Tawang, Desa Terindah di Ketinggian Pegunungan Kalimantan Barat

Nan jauh di tengah belantara Pegunungan Kalimantan Barat, tersebutlah sebuah desa yang terletak di ketinggian sekitar 650 mdpl, tersembunyi diantara lebatnya hutan yang masih terjaga kelestarian alamnya.

Bagi penduduk setempat, hanya butuh waktu sekitar 4-6 jam untuk mencapai desa ini dari jalan terakhir yang bisa untuk dilalui oleh kendaraan bermotor di Desa TamongNamun bagi kami pejalan yang tidak terbiasa dengan kontur alam di gunung butuh waktu 9 jam untuk mencapainya.

Sebuah tantangan yang sangat luar biasa bagi kami tim Djelajah Borneo, trip kali ini kami tempuh terhitung enam hari dengan anggota tim yaitu Imam, Mayu, Yuni, Ikin, Ibed, Uji, Aku dan Erwin. Kalau kemarin aku sempat bilang perjalanan yang paling berkesan saat ke Desa Temajuk, nah ini lebih dari itu. Ini adalah perjalanan yang sangat amat berkesan, benar-benar nyentrik dan tidak dapat dilupakan *sedikit bocoran di Desa Tawang ada riam yang tingginya 200 meter.

Pontianak – Seluas, Bengkayang (8 Jam)

Hari Pertama, perjalanan dari Kota Pontianak hari kamis sore kami tempuh 288 km dengan waktu sekitar 7 jam 20 menit menuju Kecamatan Seluas. Sebelum tiba di Seluas sekitar pukul 19.30 kami singgah di Sungai Pinyuh, kebetulan malam itu adalah malam tahun baru imlek, kami sempat melihat beberapa parade perayaan imlek yang melewati jalan pinyuh. Ternyata perayaan imlek di sungai pinyuh tak kalah menariknya dengan perayaan di Kota Pontianak maupun di Kota Singkawang.

Di Sungai pinyuh kami bertemu dengan Febri dan Dodi, mereka memang sudah menunggu kami dan mereka juga mengantarkan kami sampai Anjungan. Perjalanan pulang nanti kami diajak untuk mampir ke rumahnya.

Setelah dadah dadah sama mereka berdua kami melanjutkan perjalanan ke Bengkayang, kemudian kami singgah di Pasar Bengkayang untuk istirahat sebentar dan mengisi tenaga. Saat di Pasar Bengkayang, Yuni menghubungi pak is, sekedar informasi singkat pak is ini adalah guide kami, sebelum keberangkatan kami yang diwakili yuni mengkoordinasikan perjalanan kami kali ini (akan saya ceritakan nanti tentang pak is).

Kami tiba di Kecamatan Seluas Jumat pukul 2 pagi, pak is dan bang obi (anaknya pak is) sudah menunggu di rumah salah satu keluarganya di seluas, kami istirahat malam di seluas dan mengatur strategi untuk perjalanan besok paginya.

Seluas – Desa Tamong (5 jam)

Pagi (16/2) kami melakukan packing ulang, setelah sarapan kami bertemu dengan Bapak Fidelis Kaneng merupakan Kepala Desa Tawang yang kebetulan sedang bertugas di Seluas. Saat pagi kami sempat mengobrol-ngobrol cukup banyak mengenai Desa Tawang, mengenai kondisi ekonomi, pendidikan, akses jalan yang sulit karena Desa Tawang ini menurut pak Fidelis Kaneng memang benar-benar desa yang terisolir.

Di Desa Tawang, terdapat beberapa RT yang setiap RT diberi nama yaitu Tawang Sikut, Tawang Tikam, Tawang Pening, Tawang Tubung dan Tawang Ngebo. Menurut Pak Fidelis Kaneng desa tersebut cukup tertinggal karena kondisi akses jalan yang sangat amat sulit. Untuk mengirim fasilitas saja sering terkendala saat proses pengiriman karena pembangunan jalan masih terkendala dengan pengiriman alat berat.

Kalau kita tahu pemerintah pernah melihat daerah Sungkung adalah desa yang paling terisolir namun saat ini daerah tersebut sebenarnya mudah diakses lewat Entikong melalui kendaraan darat dan air melalui sungai Sekayam, tapi sebenarnya Tawang lah yang paling terisolir, Tambah pak Iskandar. Pak Fidelis Kaneng berharap 10 tahun atau secepatnya proses pembangunan di daerah-daerah terisolir seperti di Desa Tawang ini dapat berkembang. Karena sebenarnya di Desa Tawang ini banyak sekali objek wisata alam yang bisa diexplore seperti pegunungan dan riam.

Beliau terlihat sangat senang karena ada komunitas pecinta alam seperti kami yang mau dan antusias mengexplore Desa Tawang ini. Karena kami adalah Komunitas pertama yang meng explore Desa Tawang  ini. Kami pun semakin semangat untuk melakukan ekspedisi kali ini setelah mendengar cerita dari Pak Fidelis Kaneng dan Pak Iskandar, padahal kami belum tahu jelas kondisi seperti apa perjalanan kami nanti. Setelah sarapan, packing selesai kami pun bergegas menuju Desa Tamong.

Kami harus ke Desa Tamong terlebih dahulu sebelum ke Desa Tawang. Perjalanan menuju Desa Tamong kami tempuh dengan kendaraan motor pukul 8 pagi dengan jarak antar desa sekitar 24 kilometer. Cuaca yang sangat cerah, jalan cukup kering namun berdebu karena kondisi jalan tanah kuning.

Perjalanan menuju Desa Tamong tak semulus yang kami pikirkan, karena daerah pegunungan merupakan daratan yang tidak rata, beberapa kali kami harus melakukan tanjakan, turunan dan melewati beberapa sungai, bahkan untuk melewati tanjakan kami yang dibonceng harus berjalan kaki dan ada juga sungai yang gak ada jembatannya jadi harus naik rakit.

Beruntungnya kami menemukan dua orang warga yang menyediakan penyebrangan menggunakan rakit, dengan rakit sederhana mereka menawarkan jasa penyebrangan untuk melewati sungai tersebut dengan biaya 10k/motor. Sedikit takut saat melewati sungai menggunakan rakit ini, karena rakit kecil ini dinaiki dua kendaraan motor sekaligus ditambah lagi arus sungai yang cukup deras.

Sebelum sampai di Desa Tamong, aku sempat kaget kok tiba-tiba kita ada di Desa Bengkawan. Ternyata sebelum sampai di Desa Tamong memang kita ke Desa Bengkawan dulu, halah… tak apa kami sempat beristirahat sebentar disini sekitar 5 menit. Kata Pak Is, Desa Tamong sekitar 30 menit dari Bengkawang, okey kita lanjut lagi perjalanan.

Ternyata kondisi jalan, becek dan berlumpur. Harus jalan kaki lagi dan lagi, aku sempat ngeluh manja capek gak mau turun dari motor dan akhirnyaa yah aku tercyduk alias jatuh dari motor, kaki sempat sakit karena tertimpa motor badan sulit bagun karena sambil bawa keril mayu.

Bergegas imam dan yuni menolong serta mayu juga terlihat panik, dan akhirnya kami sepakat untuk beristirahat sebentar di salah satu jembatan kayu yang sepertinya mulai rapuh dan rumput liar yang menjalar di sebagian jembatan. Saat istirahat aku melihat beberapa ibu-ibu bersama anak-anaknya (sepertinya warga desa Bengkawang) menyapa ramah kepada kami, mereka sedang menyusuri sungai mencari ikan.

Setelah istirahat cukup, lanjut lagi perjalanan dan sekarang matahari semakin terik seakan-akan kulit mulai terbakar. Dari sekian banyak tanjakan dan turunan, ada satu tanjakan tersebut yang paling extrime karena nanjaknya cukup jauh, miring banget, disiang bolong dan gak ada pohon. Ternyata ini adalah puncak gunung basung, woah saya naik gunung!

Sebenarnya sempat mau nyerah, nangis dan hampir pingsan disini (maaf kalau lebay, tapi ini serius), air yang saya bawa juga habis disini. Tapi beruntungnya pas lihat kebelakang dari tanjakan ekstrim ini pemandangan beehhh yaampun indah banget. Ada Erwin yang support terus buat naik tanjakan ekstrim ini, dia juga menukar keril dengan daypack dengan aku sehingga barang bawaan lebih ringan. Thank you Ewin 😀

Oh iya Erwin ini, sebenarnya gak ada rencana ikut ekspedisi loh. Awalnya kami memang bertujuh tanpa ewin, karena ewin masih harus menyelesaikan urusan kampusnya, tapi gak tau nya dia memutuskan untuk berangkat juga satu jam sebelum keberangkatan kami, setelah buru-buru bolak balik kampus, semangat ewin pun kami dukung kebetulan juga ada bang uji bermotor sendiri.

Kami tiba di Desa Tamong pukul 12 siang, di desa ini lah kami menitipkan kendaraan motor kami. Di Desa Tamong ini kami disambut baik oleh warga desa, kami diajak makan siang bersama mereka. Ternyata pak is dan bang obi membawa bekal makanan dari seluas untuk kami makan bersama, nasi dan lauk yang dibungkus daun pisang rasanya nikmat sekali.

Sekilas tentang Desa Tamong ini adalah salah satu desa yang berada diketinggian 492 mdpl (diukur menggunakan GIS Altimeter) merupakan bagian dari kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang, sebagian besar peduduk disini adalah petani lada.

Desa Tamong – Desa Tawang (9 Jam)

Memulai summit ke Desa Tawang pukul 1 siang diawali dengan barjalan kaki menyusuri jalan tebing bukit tanpa kerindangan pohon sekitar satu jam setengah dan itu benar-benar panas dan membuat kami dehidrasi.

Beberapa kali kami menemukan anak riam yang mengalir kecil, walaupun musim kemarau tapi air di daerah pegunungan ini tetap mengalir beberapa tim mencuci muka dan membasahi badan mereka, karena aliran air tersebut sejuk sekali.

Perjalanan kami dilanjutkan kembali pukul 14.30 dan baru mulai memasuki daerah hutan yang cukup rimbun, karena sebelumnya jalan yang kami tempuh dipanas yang terik. Beberapa kali melewati tanjakan dan turunan, harus ekstra hati-hati karena kadang jalan kami didaerah tebing, duduk pun demikian walaupun bukan musim hujan pacat tetap saja ada.

Sekitar pukul tiga sore salah satu anggota tim kami mengalami cidera, tiba-tiba kaki imam tergelincir yang membuat dia kesulitan berjalan terutama jalan tanjakan, karena keril yang imam bawa cukup berat, pak is pun yang akhirnya bersedia menggantikan imam membawa kerilnya. Terima kasih pak is *kata imam.

Kami tiba di perbatasan Desa Tamong dan Desa Tawang pukul 4 sore, perbatasan ini ditandai berupa plang sebatang kayu yang bertuliskan 1450 m. Kami terus berjalan melewati beberapa anak sungai diantaranya adalah Sungai Ayak, Sungai Sekayam, Sungai Kapuk dan beberapa anak sungai yang tidak diketahui namanya.

Perjalanan terus dilakukan oleh tim hingga hari mulai gelap, kami pun segera mengeluarkan headlamp yang kami bawa. Kemudian kami memutuskan untuk istirahat di anak sungai terakhir pukul 9 malam, karena perjalanan cukup panjang yang telah menguras tenaga kami, tempat istirahat kami kebetulan sangat dekat sekali dengan sumber air kami pun sepakat untuk mengeluarkan logistic kami untuk makan malam.

Setelah berjalan kaki mendaki beberapa gunung dan menyeberangi beberapa sungai maka tibalah kami pukul 10 malam di Desa Tawang, Desa yang terletak di tengah-tengah beberapa pegunungan yaitu Sunjang, Bengkarun, Niut dan Berambangan semua pegunungan tersebut terlihat jelas dari Desa Tawang saat pagi desa ini termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ketika kami tiba di Desa Tawang, tepatnya Tawang Pening, kami disambut oleh warga desa tawang, kami pun bergegas mengemasi barang-barang, sebagian tim ada yang langsung mandi dan sebagian lainnya langsung istirahat malam. Aku pribadi mandi dan langsung tidur paling awal, ketika semakin larut malam udara mulai terasa dingin sehingga kami harus tidur dengan jaket, kupluk dan sleeping bag.

Begitu bangun pagi (17/2), udara pun masih dingin aku keluar sekedar ingin lihat-lihat sendiri karena teman yang lain masih tidur tanpa membawa kamera. Pas keluar sebentar, aku berlari masuk lagi ke dalam rumah bukan karena takut tapi aku masuk lagi untuk mengambil kamera dan membangunkan teman-teman lainnya. Benar saja, sunrise yang cantik tepat ada di depan rumah.

Mentari pun terbit dengan malu-malu, rasanya hati ini deg-degan ketika warnanya mulai terlihat jelas. Sunrise di Desa Tawang & pagiku yang sempurna.

Yang menjadi keunggulan dari desa ini adalah hamparan pegunungan yang terhampar hijau sebagian awan menutupi permukaan tanah, batu-batu yang gunung yang berserakan menambah keindahan panorama desa ini. Udara yang sejuk dan bebas dari polusi membuat semakin betah lama-lama di tempat ini.

Cukup sulit memang membangunkan teman-teman yang lain di hari pertama, sayang sekali mereka tidak sempat melihat keindahan sunrise di depan rumah kali ini, yang berhasil aku bangunkan hanya bang ikin dan bang ibed walaupun dengan wajah ngantuknya mereka berdua. Tak apa masih ada besok, pokoknya besok pagi aku harus berhasil membangunkan mereka semua lebih pagi lagi dan membuat timeslapse.

Suku Dayak Banaeh yang mendiami desa ini akan menyambut dengan setiap kedatangan tamu yang datang ke tempat mereka, namun selama ini hanya para petugas kesehatan dan guru yang sering datang ke sini, hanya sedikit pecinta alam bahkan wisatawan yang pernah datang karena medan berat yang harus dilalui.

Mereka tinggal di rumah-rumah mereka yang sederhana yang terbuat dari bahan yang tersedia melimpah di sekitar desa, sebagian masih berdinding berlantaikan bambu, namun sebagian sudah terbuat dari kayu dan beratapkan seng.

Penginapan kami di Tawang Pening, jika kalian mencari hotel berbintang atau akomodasi eksklusif, kalian tidak akan pernah menemukan ini di Desa Tawang ini. Cara terbaik untuk merasakan Desa Tawang adalah dengan menghabiskan malam dengan penduduk setempat dimana kita dapat menjadi bagian dari cara hidup lokal.

Desa Tawang – Riam Nyen (4 Jam)

(17/02) pukul 8 pagi. Semua teman-teman sudah bagun, kami ngopi-ngopi dan sarapan pagi bersama pak is, bang obi dan temannya bang obi yaitu bang nus. Rencananya pagi ini kami akan mengunjungi Riam Nyen yang terletak tidak jauh dari desa tawang (iya tidak jauh, tapi kami menempuhnya dengan berjalan kaki hampir 4 jam, hahaha).

Perjalanan dimulai pukul 09.00 pagi, tidak terlalu banyak barang yang dibawa hanya beberapa keril yang diisi dengan flysheet dan logistic saja. Selama perjalanan konstur pendakian tetap sama saat kami menuju desa tawang kemarin, naik turun tanjakan, melewati beberapa anak sungai ditambah pacat yang lebih banyak.

Di perjalanan menuju Riam Nyen, bang nus menemukan beberapa buah hutan dan memberikan kepada kami untuk mencobanya, buah yang sebelumnya belum pernah kami makan yaitu buah tepuk, buah ini tumbuh alami di hutan sekilas seperti buah hutan biasa pohonnya pun nyaris sulit untuk dibedakan dengan pohon lainnya. Rasa buah tepuk ini manis sedikit asam, menurut beberapa teman yang mencoba rasanya hampir mirip dengan markisa namun dengan ukuran yang lebih kecil.

Ada lagi buah mirip bunga yang kami coba, rasanya manis tapi dengan ukuran yang lebih kecil namun aku lupa apa nama buah tersebut. Beberapa hewan juga ditemui misalnya Kumbang Capit atau Kumbang Tanduk Rusa ukurannya cukup besar.

Tidak terlalu lama untuk kami istirahat di beberapa air sungai yang mengalir, kami melanjutkan perjalanan menuju Riam Nyen, suara aliran air yang semakin terdengar jelas membuat kami semakin semangat untuk terus berjalan. Akhirnya kami tiba di Riam Nyen pukul satu siang. Rasa lelah selama empat jam perjalanan pun terbayarkan.

Riam Nyen ini dulunya memiliki ketinggian sekitar 100 meter, airnya tidak langsung jatuh kebawah karena terdapat banyak bongkahan batu yang besar. Batu-batu besar tersebut ada yang memiliki permukaan yang cukup rata sehingga kami bisa duduk di atasnya, dari Riam Nyen ini kita juga disuguhi pemandangan beberapa bukit didepannya.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari pak is dulu sekitar tahun 2000an Riam Nyen pernah mengalami bencana longsor karena curah hujan besar sehingga debit air yang turun bersama batu-batu pecah bahkan sempat menghantam beberapa rumah warga di sekitar desa tawang. Sehingga riam ini tidak terlalu tampak 100 meter.

Kami menikmati air terjun dengan mengexplore riam lebih dekat, bang ikin tanpa basa basi langsung mandi, foto-foto, sontak kami sempat lupa kalau sudah waktunya makan siang. Ternyata bang obi dan bang nus sudah membuat api dan memasak nasi menggunakan bambu, ini pertama kalinya saya makan nasi yang dimasak secara tradisional, kami pun bergegas mengeluarkan kompor, membentangkan flysheet dan masak sayur serta lauknya.

Masak Nasi Pakai Bambu

Makan siang kami sungguh nikmat, setelah lelah berjuang di perjalanan tiba saatnya kami menikmati makan siang bersama teman-teman dengan view yang indah. Kami makan ikan sarden, mie goreng, kol dan wortel saus kacang dengan nasi bakar buatan bang nus, beehhh. Ada juga buah timun yang rasanya mirip buah melon. Setelah makan siang, beberapa teman dapat tidur siang cukup lama di Riam Nyen ini, oh iyaa saat mereka sedang tidur aku sempat dikagetkan karena bang uji melihat darah di bagian lutut ku, wahh sempat panik ternyata aku sudah digigit pacat cukup lama, pacatnya hilang mungkin sudah kenyang.

Setelah puas menikmati keindahan Riam Nyen dan mengambil beberapa foto dan video untuk dokumentasi, kami mengemasi barang-barang kami membersihkan lokasi makan siang kami dan memastikan tidak ada barang ataupun sampah yang tertinggal.

Kami kembali ke Desa Tawang, jam setengah 5 sore, jalur pulang kami sedikit lebih cepat dari pada jalur pergi. Ternyata untuk lajur pulang bang nus dan bang obi membuka jalur baru menuju desa tawang, memang lebih cepat tapi kami harus berhati-hati karena jalan yang kami lewati masih baru dan sangat semak ditambah lagi hari juga gelap. Kami tiba di penginapan Desa Tawang pukul 8 malam, segera mandi dan istirahat malam.

Saat malam satu lagi bonus, sekitar pukul 10 malam ketika kami keluar rumah jutaan milky way atau Bima Sakti terlihat jelas tepat ada di atas langit-langit di Desa Tawang ini. Jadi, Milky Way adalah kumpulan bintang-bintang utama dalam rasi bintang yang ditandai dengan penampakan seperti bayangan di tengah yang dikelilingi oleh semacam cahaya “aura” cemerlang. Pemandangannya cantik sekali, lagi-lagi kami mencoba untuk mengabadikan, kali ini menggunakan hanphone milik bang ikin (bang ikin nya udah tidur, gak sempat lihat milky way), kami foto dengan efek kamera menggunakan ISO tertinggi.

Tidak terlalu banyak foto terbaik yang kami dapatkan karena membutuhkan waktu cukup lama ketika kami harus foto bersama yang dibantu dengan tripod. Udara semakin dingin, walaupun sudah menggunakan jaket outdoor. Kami kembali ke rumah dan istirahat malam pukul 11.30. Dengan tidur selarut malam itu, berharap besok pagi dapat bangun pagi untuk menikmati sunrise dan membuat timelapse.

Desa Tawang – Tawang Sikut (60 menit)

(18/02) Bersyukur sekali kami dapat bangun pagi dan saya berhasil membangunkan mereka semua dan imam pun membuat timelapse selagi menunggu video timelapse sekiatar 30 menit kami pun berfoto-foto ria, menikmati hangatnya sang mentari pagi dan ngobrol bersama penduduk Desa Tawang.

Saat pagi terlihat beberapa warga melakukan aktivitas, ada bapak-bapak yang bersiap berkangkat ke kebun, ibu ibu menumbuk pagi, anak kecil main-main di sekitar halaman rumah, ada juga anak perempuan yang menggendong adiknya yang masih kecil. Loh kok anak-anak ini gak sekolah ya, baru sadar kalau hari ini adalah hari minggu. Ngomong-mongomong tentang sekolah nih ya, di Desa Tawang ada satu sekolah yang rencananya hari ini akan kami kunjungi bersama pak is, yaitu SD Negeri 05 Tawang Tikam. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit berjalan kaki dari penginapan kami ke sekolah tersebut.

Sebenarnya destinasi kami hari ini adalah mengunjungi Riam Nyamur, tapi karena aku juga penasaran dengan sekolah di Desa Tawang ini aku dan yuni berniat pergi lebih pagi, ternyata bg ikin, erwin dan bg uji juga mau ikutan ke sekolah. Yaudah, kita pergi berlima sama pak is, dan lainnya imam, mayu dan bg ibed nanti akan menyusul langsung ke Riam Nyamur bersama bang obi (sebenarnya mereka bertiga tidur lagi).

SD Negeri 05 Tawang ini satu jalur dengan rumah keluarganya pak is di Tawang Sikut, kami melewati bebeberapa gereja yang sepertinya sedang melakukan kegiatan ibadah.

Kami tiba di SD Negeri 05 Tawang pukul 9 pagi, sekolahnya terlihat bersih dan sepi, karena gak ada pagarnya kami mencoba masuk ke lorong sekolah. SD Negeri 05 ini memiliki halaman cukup luas, lingkungan yang sangat bersih. Saat kami melihat-lihat kondisi sekolah, melihat-lihat beberapa foto di dinding sekolah eh ada fotonya bang obi, ternyata bang obi ini salah satu guru juga di sekolah ini. Tidak lama tiba-tiba ada seseorang keluar dari selasar ruang guru, sempat kaget sih. Ternyata beliau adalah salah seorang guru di SD tersebut, namanya Bayu, terlihat masih cukup muda, herannya saya dia bicara pakai logat jawa, lah.

Saat ngobrol beberapa menit bersama Mas Bayu (saya manggilnya ‘mas’ karena keliahatan masih muda dan orang jawa pula), Mas Bayu adalah guru kelas 1, 2 dan 3 SD Negeri 05 Tawang Tikam yang berasal dari Jawa, mengajar semua mata pelajaran sudah mengajar disini sekiar 1 tahun lebih. Beliau cerita tentang kondisi sekolah anak siswa-siswanya, anak-anak disini memiliki semangat belajar yang sangat tinggi, bahkan mereka sedih jika sekolah diliburkan *hiks aku terharu.

Ada empat guru dari luar daerah satu orang dari Jawa (ya Mas Bayu), kemudian satu dari NTT dan dua lagi dari Landak. Kami tidak sempat bertemu guru yang lainnya karena sekolah sedang libur, sontak aku berpikir mereka jauh sekali datang ke desa untuk mengajar di sekolah ini, pengabdian mereka patut untuk diacungi jempol karena tidak mudah untuk datang Desa Tawang ini. Karena aku pribadi juga seorang guru di sekolah swasta, aku jadi ingat dengan kondisi sekolah ini karena jauh berbeda dengan kondisi di sekolah tempat saya mengajar. Aku yang kadang sering ngeluh malas-malas berangkat mengajar, pergi sekolah buru-buru cuma gara-gara agar tidak terlambat, tapi sekarang jadi lebih semagat untuk ke sekolah lebih pagi, bukan hanya sekedar buat absen finger print.

Kami melihat-lihat kondisi sekolah lebih lama setelah izin dari Mas Bayu, kami masuk ke kelas-kelas, perpustakaan, mengintip ruang guru. Papan tulis hitam dan kapur yang masih meninggalkan tulisan lagu ‘naik naik kepuncak gunung‘, kelas tersebut adalah ruang kelas 1, teman-teman lainnya duduk bak siswa yang siap belajar. Rasanya sudah lama sekali tidak menjadi siswa sekolah dasar. Kamipun berpura-pura belajar mereka bertiga (bg ikin, erwin dan yuni) jadi siswanya, aku jadi gurunya dan bg uji asik merekam kami menggunakan kamera yang ia pegang.

Setelah puas puas bernostalgia, pak is mengajak kami ke rumah keluarganya di Tawang Sikut, kami berjalan sekitar 40 menit lagi dan sampailah di rumah keluarganya pak is. Kami makan siang disana, tidur sebentar dan main-main sama anak-anak disana. Oh iya selama perjalanan ternyata pak is sambil membuat cincin yang terbuat dari batang rumput rasam, satu persatu kami dibuatkan cincin tersebut, bahagia sekali.

Resam atau paku andam (Dicranopteris linearis syn. Gleichenia linearis) merupakan jenis paku/pakis yang besar yang biasa tumbuh pada tebing-tebing di tepi jalan di pegunungan. Tumbuhan ini mudah dikenal karena peletakan daunnya yang menyirip berjajar dua dan tangkainya bercabang mendua (dikotom) – Wikipedia

Beberapa teman dibuatkan dua sampai tiga cincin loh, selain dijadikan cincin, pak is juga membuatkan saya satu gelang (ini spesial, karena cuma aku aja yang dibuatin gelang, hehe *pamer).

Kami tiba di rumah keluarganya pak is pukul 10 pagi, ternyata pemandangan disini bagus banget. Gunung Niut yang tingginya 1701 mdpl terlihat jelas dari ini. Beberapa kali erwin bilang ‘yuk, ke gunung niut’ memang gunung tersebut terlihat dekat, tapi kata pak is membutuhkan waktu satu hari untuk sampai di gunung tersebut. Tambah lagi gunung niut merupakan gunung yang dilindungi melalui Cagar Alam Niut-Penerissen (CAGN-P). Jadi tidak sembarangan orang bisa ke gunung niut.

Dari beberapa informasi yang didengar, Gunung Niut merupakan gunung vulkanik purba tak aktif di Indonesia. Di wilayah ini tersusun atas Formasi Gunung Api Niut dengan batuan Basalt, Plistosen–plistosen, Kapur dan Intrusif serta Plutonik Basa. Orang-orang yang naik ke gunung niut biasanya dengan tujuan penelitian.

Tawang Sikut – Riam Nyamur (3 jam)

Makan siang pun tiba, kami disuguhi oleh keluarganya pak is nasi panas, sayur labu, sambal cabe gunung dan ikan asin asap yang rasanya tuh behh extraordinary banget. Sempat tidur sebentar, oh iya disini sebenarnya aku sempat demam sedikit, tapi setelah bangun tidur jadi agak mendingan. Perjalan ke Riam Nyamur di-ayok kan. Perjalanan menuju Riam Nyamur mulai pukul 12 siang, ternyata yang mau ikut ke lokasi ramai banget, ada Mas Bayu dan temannya, anak-anak desa tawang pun juga ikutan, seru sekali. Tapi serius, mereka jalannya cepat, kami tertinggal cukup jauh.

Mulai masuk daerah hutan, tiba-tiba langit mendung hampir sepanjang jalan kami kehujanan. Untungnya kami masing-masing membawa jaket outdoor yang waterproof. Handphone dan kamera diamankan oleh bg uji, jadi selama perjalanan ke Riam Nyamur tidak sempat untuk mengambil gambar. Kami memasuki beberapa hutan bambu, kebun lada, ladang padi, menyurusi banyak aliran sungai, jembatan yang terbuat dari bambu yang disimpul dengan ijuk. Behhh exotic sekali.

Tentang Jembatan Gantung di Desa Tawang, dibekali keterampilan turun menurun, penduduk Desa Tawang ternyata mampu membangun jembatan gantung dengan panjang rata-rata 50 meter atau sama dengan lebar sungai sekayam yang merupakan sungai utama di tempat mereka. Tentu saja jembatan yang mereka bangun tidak terbuat dari material besi dan beton, melainkan menggunakan material lokal yang banyak terdapat disekitar mereka yaitu berupa bambu, kayu dan ijuk (nau) yang diolah sebagai bahan pengikat. Uniknya lagi abutment (pondasi bawah) dan tiang pylon (menara penyangga) jembatan dipilih dari pohon hidup yang terletak sejajar pada kedua belah bibir sungai. Biasanya pohon yang dipilih adalah pohon sengkuang (Dracontomelon Dao) dan pohon bugur (Lagerstroemia Indica).

Pukul 14.00 tiba lah kami di Riam Nyamur, saat sampai di lokasi ternyata Mayu, Imam dan bg Ibed udah sampai duluan lebih lama dari kami, bahkan mereka dapat makan ikan bakar buatan anak-anak desa tawang yang sudah sampai lebih dulu bersama mereka.

Karena habis hujan, debit air Riam Nyamur cukup deras, Riam Nyamur ini tidak terlalu tinggi dibandingkan Riam Nyen, namun lebih lebar terdapat goa diatasnya (saya, yuni dan bang ikin sempat melihat-lihat kedalam goa), terdapat kolam di bawah Riam Nyamur ini, airnya cukup dalam untuk berenang. Aku diajak yuni untuk berenang dan naik ke atas air terjun tersebut, masuk di balik air terjun, sebenarnya aku gak mau karena aku udah kedinginan, tapiii kapan lagi coba? hahaha aku pun mengikutinya berenang, manjat-manjut pinggir riam untuk sampai ke atas. Si Yuni ini memang perempuan yang paling strong dibandingkan aku, paling berani dan paling cerewet. Finally!! aku sampai di atas dan lupa kalau tadi demam.

Kami main air puas puas, foto, buat video, berenang dan bersiap kembali ke desa. Jalan menuju pulang ke desa tawang cukup santai, karena kaki imam masih sakit, si imam ini sebenarnya pria petualang yang strong namun yaahh karena kakinya cidera, dimaklumilah. haha… gak biasanya sih dia kayak gini.

Mulai pukul 4 sore kami kembali ke Desa Tawang, ternyata jalur pulang berbeda jadi tidak selama jalur pergi (mungkin karena perjalanannya dari rumah keluarganya pak is di Tawang Sikut kali ya, jadi jalannya muter gitu) cukup dua jam perjalanan dan kami sampai desa sekitar pukul 5 sore. Sandal jepit yang dipakai bang uji putus pas pulang, ya iya lah dia pakai sendal suwallow bukan sendal gunung. Sampai di desa, setelah mandi kami bertemu anak-anak yang sedang asik bermain, mereka masih malu-malu saat disapa dan diajak foto bareng kami.

Hari mulai malam, kami semua berkumpul di rumah, saat itu adalah malam ketiga kami di Desa Tawang sekaligus malam terakhir, karena berpikir akses pergi yang memakan waktu seharian untuk sampai ke seluas kami berencana untuk pamit besok pagi agar pulang ke Pontianak tidak terlalu lama. Ohya saat malam itu ada usulan dari salah satu teman, untuk menguji sikap ego kami masing-masing yaitu tidak menguplaod atau share foto yang berhubungan selama ekspedisi di Desa Tawang ini ke sosial media. Boleh share ketika video yang kami buat telah selesai, wah ini tantangan banget terutama bang ikin (soalnya dia yang paling up to date kalo soal upload di sosial media) kami pun menyetujui semua, dengan perjanjian yang melanggar harus mentraktir kami makan di Abang Kepiting tiga hari berturut-turut. Jadi jangan heran, kalau banyak yang bertanya-tanya perjalanan kami kali ini kok gak keliatan fotonya.

Tak lama saat bang ikin cerita tentang SD di Desa Tawang, ada beberapa anak-anak ikutan nyanyi. Nah, saat itulah kita ajak ngumpul anak-anak itu, kenalan satu per satu, nanya cita-cita dan jawaban mereka ada yang pengen jadi dokter, guru, bahkan satpam kami juga main games dengan beberapa pertanyaan (bang ikin kasi kue yang jawab pertanyaan dengan benar dari saya) seru sekali. Mereka terlihat antusias, cepat menerima dan mau bernyanyi, berbagi keceriaan bersama tanpa canggung, meskipun ada yang malu-malu. Suasana hangat pun hadir disekeliling kami, yang biasanya sibuk bermain handphone masing-masing kali ini kita benar-benar lupakan itu, kalau di kota jarang sekali terjadi saat seperti ini.

Itu adalah malam yang paling berkesan selama aku ikut traveling bersama Djelajah Borneo ini, apa lagi ketika mereka bernyanyi dua lagu yaitu lagu sebutlah lagu Mars SD Negeri 05 Tawang dan satu lagu kami gak tau lagu siapa, mungkin sedang populer di Desa tawang dengan judul ‘detik ini’. Liriknya buat kami tersentuh mendengarnya, bahkan bang ikin bisa nangis (nanti dengarkan lagunya di video ya). Bakalan rindu pastinya dengan suasana di Desa Tawang, tapi sebenarnya juga rindu pulang ke rumah karena sudah 5 hari gak pulang.

Kami istirahat lebih awal karena mengingat besok pagi harus berjuang untuk pulang dan butuh banyak tenaga.

Desa Tawang – Desa Tamong (6 Jam)

(19/02) bangun pagi, melihat anak-anak di Desa Tawang mulai berangkat sekolah menyapa kami. Bahagia sekali mereka semangat berangkat, kami pun ajak foto sebentar. Saat itu mungkin mereka belum tahu bahwa pagi itu juga kami harus pergi dari Desa Tawang, mereka pamit berangkat sekolah seakan-akan pulang sekolah akan bertemu dan bermain lagi bersama kami seperti tadi malam. Mereka dadah-dadah dan hi five! bahkan ketika mereka sudah berjalan jauh pun masih say good bye “dadah kakak, dadah abang…” suaranya kecil terdengar, sedih, pengen nangis rasanya.

Kami pun mulai packing sarapan pagi terakhir di Desa Tawang dan berpamitan dengan warga, kami salaman  ucapkan banyak-banyak terima kasih atas keramahan, kehangatan, kekeluargaan, makasih untuk warga desa yang setiap hari buatin sarapan dan makan malam untuk kami. Terima kasih juga untuk keindahan alamnya.

Setelah pamitan, kami pun memulai perjalanan pulang kami pukul 9 pagi, kami kembali ke Desa Tamong tanpa bang obi, selama perjalanan pulang seperti biasa sama jalurnya dengan jalan pergi naik turun tanjakan, melewati tebing-tebing, sungai dan hutan yang rindang. Pukul 12 kami istirahat makan siang selama satu jam. Beberapa buah lagi kami temui di perjalanan seperti tebu dan buah tampui. Perjalanan cukup panjang, hingga sandal gunungnya bang ikin sampai putus tidak bisa digunakan lagi. Untungnya aku bawa sendal lebih, dan cukup muat dipakai sama bang ikin.

Desa Tamong – Seluas (5 Jam)

Sampai di Desa Tamong pukul 3 sore. Kami mulai mengatur strategi kendaraan kami, karena pak is kembali ke tamong tidak besama bang obi jadi salah satu motor kami harus tanjal tiga untuk perjalanan ke seluas. Dengar kabar juga kalau beberapa waktu lalu di Desa Bengkawan sempat turun hujan, waahh ternyata perjalanan pulang diluar ekspetasi kami. Benar saja, jalan berlumpur siap mengotori perjalanan kami selama kurang lebih 4 jam, jalan yang licin membuat motor kali sulit untuk dikendalikan, apalagi ketika turunan, rem nyaris tidak berfungsi, satu per satu motor turun tanjakan dengan bantuan teman-teman dengan cara ditahan. Sungguh perjuangan sekali, hingga hari mulai gelap lagi.

Sungai di Bengkawan yang kami melewatinya harus naik rakit, karena sudah malam tidak ada petugasnya sehingga semua para laki-laki turun ke dalam sungai untuk menyebrang. Mereka masuk ke dalam sungai sambil membawa headlamp satu per satu motor dinaikkan ke atas rakit, tarik-tarik tali tengah malam, bolak balik karena harus menyebrangkan keril-keril, saat itu gelap dan arus sungai cukup deras. Sepertinya mereka keasikan nih main airnya, kok lama naiknya.

Akhirnya mereka naik, dengan baju basah mereka kami pun melanjutkan perjalanan. Perkiraan jalan masih becek, ternyata malah berdebu sepanjang jalan kami menghadapi debu yang membuat jalan nyaris terlihat. Hingga akhirnya kami mengemukan aspal, wahh teman-teman berteriak. Yah! akhirnya kami menemukan aspal, entah terasa rindu sekali dengan aspal, ahahaha.

Kami pun tiba di rumah keluarganya bang obi di Seluas, kami mandi, bersih-bersih dan alhamdulillah dapat nasi bungkus pula, gratis. Malam itu kami juga diajak untuk istirahat di rumahnya pak di Desa Sahan, berangkatlah kami ke Desa Sahan, dulu kami pernah kesini juga waktu ke Riam Berawan. Kata pak is, 15 menit sampe rumahnya, ehh taunya hampir satu jam juga. Gak ngerti dah mungkin orang-orang disini ngukur jalan lebih cepat daripada kami, atau mereka memang jalannya cepat sekali. Perjalanan menuju rumah pak is kami melewati banyak kebun, diantaranya kebun jagung dan kebun lada.

(20/02) Kami istirahat di rumah pak is, rumahnya cukup luas untuk kami istirahat malam. Teman-teman pun tidur sangat pulas, lagi-lagi aku terbangun terlalu pagi. Membangunkan yang lain nya pun aku sepertinya enggan melakukan itu, saya pergi ke dapur dan bertemu dengan istri dan anak-anaknya pak is yang bersiap untuk berangkat sekolah. Istri pak is ramah sekali, bang ikin kemudian bagun kami makan pisang yang baru dipetik dari kebun.

Pagi ini cukup lama kami masih stay di rumah pak is, bahkan pak is sempat mengajak kami untuk mengunjungi Riam lagi, namun kami memutuskan untuk tidak meng-iya kan, pak is sudah tertalu baik, kami juga memikirkan kesehatan pak is, mungkin dilain hari kami akan mengunjungi pak is lagi dan bisa explore riam lebih banyak lagi.

Kami pun berpisah, pamitan dan akhinya sayooonaraaa… 🙂 terima kasih atas perjalanan dan pengalaman yang luar biasa.

Tepat jam 10 pagi, aku dan kawan-kawan menyudahi perjalanan di Desa Tawang. Aku membawa oleh-oleh rasa bahagia dan bangga kembali ke Pontianak, dan saat ini bisa kuceritakan untuk pembaca yang mencintai tulisanku. Pada akhirnya, aku memendam optimisme yang tinggi akan bukit, air terjun (riam) sebagai tempat wisata yang harus dijaga kelestariannya untuk masa depan yang cerah tentang Indonesia, salah satunya dari Desa Tawang, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang Indonesia.

Gimana? mau di rumah saja, atau jalan-jalan ke Desa Tawang? Keep exploring, jangan lupa makan, biar jalan-jalannya kuat. Aha!

More Info Destinasi Desa Tawang

Desa Tawang, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat
Info lebih lengkap, hubungi: Pak Iskandar Bi
Nomor ponsel: +6812-5644-3896

Eits tulisan ini belum selesai, selama perjalanan banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan hampir seminggu bayak suka dukanya bersama mereka (Imam, Mayu, Ibed, Yuni, Ikin, Erwin dan Bang Uji) tidak lupa Pak is dan bang obi. Kali ini aku pengen cerita tentang mereka selama expedisi di Desa Tawang ini (sekali lagi ini menurut sudut pandang saya ya):

Khairul Imam, hei Ketua Komunitas Djelajah Borneo ini sempat ragu saat mau berangkat, karena sebelum berangkat dia sedang tes masuk kerja di salah satu bank di Pontianak, apa jadinya kalau saat expedisi dia ada panggilan kerja. Ternyata dapat informasi setelah tes masuk pengumuman akan diumumkan tiga minggu setelah tes, nah expedisi pun dijadikan oleh beliau. Imam mengumpulkan kami-kami saat briefing mengkoordinasikan jadwal keberangkatan, perlengkapan dan lain-lain. Selama ekspedisi imam awalnya cukup strong, dan ternyata dia tumbang juga karena kakinya cidera, kasihan sekali imam. Tapi imam orang yang paling membantu di bagian dokumentasi.

Ibed Febriadi, bertugas sebagai tim medis, walau pun dia juga butuh dimedis, pas mau berangkat sempat sakit, tapi kalau udah nge-explore hujan hujan pun tetap lanjut. Keliahatannya dia senang sekali berinteraksi dengan anak-anak di desa tawang. Hal yang paling tidak terlupakan menurutnya  adalah sambal gunung, yak katanya nikmat sekali.

Mayu Andriansyah, orang ini gayanya yang paling adventure banget dengan rambut gondrong yang diikat sambil bawa pisau outdoor nya kemana-mana. Dia termasuk orang yang paling cepat tanggap kalau ada teman kenapa-napa, kayaknya dia sempat panik waktu aku jatuh dari motor (tapi itu gara-gara dia juga sih). Hal yang paling aku ingat juga saat pulang dari Desa Tawang menuju Desa Tamong, mayu bantuin yuni buat manjat pohon sampai kepalanya diinjak sama yuni. Wkwk

M. Uji Irawan, aku baru kenal sama bang uji ya di trip kali ini walaupun dulu pernah ngetrip bareng juga sih di bukit bahu. Walaupun bukan anggota inti Djelajah Borneo bang uji orang yang paling siap tanggap, paling jago kalau soal masak nasi keril bawaan nya yang paling berat karena bawa aki dengan berat 2 kg (belum lagi dengan barang tim yang lainnya). Bang Uji ini orang yang paling peduli, sering kasi semangat kadang nanya “ncek kuat? ncek bisa? ayoo ncek ncek pasti bisa“. Dia juga orang yang pertama tau kalau kaki aku berdarah kena pacat pas di Riam Nyen, juga orang yang pertama kali tahu kalau aku demam pas di Desa Tawang Sikut. Oh iya jaket outdoor yang aku pakai selama ekspedisi kali ini punya bang uji, hehe makasih bang uji (jaketnya belum mau pulang kayaknya).

Yuni, nih anak tau dong strong nya kayak gimana, bawa keril dari pergi sampe pulang, Hahaha, dia adalah orang yang berperan paling penting di ekspedisi kali ini, karena dia adalah navigasi selama perjalanan di desa tawang ini mulai dari keberangkatan hingga pulang lagi ke Pontianak. Saya berkata demikian karena yuni lah satu-satunya yang berkoordinasi dengan pak is. Dia jalannya laju posisinya selalu di depan, itu kadang buat saya kadang iri dan mengaku kalah. Hahahaha, tapi tetap sayang deh sama anak ini.

Erwin Jumandiar, anggota paling muda dari kami berdelapan aha mendadak ikut expedisi ini karena sebelum berangkat dia masih sibuk dengan urusan kampusnya. Awalnya kami bertujuh jadi berdelapam karena ada Ewin. Erwin yang strong bawain ceril aku, padahal akunya udah dibilangin jangan bawa keril hahaha. Erwin selama perjalanan tidak pernah meninggalkan solat lima waktunya dimana pun dia berada, *salute.

Ikin, abang yang paling jago soal masak, paling banyak bawa makanan, nggak khawatir kelaparan selama diperjalanan kalau ada bang ikin ini. Bang ikin ini hatinya sangat lembut sekali, sempat sedih pas nyanyi bareng anak-anak di Desa Tawang. Di perjalanan bang ikin suka nyanyi-nyayi, sehinggga perjalanan tidak suntuk, hahaha.

Pak Iskandar, adalah ketua RT di Dusun Mensibu Desa Sahan. Beliau adalah orang yang paling mudah bersosialisasi dengan warganya begitupula kepada kami para pendatang. Sambutan beliau yang sangat istimewa membuat kami merasakan kehangatan besar hati beliau. Kesukaan pak is terhadap surga-surga tersembunyi yang ada di daerahnya tersebut membuatnya ringan mengantarkan kami ke tempat tujuan dan memberikan informasi mana saja yang harus kami kunjungi. Pak is juga sangat menyukai aksesoris seperti anyaman dari rotan maupun resam. Disepanjang perjalanan beliau mencari resam untuk dibikin cincin “sebagai kenang kenangan yang bakal dibawa pulang ke rumah”. Bahkan, dirumah pak is kami juga merasakan kehangatan sambutan keluarga kecilnya, “kami disini memang seperti itu walaupun hanya apa adanya kami tidak membolehkan tamu yang datang dan pergi dari sini dengan keadaan kelaparan“, itu pesan yang diingat dari beliau. Tak terasa beberpa hari telah berlalu setelah kami beranjak dari desa beliau dan dengan komunikasi pesan singkat kami tetap menjaga silaturahmi dengan beliau. Sekali lagi terima kasih pak Iskandar dan keluarga terutama bang Obi dan Istrinya pak is.

Tulislah di kolom komentar dibawah ini kalau kalian membaca tulisan ini 🙂 . Sekali lagi terima kasih semuanya, pengalaman yang benar-benar tidak dapat dilupakan. See u next trip!

Be social share!
  • bambang

    mantap . ini yang ku cari, seseorang yang mau menulis artikel tentang desa tawang

    • Y_uwan

      Cek terbaikss

    • Siti Mustiani

      terima kasih banyak bang obi, terima kasih juga atas perjalanannya