Hammock and Camp di Hutan Kiwi, Kubu Raya

Hammock atau hammaca dalam bahasa spanyol disadur dari bahasa arawaka (Haiti) yang berarti jaring ikan. Awalnya dibuat oleh orang-orang suku indian di amerika tengah dan selatan dari kulit pohon hammack. Hammock populer di suku indian karena dapat mengurangi transmisi penyakit, sengatan serangga, atau gigitan binatang lainnya seperti ular. Menggunakan bahasa spanyol hammaca karena hammock terkenal setelah diketahui oleh orang-orang spanyol pada masa penjelajahan spanyol ke benua amerika. Nah, apakah orang-orang spanyol yang pertama kali menemukan benua amerika, atau orang-orang muslim? Lebih jelasnya nonton film Teman Tapi Menikah dulu. *ehh apa hubungannya? ūüėÄ

Apa itu Hammock Camp?

Hammock Camp maksudnya adalah melakukan kemah atau camp dengan menggunakan Hammock, sebagai pengganti tenda, tarp atau shelter lain. Nah, hammock camp yang paling sederhana seperti yang sudah saya coba ini cuma pakai hammock biasa, ditambah flysheet.

Betewe, jaman SMA dulu lumayan sering pergi camping sama teman atau dari kegiatan pramuka. Jadi kalau tidur pake tenda udah biasa. Kalo tidur pake hammock saya belum pernah. Makanya excited banget ikut acara kayak gini. Ini bakalan fun camping pertama kali yang tidurnya pake hammock.

Lokasi Hutan Kiwi di Desa Kuala Dua Kabupaten Kubu Raya, jaraknya sekitar 1 km dari Bandara Supadio. Kegiatan dimulai pukul dua sore, namun karena cuaca hujan kami memutuskan untuk berangkat setelah hujan reda, sambil menunggu teman lainnya untuk berangkat bareng. Sampai dilokasi ternyata peserta lain udah menunggu, ada sekitar 50 orang dari media dan berbagai komunitas seperti Petualang Sepok, Jenggo, Petualang Kalbar, West Borneo Hammocker, Pendaki Kalbar dan lain lain. Panitia meminta setiap peserta untuk mengisi kertas lembaran absen beserta nomor handphone, kami dapat stiker dan snack.

Setelah mencari lokasi yang tepat untuk hammock-an, akhirnya kami memasang enam hammock di bagian depan dekat tenda. Sebelum kesitu, harus melewati beberapa tenda warna-warni yang ternyata mereka sudah bermalam disini sejak kemarin. Lokasi memasang hammock pun turut dibantu oleh salah satu pantia disana. Terimakasih, btw.

Malam hari sudah masuk waktunya untuk sharing dan sesi tanya jawab. Teman-teman dari komunitas Hammockers berbagi ilmu tentang hammock, kemudian dilanjutkan dengan live acoustic dari Evenar Musical. Malam kami habiskan dengan  mengobrol hingga larut malam.

Keesokan harinya saya terbangun karena suara bising. Ternyata semua manusia udah pada bangun. Kami sarapan dengan logistik yang kami bawa, ngopi-ngopi, menikmati beberapa buah-buahan dari teman-teman yang lain dan ikutan senam pagi. Kita juga diajak sharing tentang komunitas perwakilan kita ke teman-teman lainnya nah kami dari Djelajah Borneo dong, dapat doorprise pula. Sayangnya acara ini hanya berlangsung satu malam saja.

Weekend yang begitu berkesan, jumpa teman baru dan mendapat ilmu baru, terima kasih teman teman semuanya. Salam Gantung!

Betewe Kenapa Harus Hammock Camp?

Nah, ini, satu hal yang baru saya sadari setelah mencoba hammock camp adalah bahwa beralih dari tenda ke hammock itu bukan sekedar alih-alih mengurangi beban. Justru menggunakan hammock ini sangat nyaman. Bahasa inggrisnya mungkin comfortable and enjoyable. Asik, kan, tidur sambil goyang-goyang, kyuu kyuuu! Berikut beberapa nilai tambah hammock camp menurut pengalaman saya di Hutan Kiwi kemarin:

1. Ringan!

Memang berat tenda dan hammock bervariasi sesuai model, bahan, merk, aksesoris, dan kapasitasnya. Tapi bisa dibandingkan bobot hammock bisa lebih ringan 50-80% dari bobot tenda standar single person atau double person di Indonesia. Hammock berkisar 300-800 gram, sedangkan tenda berkisar 2-4 kg. Memang jika ditambah aksesoris lain seperti flysheet dan kelambu, bobotnya bisa mencapai hampir 2 kg, tapi masih lebih ringan daripada tenda konvensional di Indonesia. Berikut rincian bobot gear hammocking:

  • Hammock¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬†390 gram
  • Webbing straps¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† 280 gram
  • Ring (4 buah)¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬†150 gram
  • Flysheet 3√ó3¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬† ¬†670 gram
  • Total¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ¬† ¬† ¬†1490 gram

2. Murah

Tentu saja hammock lebih murah. Memang, sih, bisa beli tenda murah buat kemah durasi sehari-dua hari. Tapi tidak jamin tetap mendapat kenyamanan terutama kalau hujan atau angin kencang, apalagi badai. Untuk tenda kualitas bagus kapasitas satu orang harganya bisa mulai 900 ribuan. Hah! murah hammock, kan. hehe Hammock set 200 ribu, plus flysheet 100 ribu, dan masih banyak lagi merk hammock yang lebih murah dengan kualitas yang cukup mumpuni.

3. Ramah lingkungan

Hammock cocok sekali untuk konsep Leave No Trace (LNT) atau berkegiatan alam tanpa meninggalkan bekas berupa kerusakan atau perubahan bentuk pada subjek-subjek alam. Tenda kadang harus menebas ilalang atau menimpa rumput-rumput dan ketika tenda dibongkar tampak bekas rumput yang tertimpa. Hammock sama sekali tidak ninggal jejak. Mau bawahnya rumput, batu, kerikil, jalur air, ataupun salju tidak masalah. Satu hal yang fundamental itu adalah strap yang harus lebar, seperti webbing, supaya tidak menggores pohon.

4. Simpel

Simpel! ya tinggal mengaitkan webbing ke dua tambatan, bisa pohon, tiang, batu, retakan di tebing. Tidak perlu frame, tidak ada cerita uang habis untuk ganti frame patah.

5. Hit the trail with daypack!

Ukuran packing hammock + flysheet jauh lebih ringkas dibanding tenda, jadi menghemat banyak ruang tas bahkan bisa beralih ke daypack daripada carrier besar. Lumayakan, kan. Lebih ringkas dan lebih enak pecicilan di hutan!

6. Almost everywhere!

Strap hammock bisa diatur panjang pendeknya terhadap tambatan, bahasa inggrisnya adjustable kali, ya. Enaknya karena adjustable bisa ditambatkan di mana aja asal kuat nampung beban kita.

7. Nyaman

Sering sekali setelah mendirikan tenda dan masuk ke dalam ternyata ada batu dan kerikil di bawah, atau akar pohon yang melintang. Atau ketika menemukan tanah yang rata dan bebas batu ternyata setelah dirasa-rasa tanahnya miring dan rasanya kayak tidur di lereng bukit semaleman. Kalau pakai hammock, tidak peduli bawahnya batu, kerikil, akar, atau salju, tetep sama-sama nyaman. Sudah menjadi sesuatu yng lumrah di dunia persilatan pendakian, setelah melakukan trip lalu pulang dengan hati bahagia tapi badan remuk, tidak sabar menanti kasur di rumah. Nah! Dengan hammock tidak ada lagi cerita kayak gini. Lho malah pas tidur di kamar jadi pengen tidur di hammock lagi.

Nah. Tertarik kesini? Yuk bareng! Pii Weekend ūüôā

Lokasi : Hutan Kiwi, Desa Kuala Dua, Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.

Be Sociable, Share!
  • Muhamad Ridha Surista

    Keren kak tulisan nya, salam lestari salam gantung

    • Siti Mustiani

      Sama-sama, terima kasih juga sudah mampir di blog saya. Salam lestari salam gantung!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *