Menikmati Dingin dan Pesona Pagi di Gunung Bromo

Melanjutkan perjalanan dan tidak berhenti hanya di satu tempat adalah sebuah pilihan. Pilihan kali ini, adalah wajib meneruskan ke destinasi selanjutnya, ya Gunung Bromo. Konon, dinginnya sampai masuk ke tulang rusuk. Bagi saya yang berasal dari Pontianak, suhu di sini memang di bawah normal, bahkan melebihi dinginnya AC. Wajar jika kaum urban yang baru menginjakkan kaki di wilayah pegunungan, ia pasti kaget.

Salah satu kesenangan dari suatu perjalanan, membawa pengalaman dan ilmu pun juga. Kami memulai perjalanan dari Tumpang pukul 2 pagi dari rumah bang Dwiki yang tak begitu jauh dari kawasan TNBTS. Melalui jalan yang jalanannya lebih berkelok-kelok, bahagianya! sebelum subuh, kami harus bergegas menuju penanjakan, karena mengejar matahari.

Penanjakan 3 Bromo Tengger Semeru

Jam 04.10 pagi kita sampe tepat di view point penanjakan 3 puncak bromo, ramai dan dingin banget baju yang saya pakai berlapiskan 2 t-shirt dan 1 jaket, celana cargo dan sarung tangan.

Dikit demi sedikit matahari mulai naik, bak melihat nirwana di depan mata. Saya pun bolak-balik ke sana ke mari demi memburu foto yang bagus untuk dibawa pulang. Karena sebaik-baiknya traveler tidak meninggalkan sampah, tidak merusak tanaman, tidak membuang sampah, hanya meninggalkan jejak dan mengambil gambar, ahsekkk.

Pukul 6 pagi tapi kami belum capek, jadi akhirnya menuju view point lain untuk mengabadikan Gunung Bromo yang sedang dramatis karena disertai ‘batuk’ kecilnya. Awalnya saya sempat males untuk naik lagi ke atas view point lainnya yaitu Seruni Point (Penanjakan 2) karena sudah terpuaskan oleh view point penajakan 3, tapi karena penasaran akhirnya ayok juga. Cuma butuh trekking kecil aja sih, kira-kira gak lebih dari 15 menit. Dan ternyata, viewnya beneran cakeeeep banget. Badan saya yang menggigil kedinginan langsung berasa hangat kena matahari di Penanjakan 2.

Penanjakan 2 Seruni Point

Inilah spot yang biasa didatangi oleh para turis, lokasinya yang berada paling tinggi membuatnya memiliki view yang paling baik. Jika kamu ingin menikmati sunrise dari penanjakan 2, berangkatlah maksimum pada pukul 03.00 pagi, karena jika lebih dari jam tersebut, di akibatkan banyak jeep yang parkir tidak akan bisa sampai ke atas karena sisi jalan di penuhi oleh jeep yang sudah parkir terlebih dahulu.

Kemudian semakin lama semakin terang, yang tadinya gunungnya gak keliatan, sekarang keliatan jelass, sumpah CANTIK banget deh gak bohong. Langit yang biru, bukit-bukit hijau dan hamparan lansekap Bromo yang cantiknya gak abis-abis, bikin saya gak bisa menahan untuk tidak selfie.

Kapan lagi capek bersama teman seperjalanan? Cahaya sang fajar kali ini yang saya lihat memiliki pesona istimewa, ya anggap saja istimewanya melebihi kenikmatan indomie double pakai telor. *INI APASIH KOK NYAMBUNG KE INDOMI, ETDAH!*

Memang benar-benar sweet escape, saya bisa menyaksikan apa yang sering disebut orang-orang, ya negeri di atas awan. Bukan hanya itu, di depan mata pun bisa melihat Gunung Bromo. Wilayah BTS (Bromo Tengger Semeru) wajar jika menjadi buruan wisatawan, selain bisa menikmati negeri di atas awan kami juga bisa melihat perkebunan sayur yang sudah tertata rapi dan miring. Dan dalam hati, “ini gimana nanamnya, ya?”.

Tidak hanya ke penanjakan, kami pun tak ketinggalan mengunjungi kawah gunung bromo.

Kawah Gunung Bromo

Untuk bisa sampai diatas dan melihat kawah bromo kita harus tracking nanjak dulu terus baru naikin tangga lagi yang jumlahnya 250 anak tangga, tapi tenang wisata gunung bromo sangat adaptable terhadap semua kalangan umur. Terdapat Kuda yang bisa di sewakan untuk sampai ke atas gunung bromo dengan membayar sekitar 50.000-100.000.

Kami sih memilih jalan kaki biar bisa menikmati perjalanannya, hehe (biar hemat juga sih) capek memang tapi pas sampe diatas semua terbayarkan, saya cuma bisa bengong sumpah ciptaan TUHAN itu gak ada yang ngalahin cantiknya.

Sepanjang perjalanan menuju view point kawah bromo kita balakan bertemu beberapa orang tengger yang sedang berjualan oleh-oleh seperti kaos, bunga edelweis kering dan kupluk. Bahkan saat turun dari puncak pun beberapa pemilik kuda juga menawarkan kami untung menaiki kuda untuk turun kebawah.

Setelah berlama-lama menikmati kawasan Bromo, waktu pun memanggil kami untuk pulang. Hm, sedih. Semoga esok akan datang kembali dan menikmatinya lagi. Yuk traveling! (PS: Beberapa foto dari Yandy Koresy)

Gunung Bromo memang menjadi destinasi paling populer di Jawa Timur, jadi nggak heran kalau tiap harinya dipadati wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. Pun mereka pastinya gak akan merasa cukup untuk datang hanya satu kali. Banyak sisi dan cara untuk menikmati keindahan alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini. Mau ah kapan-kapan motoran lagi kesini 😀

Tabik, semoga bermanfaat ^ ^

Be social share!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *