#RANDOMWRITE : Diluar Rencana

Pada akhirnya aku memilih mundur, secara perlahan. Dengan berat hati, aku membiarkan segenap harap melenyap. Aku bukan tidak ingin memperjuangkanmu, aku bukan tidak menyayangimu. Aku sangat menyayangimu, bahkan lebih dari yang kau tahu. Semula, aku ingin kau ada dalam hari-hariku, kini sampai nanti. Semula, aku yakin kau dan aku akan mampu melewati segala macam cobaan yang menerpa kita. Semula, aku ingin menua bersama denganmu, menemani sisa usia denganmu. Semula, aku membayangkan kita akan selalu tetap berdampingan dalam berbagai keadaan. Asal kau tahu, aku sudah memikirkan banyak hal tentangmu, tentang kita; aku sudah memikirkan tentang bagaimana syahdunya ketika kita bersama, aku sudah memikirkan bagaimana bahagianya aku ketika memasak-masakan kesukaanmu, aku sudah memikirkan banyak hal lainnya, asal kau tahu. Ketika kau “melamarku’ lantas aku “menerimamu” yang terbesit dikepalaku hanya satu; aku ingin, kau dan aku menjadi manusia yang¬†lebih baik bersama, kita berdua saling memperbaiki segala kesalahan di masa lalu kita, itu saja.

Namun seiring berjalannya waktu, ada hal yang memang tidak bisa dipaksakan, terlebih dengan cara sebuah kepura-puraan.

Aku tahu tidak ada manusia yang sempurna, aku tahu kita dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Oleh karena itu sebelum semuanya semakin jauh, aku semakin mengerti, pun memahami. Dengan berat hati, aku memilih untuk berhenti mendampingimu, entah sementara atau selamanya. Aku memilih untuk sejenak menepi dari segala macam hal yang berhubungan denganmu. Mungkin selama ini kau jarang sekali mendengar ucapan sayangku, pun rasa rinduku yang tertuju padamu. Namun percayalah jauh di dalam lubuk hatiku, kau segalanya, namamu tak pernah alpa dalam barisan pinta dan doaku padaNya.

Terima kasih sudah pernah ada, saat semua orang tiada yang mempedulikan keadaanku. Terima kasih sudah membuat hari-hariku penuh tawa dan bahagia, saat semua orang dengan kasat mata membuatku terluka. Terima kasih untuk segala yang pernah tercipta.

Semua akan baik-baik saja. Kesedihan hanya sementara, percayalah. Kita hanya butuh waktu untuk “terbiasa”.

Tidak semua rencana dapat berjalan sesuai ‘rencana’ , bukan?¬†
tentu. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk masing-masing diri kita.

Sedikit pesan dariku, untuk siapapun;

yang benar-benar menyayangi tidak akan mendiamkan pun mengabaikan dalam waktu yang berkepanjangan, ia akan menyegerakan, ia akan menyempatkan, ia akan memperjuangkan, ia tidak akan menunda-nunda kesempatan”

Be social share!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *