Desa Sade, Suku Sasak Penuh Tradisi dan Kreativitas

Pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Lombok, yah hidup memang selalu penuh dengan kejutan yang tak terduga. Banyak banget yang ingin saya bahas tentang pesona pulau yang satu ini, tapi kayaknya nggak cukup hanya dalam satu post karena saking banyaknya cerita dan informasi yang ingin saya bagi.

Kali ini saya ingin membahas salah satu desa wisata di Lombok Tengah, yang pesona dan keunikannya sangat harus kalian tahu. Sebenarnya banyak destinasi wisata yang kami kunjungi di Bumi Mandalika ini, tapi sabar ya, semua pasti saya tulis kok.

Bernama Desa Sade, desa wisata yang satu ini memberikan pengunjungnya pengalaman unik dengan melihat dari dekat kehidupan sehari – hari suku Sasak, yakni suku asli yang mendiami Pulau Lombok. Dari mataram hanya membutuhkan waktu sektar 20-30 menit saja untuk mencapai desa ini. Desa Sade juga akan dilewati jika kalian menuju ke Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan.

Teriknya matahari di Lombok tidak mengurangi atmosfir Desa Sade yang begitu tradisional, terdapat gapura besar yang berdiri sebelum memasuki desa. Ketika memasuki desa ini kami disambut oleh senyum dari para warga. Desa Sade memiliki luas kurang lebih 6 ha dan saat ini ditinggali oleh sekitar 150 kepala keluarga. Hebatnya pemerintah daerah setempat bersama dengan pemangku adat desa sengaja mempertahankan keaslian adat istiadat lokal di desa ini.

Sebagian besar warga Desa Sade hidup dari kegiatan bertani, pengrajin kain tenun ikat khas Lombok dan pengrajin cinderamata yang ampun bikin saya kalap belanja di sini. Kami membeli beberapa cintramata seperti gelang untuk oleh-oleh teman saya di Pontianak hehe.

Rumah suku Sasak ini seluruhnya masih terbuat dari bahan-bahan alami loh. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu sedangkan atapnya dari rumbia. Tapi yang paling unik adalah lantainya, yang secara rutin dilumuri oleh kotoran kerbau, katanya sih kotoran kerbau bisa membantu menutupi lubang-lubang lantai rumah. Tapi untungnya saya tidak mencium bau atau aroma kotoran kerbau selama berada di dalam rumah. Ajaib ya?!

Saat kami datang ke desa ini sepertinya sedang ada acara, anak-anak perempuan di Desa Sade menggunakan pakaian adat Desa Sade yang disebut Tangkong atau Lambung. Cantik-cantik ya mereka, hehe. Beberapa alunan musik tradisional pun terdengar sembari kami keliling desa tersebut.

Tradisi yang dimiliki masyarakat Desa Sade:

  1. Meski dahulu agama islam yang dipeluk oleh Suku Sasak yang masih terpengaruh dengan agama Budha dan Hindu, kini penduduk Desa Sade telah menjalankan ibadah Sholat lima waktu.
  2. Terdapat tradisi dimana seorang pria yang ingin menikahi wanita, calon pengantin pria harus menculik wanita tersebut pada malam hari. Tradisi ini dianggap menghormati keluarga mempelai wanita serta dianggap romantis bagi mereka.
  3. Seorang gadis suku Sasak belum diperbolehkan untuk menikah jika belum bisa menenun.
  4. Terdapat beberapa kesenian khas Desa Sade yakni Gendang Beleq, Tarian Oncer dan Peresehan.

Nah, banyak banget fakta uniknya kan?! Ini baru tentang desa aja loh gais, belum lagi hasil karya dan kerajinan yang dijual masyarakat Desa Sade. Puluhan helai kain berjajar rapi bersama dengan aneka cendramata khas Lombok yang sangat cantik ditawarkan hampir di setiap rumah yang ada di desa ini dengan harga yang sangat-sangat-sangat murah.

Kayaknya nggak ada yang sanggup menahan hasrat belanjanya di sini, pun termasuk saya. Semakin setuju kalau keragaman alam dan budaya memang merupakan salah satu Pesona Indonesia. Yuk datang dan beli cinderamata unik khas Desa Sade!! 😀

Be social share!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *