menjadi tiga tim, tim pertama ada dua orang sudah pergi ke lokasi dari sore untuk mengurus perizinan di balai Desa Tae, Batang Tarang yaitu Suryadi dan Imam. Kemudian rombongan kedua sebanyak 25 orang berangkat pukul delapan malam termasuk aku ada disini, kemudian tim terakhir empat orang berangkat pukul 11 malam. Semuanya berkumpul di balai Desa Tae (tepatnya di kediaman/rumah Pak Karya).

Sesampainya di rumah Pak Karya kami langsung disambut hangat oleh pak karya dan istrinya. Entah kenapa setiap jalan kemana-mana pasti nemu orang yang baik hati yang menawarkan banyak hal, baik itu tumpangan gratis, makanan gratis dan tempat berteduh gratis. Termasuk perjalanan ke Bukit Tiong Kandang kali ini 🙂

Di rumah Pak Karya, sebagian teman kami ada yang tidur dan sebagian lainnya ngrumpi. Setelah istirahat dan ngopi-ngopi sambil prepare dan pemanasan sebentar, pukul empat pagi (30/7), kami pun mulai perjalanan menuju Puncak Bukit Tiong Kandang. Memasuki kawasan hutan yang menurut saya pepohonannya tidak terlalu rapat suasana hutan juga masih sangat gelap, kami disambut oleh suara anjing milik warga bersahut-sahutan seakan menyambut kedatangan kami. Menurut pak karya jalur pendakian ini sekitar 4.125m atau 4km.

Kami membawa headlamp atau sentar masing-masing dan berjalan santai menyusuri jalan setapak yang jelas terlihat. Tidak usah takut tersesat karena dibarisan depan ada pak karya sebagai penunjuk jalan, dan pak sembolon ikut jalan dari belakang agar tidak ada anggota yang tertinggal.

Selama perjalanan menuju puncak, saya terlalu bersemangat. Mungkin karena sudah lama tidak naik gunung (terakhir naik Sebayan, Februari 2017) jadinya rindu sekali dengan gunung. Well, Sebayan ini bukan gunung sih, cuma bukit (walaupun tingginya 536 mdpl ), tapi anggap saja sama. Sama-sama capek mendakinya.

Ada satu momen yang sempat membuat perjalanan terhenti, setelah berjalan 800 meter selama kurang lebih 30 menit tiba-tiba teman kami Merry sudah tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan. Yaaahhh sayang sekali, jadi merry diantar pulang kembali ke rumah pak karya oleh bang Zul, sayang sekali mereka tidak sampai ke puncak. Merry memang baru pertama kali nanjak setinggi ini sih, dan sepertinya kurang istirahat. Jadi, tips nih buat teman-teman yang mau nanjak pastikan fisiknya siap yaa, olah raga kalau bisa seminggu sebelumnya, pemanasan sebelum mulai nanjak. *Eh kok aku jadi sok nagajarin sih… hehe, ini ajaran Nova sebenarnya, btw Nova kemana ya? kok gak ikut nge-trip bareng kita?

Sepanjang pendakian bukit Tiong Kandang, karena saking semangatnya saya, paling suka banget di posisi paling depan karena bisa nanya-nanya dan dengar ceritanya dengan Pak Karya, cerita pak karya akan saya tulis dipostingan berikutnya. Bahkan, beberapa kali kami bertemu dengan warga setempat yang sedang berangkat untuk noreh pohon karet/pohon getah. Mereka berangkat kerjanya subuh banget, kita yang di kota baru berangkat kerja aja jam tujuh (kadang telat, eh bukan aku ya). Pohon getah memang banyak getahnya saat subuh sih kata Pak Karya.

Oh ya, sekilas profil mengenai Guide kami yang merupakan penduduk asli Desa Tae Dusun Mak Ijing. Pak Karya berusia sekitar 45 tahun dan Pak Sembolon berusia sekitar 35 tahun. Mereka setiap harinya bekerja di daerah bukit, dan terkadang Pak Karya nyambi noreh pohon karet kalau Pak Sembolon ini ketua RT juga di daerahnya. Pak Karya dan Pak Sembolon sudah berkeluarga, yang membuat saya tertohok, mereka sangat ramah… dan satu hal yang paling menarik, mereka sangat menikmati hidup mereka.

Kami melaksanakan upacara adat sebelum memulai pendakian yang dipimpin oleh Pak Sembolon. Upacara yang merupakan tradisi adat warga Dusun Mak Ijing sebelum memasuki kawasan hutan Tiong Kandang. Batu besar ini dinamakan oleh warga setempat sebagai pedagu kalau di puncak nanti ada batu seperti ini yang dinamana pedagi.

Pedagi adalah sebutan bagi masyarakat Mangkit dan masyarkat sekitar gunung, yang artinya ditengah-tengah gunung. Di pedagi ini pula masyarakat di Dusun Mangkit selalu melakukan acara ritual adat.

Upacara adat ini dilakukan di pedagu agar kita diberi keselamatan selama perjalanan sampai atas hingga turun kembali, terdengar pak simbolon juga mengucapkan mohon izin jika kami ada salah perbuatan di gunung untuk dimaafkan selanjutnya pak simbolon menggunakan bahasa nya (dayak tae) sambil membawa seperti beras berwarna kuning. Kemudian Pak Simbolon bilang jika ada uang receh boleh ditinggalkan di pedagu ini dan sisakan untuk di pedagi nanti.

Walaupun sakral dan mistis. Tenang, selama kita berniat baik dan tidak macam-macam di alam, niscaya kita akan aman dan selamat. Jangan lupa berdoa ya.

Setelah istirahat sebentar di pedagu kami melanjutkan perjalanan, dimana kemiringan mulai semakin terjal. Setelah melewati pedagu tempat ritual tadi kami diingatkan oleh pak simbolon untuk selalu sopan, jangan membuang sembarangan, jangan berbicara kasar dan lain sebagainya.

Selama perjalanan nafas tersengal-sengal. Peluh mendera, cuaca hari itu cukup panas karena hari sudah semakin siang. Trek pendakiannya dimulai dengan memasuki perkebunan warga, lalu menyusuri sungai kecil, namun airnya lagi sedikit. Selanjutnya memasuki kawasan hutan yang ditandai dengan banyaknya pepohonan tumbang. Menurutku treknya lumayan tidak jelas sewaktu memasuki kawasan hutan. Apalagi ketika kami ketinggalan jauh dari rombongan depan bahkan teman kami juga sempat kesulitan menemukan jalannya yang benar. Jalan setapak terhapus dan terhalang oleh kayu-kayu besar yang melintang.

Perjalanan dilanjutkan, kami pun beberapa kali menemukan batu besar seperti tebing, untuk melewatinya cukup menguras tenaga, bahkan saya sendiri sempat terpeleset dan jatuh, karena sambil megang kamera, hehe… but it’s okay, saya gak kenapa-kenapa kok karena pas naik dibantu sama abang-abang Djelajah Borneo yang baik banget untuk naik, terus kasi semangat dan nungguin kita pas capek banget.

Tidak jauh dari trek yang lumayan terjal terlihat cahaya matahari pagi yang seakan-akan mengintip kami dari balik pohon-pohon besar didalam hutan. Suasana seperti ini mengingatkan saya akan film The Lord of The Rings, dimana daun yang terletak agak jauh ditutupi asap seperti embun. Aduh apaan sih nih.

Kami berjalan lagi hingga akhirnya tiba di Puncak Tiong Kandang sekitar pukul 8.30. Rasa puas dan bangga menyelimuti TIM Djelajah Borneo, kami berhasil mencapai puncak dengan anggota yang kurang dua. Di puncaknya, langit biru dan matahari bersinar cerah, menghapus dahaga kami akan sinar matahari selama pendakian ini. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam di atas sebelum kembali turun ke bawah.

Sekitar pukul 08.30, awan-awan sudah mulai menutupi dan sejauh mata memandang hanya awan yang sejajar dengan kaki, membuat saya merasa berada di atas awan.

Kami mencari tempat yang cukup nyaman untuk duduk dan memandang matahari terbit dan dipilihlah sebongkah batu besar dan lebar untuk dijadikan tempat duduk serta meletakkan barang. Setelah energinya terisi penuh, kami mempersiapkan kamera masing-masing dan berpencar mencari spot terbaik untuk memotret dan membuat beberapa video.

Selain menikmati ketinggian Bukit Tiong Kandang, hal favorit yang bisa dilakukan adalah bisa santai hammock-an sambil ngobrol-ngobrol bareng teman, karena di puncak Tiong Kandang ini juga terdapat beberapa pohon besar yang cukup kuat untuk menggantungkan hammock.

Setelah menikmati itu semua, sebelum kami turun Pak Simbolon kembali melakukan ritual di pedagi yang terdapat di puncak Tiong Kandang ini, agar kita diberi keselamatan untuk turun.

Dari perjalan ke Bukit Tiong Kandang tersebut ada beberapa hal yang saya sadari

Perjalanan bukan tentang bagaimana kita dapat mengabadikan momen yang terjadi tapi bagaimana proses untuk mencapainya

Jam sudah menunjukkan pukul 09.25. Udara mulai semakin hangat dan bikin gerah. Lepas jaket, masukkan ke dalam tas, beres-beres peralatan, mari kita pulang. Tak butuh waktu lama untuk menuruni bukit Tiong Kandang, tiga jam aja kok. Itu juga hitungan lambat sebenarnya, karena kita benar-benar berjalan santaaaaaiiiii. Lagian buru-buru mau kemana sih? 🙂

Karena perjalanan untuk menuruni Tiong Kandang ini cukup santai, beberapa kali kami berhenti untuk istirahat sambil ngobrol-ngobrol. Beberapa obrolan yang membuat kami semakin akrab walaupun beberapa teman baru pertama kenal, misalnya obrolan ringan mengenai kuliahnya yang di episode akhir.

Rumah warga Desa Tae sudah terlihat di kejauhan yang berarti kita sudah semakin dekat ke rumah pak Karya sekarang saatnya pulang.

Salah satu bumbu manis dari sebuah perjalanan adalah bertemu dengan orang-orang baru yang tak terduga kadang kala, terkadang kita harus membuka diri agar bisa cepat akrab dengan orang-orang baru 🙂

Jadi, kapan main ke Bukit Tiong Kandang sambil ngos-ngosan?
Tabik, semoga bermanfaat ^ ^

More info
Bukit Tiong Kandang, Dusun Mangkit, Desa Tae, Kecamatan Balai (Batang Tarang), Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia.
Pak Karya – 081352601807

Be Sociable, Share!
  • Mister Pangalayo

    Bikin ngiler perjalanan kamu .... Next trip harus ksna.. infonya menarik...

  • Mirwan Choky

    Asik ya, rame2 bisa ke bukit ini.

  • Inspiring

    MasyaAllah,keren banget

    • Siti Mustiani

      makasih mas, kapan2 main ke Kalimantan yaa...

  • Wukuf Dilvan

    Salah satu alasan kenapa cinta Indonesia, keindahan alamnya selalu bikin ketagihan :D

  • Yuniarti

    Lucu namanya si Nanda Pramudia Agustina wkwk

    • Siti Mustiani

      Eh salah ya, Pramunia ya bukan Pramudia 😄

  • tanaman sawit

    Wih asik banget kelihatannya :)

    • Siti Mustiani

      Hehe, memang asik. Terima kasih sudah mampir :)

  • PIPIT

    g bisa pergi jauh-jauh? Tapi kok.. ini mah jauh, asli heran, jauhnya versi kamu itu kayak apa sih? penasaran.. soalnya temenku pernah bilang jangan main yg jauh, dia g kuat soalnya, ya udah kata g jauh itu sama dengan paling banter jarak 10 km naik motor

    • Siti Mustiani

      ahahaha... iya ya bingung juga sih, aku juga heran dengan diriku sendiri. tapi menurut aku sih kalo perjalanannya ga sampai berhari-hari sih itu berarti belum jauh 😊😊😊

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *