Pendakian Bukit Bawang 1471 mdpl – Djelajah Borneo

Tiga minggu yang lalu di sebuah coffee shop, aku ditantang untuk mendaki sebuah gunung bukit yang tinggi di Bengkayang yaitu Bukit Bawang. Saya yang waktu itu belum memiliki pengalaman mendaki di atas ketinggian 1000 mdpl menjawab dengan lantang “ayok !“, meski rasa panik kemudian berselimut. Apa mungkin saya yang belum memiliki pengalaman mendaki gunung bisa sanggup berada di sana.

Lagi, adalah kerugian yang amat sangat besar jika menolak suatu tantangan. Pengalaman yang selalu mengajarkan saya bahwa “You Only Live Once“, kalau bukan sekarang saatnya mencoba, kapan lagi ?

Perjalanan dari Pontianak ke Bengkayang, kami memilih menggunakan motor.

Perjalanan dari tim Djelajah Borneo kali ini dibagi menjadi dua tim yaitu tim pertama berangkat pagi dan tim kedua berangkat malam hari. Kalau aku ada di tim pertama

Pontianak – Bengkayang (5 jam)

Perjalanan dari Pontianak ke Bengkayang (27/10) masih terbilang aman karena cuaca yang tidak begitu panas, hutan tertutup dengan kondisi jalan yang agak basah, karena baru saja turun hujan.

Namun, perjalanan sempat terhenti sejenak karena adanya pohon tumbang di sekitar jalan Mempawah Hulu sekitar 15 menit perjalanan dilanjutkan kembali ke Bengkayang. Hingga tiba di Desa Suka Bangun Dusun Betung ternyata kondisi jalan masih tahap pembangunan, terlihat alat-alat berat berada di sekitar jalan sehingga jalan berlumpur tanah hingga rumah Bu RT.

Rumah Bu RT – Pos I Peltam (2 Jam)

Setelah menyelesaikan izin dan administrasi di rumah bu RT, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke POS 1 Peltam, kondisi jalan yang masih landai walaupun sedikit gerimis. Beberapa kali perjalanan kami terhalangi semak-semak, sampai folding knife milik Mayu terjatuh dan akhirnya hilang tanpa jejak hahaha *tenang mayu semoga diganti yang lebih bagus lagi.

Hingga sampailah kami di Peltam, Peltam ini adalah sebuah pondok yang digunakan warga sebagai Pembangkit Listrik namun kondisinya sudah tidak difungsikan lagi dengan maksimal. Kami beristirahat malam disini untuk mempersiapkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan besok paginya. Berharapnya tim kedua sudah sampai di peltam saat pagi.

Pos I Peltam- Pos II (4 Jam)

Masih dengan kondisi jalan yang sama, namun tanjakan yang ditemukan sudah semakin banyak. Bahkan beberapa kali kami menemukan tebing yang sangat juram, untuk naik kami harus menggunakan webbing yang dibantu sama Mayu dan Erwin, sempat terpeleset dan jatuh sih, tapi tenang kita mah tetap strong.

Selama trek pendakian ini akan ditemukan dua trek yang berbentuk seperti goa dimana kita harus jalan setengah membungkuk, disini harus berhati-hati karena bagian tebing ini merupakan jurang yang cukup jauh. Akhirnya kami tiba di Pos II dengan ketinggian 688 mdpl.

Di Pos 2 yang memiliki riam (air terjun) kecil ini kami kami istirahat, makan siang, disini kami tidak membangun dome/tenda cukup menggunakan flysheet saja.

Pukul 15.00 kami lanjutkan pendakian ke Pos 3.

Pos II – Pos III (4 Jam)

Jarak dari Pos II sampai pos III kami tempuh dengan waktu total 4 jam. Kira kira kalau di break-down waktunya seperti itu. Pos III adalah Pos yang memiliki sedikit sekali daerah landai. Pos dengan ketinggian sekitar 800 an mdpl ini satu-satunya pos yang tidak ditandai berupa tiang dan papan nama.

Pos III – Pos IV, Puncak Bayangan (90 menit)

Trek jalan sudah menukik tajam, bukan hanya tanjakan namun juga pendaki harus bisa memilih pijakan.

Perjalanan terberat selama pendakian Bukit Bawang. Tiga jam yang menguras emosi, trek pendakian semakin tertutup dengan kemiringan 60 derajat. Bagian paling menguji kesabaran dimana pendaki bukan hanya sekedar membawa badan mengikutin jalur, namun juga harus berfikir untuk memilih jalan. Ketika kami beristirahat di lokasi yang agak landai, hujan turun yang membuat perjalanan kami ke pos selanjutnya terasa semakin berat.

Dengan lahan yang sempit dan udara semakin sejuk. Saya dan team memutuskan untuk lanjut berjalan menuju ke Pos IV sembari mencari lahan kosong untuk istirahat sejenak.

Puncak Bayangan (1333 mdpl)

Memulai summit attack pada pukul 09.30, dingin yang menusuk tulang karena saat itu angin disertai hujan sangat kencang. Summit attack dengan kemiringan trek jalan 60 derajat dengan tekstur yang basah dan berlumut. Puncak Bayangan adalah check point terakhir sebelum mencapai puncak. Dinamakan Puncak Bayangan, karena ini adalah tempat tepat dimana seolah-olah kita sudah sampai puncak tapi belum, ternyata masih ada puncak lainnya.

Dan akhirnya sampailah kami di Puncak Bukit Bawang 1471 mdpl, karena sudah pukul 10 malam kami memilih untuk istirahat dengan cuaca yang sangat amat dingin. Kami ragu untuk keluar tenda kami masing-masing, karena cuaca yang cukup extrime. Saat pagi tiba, sebuah pemandangan yang di luar nalar untuk dinikmati. Sebuah susunan bongkahan bukit lainnya diatas lautan awan.

Hembusan angin yang juga menerpa. Matahari kian memunculkan sinarnya, sinar hangatnya bagai mendukung kami untuk lebih lama berada di puncak menikmati alam yang tersaji.

Perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata, haru yang tidak bisa di bendung oleh mata, apalagi saat tim kedua sampai di puncak rasa bangga yang tidak cukup di ungkapkan oleh sebuah teriakan. Saya yang tidak pernah bermimpi untuk berada di puncak akhirnya mampu berdiri di Puncak Bukit Bawang ini.

Aku masih ingat ketika masih di sekolah menengah, saya pernah meminta izin untuk mengikuti pendakian bersama ke Bukit Jamur. Angan tinggal angan, aku tidak pernah di izinkan karena gunung selalu di anggap tidak aman.

Hingga akhirnya saya berhasil membuktikan nya.

Mountains are safe, tell your loved ones that you will be home and bring the glory of the peak of mountain safely.

Be Sociable, Share!
  • Mukhsin Pro

    Sampai umur saya yang udah masuk 20 tahun ini belum juga pernah mendaki gunung. Harus saya coba juga nih, kelihatannya seru banget.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *