Senandung Pantai Kuta Mandalika, Lombok

Karena lokasi Pantai Kuta Mandalika ini tidak terlalu jauh dari kawasan Desa Sade Suku Sasak kami melanjutkan perjalanan, cukup menempuh sekitar 10 menit kami sudah tiba di kawasan Pantai Kuta Mandalika kali ini kami tidak menggunakan bantuan Google Maps. Pukul 16.42 kami sudah tiba di pantai yang cantik ini. Mandalika merupakan salah satu pantai di Lombok bagian selatan dengan warna pasir putih dengan memiliki tekstur seperti biji merica yang membuatnya di gadang – gadang menjadi salah satu pantai terbaik di lombok, Pantai mandalika memiliki panjang garis pantai sepanjang 7,2 km.

Di sepanjang pantai mandalika ini selain terdapat pohon – pohon rindang di sini juga terdapat berugaq yaitu istilah sasak menyebut gazebo. Untuk masuk ke pantai ini kamu tidak di kenai biaya tiket kok namun kamu hanya di bebankan biaya parkir sebesar Rp. 5000 (Motor) dan Rp. 10.000 (Mobil). Kami memakirkan kendaraan motor kami di dekat lokasi tulisan Mandalika yang banyak orang berfoto ria disini. Ramai banget, yah menginat kembali saat itu adalah hari minggu.

Cerita Tentang Putri Mandalika

Ada satu hal yang membuatku tertarik ke sini, konon memiliki cerita rakyat akan Puteri Mandalika yang menerjunkan dirinya ke pantai. Kemudian menjelma menjadi cacing laut, konon disebut nyale. Banyak orang meyakini binatang tersebut sebagai jelmaan Puteri Mandalika. Dan akhirnya mereka mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya sebagai tanda cinta pada Mandalika. Cerita tersebut menjadi asal mula terciptanya upacara atau pesta Bau Nyale (menangkap cacing) yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak. Sekedar informasi Festival Bau Nyale ini sering diadakan di bulan Agustus atau September.

Pasirnya Mirip Seperti Bubuk Merica

Yang membedakan Pantai Mandalika dengan umunya pantai lain adalah pasir pantainya. Pasir pantai yang putih bersih dengan tekstur membundar hingga terkadang dijumpai ukuran sebesar butiran merica seperti juga dijumpai di Pantai Tanjung Aan. Pasir merica ini terbentuk dari fosil foraminifera. Foraminifera adalah organisme bersel tunggal yang bercangkang yang hidup di lingkungan air terutama di laut.

Organisme ini hidup dari ganggang yang hidup di sekitar terumbu karang. Cangkang mikroorganisma yang telah mati akan tersapu ombak dan terdampar di pantai dan terakumulasi secara melimpah membentuk pasir putih. Wisatawan yang pernah mampir kesini pasti membicarakan keunikan pasir pantainya. Bahkan tak jarang membawanya pulang sebagai souvenir.

Terdapat Bukit-Bukit di Sekitar Lokasi Kuta Mandalika

Pesona yang memikat lainnya, selain keunikan butiran pasir adalah airnya yang jernih berwarna biru toska dengan ombak yang mengalun tenang. Pada saat permukaan air laut di pantai surut, akan terlihat tumbuhan ganggang laut, beserta biota laut lainnya seperti bintang laut, teripang serta terumbu karang. Biota laut ini mengundang minat anak-anak untuk bermain-main di antara bebatuan karang. Di sekitar pantai di jumpai bukit-bukit kecil bervegetasi rendah yang mudah didaki oleh anak-anak. Mereka lalu duduk di atas bukit memandang ke arah laut. Dapat dimengerti jika anak-anak senang bermain disini.

Saya cukup penasaran juga dengan beberapa bukit di sekitar lokasi pantai mandalika ini, mumpung belum gelap walaupun sudah pukul 17.20 kami bergegas menuju salah satu bukit yang cukup terkenal yaitu Bukit Merese. Kami menikmati sunset yang cakep banget di Bukit Merese. Cerita tentang Bukit Merese akan saya tulis setelah artikel ini.

Be social share!
  • multi

    unik ya pasirnya, kamu ada bawa pulang gak Ti?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *