Cantiknya Bumi Lombok dari atas Bukit Selong, Sembalun Lawang NTB

Hari itu sebenarnya kami tidak merencanakan ke Bukit Selong. Saya hanya ingin melihat Bukit Pergasingan yang kata Yandy sawah/kebun petani disini bentuk nya kotak-kotak kayak karpet, ah masa sih? jadi penasaran kan. Berhubung kami menginap di Homestay yang letaknya masih di kawasan Desa Sembalun, jadi siang harinya kami memilih jalan-jalan ke sebentar di Sekitar Sembalun Lawang, saat lewat ada plang Bukit Selong, saya langsung menujuk kesana saja.

Kebun bambu menyambutku saat memasuki kawasan Bukit Selong, serasa berada di film-film kolosal Cina. Cukup merogoh kocek sebesar Rp.5.000,-/orang plus parkir motor Rp.2.000,- kita sudah dapat menikmati indahnya sembalun lawang dari bukit selong.

Sebelum menuju bukit selong, kami melihat beberapa rumah adat unik ternyata ini adalah rumah adat pertama di Sembalun Lawang tepatnya di Dusun Belek. Di dusun itu hanya ada 7 rumah asli yang umurnya ratusan tahun. Bentuk fisik rumah adat ini memang berbeda dengan rumah adat Suku Sasak yang membentuk seperti setengah lingkaran.

Namun, ada satu hal yang saya penasaran adalah kenapa rumah adat ini dibiarkan kosong begitu saja. Ternyata warga Sembalun tidak mau dibatasi oleh aturan yang diberlakukan di dusun ini sehingga sekitar tahun ’80an, warga mulai meninggalkan dusun ini.

Setelah puas lihat-lihat rumah Bale Adat Desa Blek di Dusun Belek, kami melanjutkan ke arah tangga yang lokasinya sedikit lebih tinggi, yak Bukit Selong. Wah naik nih, sanggup gak? ternyata ketinggin bukit selong tidak seperti yang saya pikirkan, dekat banget, nanjak nya hanya satu menit nggak tiga menit ding.

Puncak Bukit Selong. Untuk mencapainya kita harus masuk melewati beberapa anak tangga. Bukit Selong adalah bukti nyata bahwa keindahan tak harus dicapai dengan usaha keras hingga berpeluh. Meski bukit ini tidak tinggi tapi pemandangan yang tersaji begitu indah. Petak-petak sawah penduduk yang menyerupai karpet warna-warni. Keindahan Bukit Pergasingan berhadapan langsung dengan Bukit selong dan sangat bagus menjadi background foto.

Aku menarik nafas dalam-dalam, membersihkan paru-paruku dengan udara Sembalun yang segar dan bersih. Kebahagiaan menyeruak di benakku setiap kali melihat keindahan demi keindahan yang tersaji di pulau Lombok ini. Rasa syukur yang mengetuk pintu kesadaran sehingga lirih hatiku berucap “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”.

Belum pernah saya melihat sawah yang rapi dari atas seperti ini, dan beneran keceee banget! Apa yang kamu lihat difoto tidak sebanding dengan cantiknya wujud bukit yang asli. Bukan karena lensanya yang kurang bagus, tapi karena memang tidakada lensa kamera yang bisa menandingi lensa mata manusia, apalagi sensasi suasana sejuk yang tenang, itulah mengapa ada pepatah yang bilang “lebih baik melihat langsung walau hanya sekali daripada sekedar mendengar beribu kali”, pokoknya tempat ini sangat recommended buat dikunjungi.

Makin bersyukur, makin cinta Indonesia.

Be social share!
  • multi

    ini yang aku liat di IG, indaaaaah bangeeeet Ti. semoga aku bisa melihat langsung juga..

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *