Forest Talk With Blogger, Saatnya Mengenal Potensi Hutan Kalimantan

Selamat Hari Bumi! iya Hari Bumi atau Earth Day jatuh pada 22 April yang diperingati setiap tahunnya di Seluruh Dunia. Ingat tentang Hari Bumi saya jadi ingat dengan acara Forest Talk With Blogger bersama Yayasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality Indonesia pada akhir pekan 20 April 2019 kemarin di Kota Pontianak, pas banget kalau yang lagi hits untuk dibahas mengenai bumi.

Nah, di acara tersebut kita kembali dingatkan akan pentingnya pelestarian hutan untuk menjaga kehidupan bumi agar tetap stabil, kemudian kita juga dikenalkan mengenai potensi alam yang dapat kita gunakan dengan maksimal tanpa merusak hutan maupun alam sekitar kita. Jadi, kita benar-benar belajar banyak mengenai manfaat hutan selain dijadikan kayu terutama di daerah Kalimantan.

Inilah Kalimantan, Tempat Tinggal Kami

Kita tahu Pulau Kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia karena luas hutannya, yaitu sekitar 40,8 juta hektar. Sejak kecil saya tinggal di Kalimantan Barat, merasakan betul bahwa Kalimantan benar-benar pulau yang hijau dengan hutan yang sangat luas dengan keanekaragaman hayati yang tinggi serta menyimpan karbon dengan jumlah yang cukup besar, tidak terlalu banyak pabrik, saya bangga tinggal di Kalimantan Barat.

Bukit Bahu, Kalimantan Barat

Namun, sayangnya beberapa tahun terakhir ini saya sering mendengar banyaknya berita-berita mengenai polusi asap (kabut asap) bakaran hutan dan itu berasal dari Kalimantan, kemudian berefek hingga ke berbagai daerah disekitarnya bahkan hingga ke negara tetangga.

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, apalagi kami yang tinggal di Pulau Kalimantan yang merasakan langsung oleh kondisi tersebut. Berdasarkan data dari penelitian Plus One dalam Jurnalnya menunjukkan lebih dari 30 persen dari hutan tropis Kalimantan telah hancur selama 40 tahun terakhir akibat kebakaran, industri penebangan kayu dan industri perkebunan.

Kondisi Hutan Kalimantan 1973 – 2010 (Sumber : https://journals.plos.org)

Melihat kondisi tersebut sudah sepatutnya kita mulai benar-benar peduli, karena kita tidak tahu bagaimana kondisi hutan dikemudian hari, aksi kita saat ini akan bermanfaat untuk masa depan anak cucu kita nanti.

Blogger Perperan Aktif dalam Kelestarian Hutan

Pertama kita haruslah sadar, lestarinya hutan bukan hanya masalah dari orang-orang yang berkecimpung dalam bidang kehutannan saja tapi kita semua.

Di acara Forest Talk With Blogger ini, juga mengundang berbagai generasi muda yang melek akan teknologi seperti para Blogger, dimana para blogger ini berperan aktif dengan cara menyampaikan ide-ide mereka melalui tulisan kemudian dibagian ke sosial media serta tidak lupa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Blogger Berperan Aktif dalam Pelestarian Hutan

Sebelum acara dimulai saya senang sekali karena dapat bertemu teman-teman blogger dari berbagai daerah Indonesia yang betul-betul peduli dengan kelestarian hutan, misalnya kak Katerina yang antusias sekali mensukseskan acara ini, kabarnya beliau juga senang bisa berkunjung ke Kalimantan Barat.

Kemudian pada saat regristrasi acara kami dibagian sebuah Totebag unik yang dicetak dengan teknik Eco Print dari Wongkito yang diproduksi langsung di Palembang. Uniknya Totebag ini dibuat menggunakan cetakan daun asli dan pewarna alami, tidak ada desain yang sama, semua totebag dibuat satu per satu dengan warna dan bentuk daun yang berbeda.

Totebag Eco Print by @galeriwongkito2
Pakailah yang ramah lingkungan!

Mulai sekarang saya pakai totebag lucu ini untuk berbelaja atau bawa-bawa barang kemana-mana, dari hal kecil ini kita sudah membantu menyelamatkan bumi dari penumpukan sampah plastik 🙂

Di dalam totebag ini ada beberapa marchendise juga, seperti rompi lestarihutan.id, madu kelulut, tumbler lucu dan kopi bubuk khas Kubu Raya.

Pemahaman Tentang Pengelolaan Hutan Lestari

Pada saat sesi Talk Show kami diberikan pemahaman lebih, yang disampaikan oleh beberapa pemateri dari Yasasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality Indonesia, yaitu:

  • Dr. Amanda Katili Niode (The Climate Reality Indonesia)
  • Dr. Atiek Widayati (Yayasan Tropenbos Indonesia)
  • Dito Renaldi (Desa Makmur Peduli Api Kalimantan Barat)

Sebelum Talk Show dimulai, sambutan disampaikan oleh Ibu Dr. Amanda Kaliti Niode sebagai perwakilan The Climate Reality Indonesia, kemudian dilanjutkan penyampaian materi yang disampaikan juga oleh beliau, dalam talkshow yang disampaikan Ibu Dr. Amanda menjelaskan mengenai emisi gas kaca dimana sangat berdampak besar dari perubahan iklim dunia, penggunaan bahan plastik dan kemajuan teknologi.

Dr. Amanda Katilini Niode
Kegiatan Manusia yang berlebihan dapat merusak lingkungan

Bencana alam seperti perubahan iklim misalnya saja semua itu bukanlah akibat dari alam itu sendiri, melainkan karena kita manusia yang sampai saat ini masih belum sadar betul untuk menjaganya. Beliau juga menyampaikan betapa pentingnya kelestarian hutan, program-programnya yang dapat suarakan oleh blogger melalui sosial media.

Pada kesempatan ini saya sangat benar-benar setuju jika program-program pelestarian lingkungan juga dapat disuarakan menggunakan Media Sosial, sangat berdampak positif apalagi dijaman teknologi saat ini, seperti pada infografis yang oleh Conversation Prism 5.0 yang dibuat oleh Brian Solis & JESS3 dibawah ini.

Conversation Prism 5.0 (Sumber : conversationprism.com)

Selama acara berlangsung panitia mengajak kami untuk menyuarakan informasi yang kami dapatkan ke Sosial Media seperti Instagram dan Twitter, kemudian pada akhir acara akan diberikan hadiah bagi siapa saja yang live tweet dan live instagram terbaik akan diberikan hadiah, Alhamdulillah saya sendiri termasuk juara 3 lomba live instagram loh, hehe.

Materi kedua disampaikan oleh Ibu Dr. Atiek Widayati tentang ‘Pengelolaan Hutan dan Lanskap yang Berkelanjutan’, disini kita diajak untuk mengetahui bagaimana semua pihak dapat berkontribusi dan bagaimana upaya mengembalikan fungsi hutan berkelanjutan.

Dr. Atiek Widayati (Tropenbos Indonesia)

Disini lagi-lagi disampaikan beberapa isu, penyebab dan dampak akibat dari Deforestasi, Deforestasi sendiri adalah perubahan permanen dari areal berhutan menjadi areal tidak berhutan atau tutupan lainnya sebagai akibat dari aktifitas manusia. Jadi, perusakan atau penurunan kualitas hutan tersebut akibat tutupan, biomasa dan/atau aspek lainnya.

Tidak perlu jauh-jauh, misalnya saja yang terjadi di daerah Kayong Utara, Kalimantan Barat. Terlihat jelas sekali warna air laut disekitaran Pulau Maya berwarna kuning kecokelatan, hal tersebut akibat dari deforestasi.

Sedimentasi di Pesisir /Biota Laut

Sebenarnya banyak cara maupun solusi yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya agar tidak berdampak semakin buruk. Solusi itu sendiri dapat melalui kolaborasi beberapa pihak seperti Pemerintah, Civil Society Organisations dan Sektor Swasta.

Contohnya pembangunan Koridor Ekologi yang dilakukan di Kabupaten Ketapang, Kelimantan Barat. Dimana program Tropenbos Indonesia melakukan rehabilitasi lahan/restorasi hutan, penanaman pohon untuk membentuk ‘koridor’ kolaborasi melibatkan berbagai pihak termasuk perusahaan kelapa sawit di wilayah tersebut.

Nah, bagaimana dengan masyarakatnya? Masyarakat umum juga dapat berkontibusi misalnya :

  • Mendukung pelestarian hutan yang ada
  • Mendukung hasil hutan bukan kayu, contohnya buah-buahan, madu atau rotan
  • Pemanfaatan Jasa Ekosistem, bisa dijadikan sebagai sumber air mineral dan tempat wisata alam
  • Mendukung Ekonomi Masyarakat Tepi Hutan, menggunakan produk-produk kerajinan masyarakat dari hasil hutan
  • Produksi Kayu Berkelanjutan, dengan melakukan sistem tebang pilih
Anyaman Gelang terbuat dari Resam Bengkayang

Saya pribadi sangat mendukung pemanfaatan olahan hutan sebagai tempat wisata alam dan menggunakan produk-produk kerajinan masyarakat tepi hutan. Contohnya saja gelang dari akar tanaman resam saat saya mengunjungi wisata air terjun di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Dibuat begitu unik dengan warna alami dari alam, dan dibuat langsung di tangan pembelinya.

Nah, dari materi yang disampaikan oleh Dr. Ariek Widayati, dapat disimpulkan:

  • Hutan dan lanskap sekitarnya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan
  • Isu dan permasalahan hutan tampak sebagai isu sektoral, tetapi tetap ada keterkaitan dengan publik/masyarakat luas; termasuk yang terkena dampak
  • Isu dan kehilangan hutan ada solusinya, yang prinsipnya mengembalikan ‘fungsi’ hutan dalam berbagai aspek
  • Kontribusi terhadap perbaikan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dapat ‘langsung’ ataupun ‘tidak langsung’
  • Masyarakat umum/publik yang tidak berhubungan langsung dengan hutan tetap dapat berkontribusi secara tidak langsung
  • Pada akhirnya masyarakat juga yang merasakan manfaat terjaganya hutan/adanya hutan yang lestari

Oke, lanjut pemateri yang ketiga yaitu Dito Cahya Renaldi dari Desa Makmur Peduli Api Kalimantan Barat beliau juga bagian dari Social Impact & Community Development Region Kalimantan Barat.

Dito Cahya Renaldi

Tidak kalah menarik dari materi-materi sebelumnya, kali ini Pak Dito memperlihatkan program masyarakat desa dengan APP Sinarmas dan DMPA (Desa Makmur Peduli Api).

Budi Daya Pohon Sengon, Kalimantan Barat

Dimana program-programnya membantu masyarakat desa untuk mengolah hasil pertanian, beberapa petani unggulan juga mendapat penghargaan dari Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, satu diantaranya adalah masyarakat dari Dusun Sungai Langer, Desa Mengkiang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, mereka berhasil meraih penghargaan Program Kampung Iklim Utama 2017 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Penghargaan Program Kampung Iklim Utama 2017 (Sumber : https://mediaindonesia.com)

Keberhasilan mereka karena telah melaksanakan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan bukan sebagai akhir aksi adaptasi dan mitigasi. Bangga banget ya.

Program ini terus berlanjut di beberapa desa atau kampung di Indonesia, dengan terus meningkatkan kemampuan para petani dan peternak dengan mengenalkan teknologi pertanian (alsintan).

Materi terakhir disampaikan oleh Ibu Murni Titi Resdiana tentang ‘Pohon dan Ekonomi Kreatif’, karena beliau berhalangan hadir jadi materi disampaikan oleh Ibu Dr. Amanda Katili Niode. Dimana kita diajak untuk mampu menjadikan olahan hasil keanekaragaman hayati bernilai ekonomis, dengan ilmu Social Entrepreneur contohnya JAVARA dan Eco Fashion Week.

Javara (sumber : https://manual.co.id/directory/javara-culture/)
Eco Fashion Week Indonesia (sumber: https://ecofashionweekindonesia.com)

Produk Unggulan Hasil Hutan Kalimantan

Disela-sela acara Forest Talk With Blogger juga terdapat sebuah pameran mini produk unggulan hasil hutan Kalimantan, yaitu dari Kabupaten Sintang Kalimantan Barat.

Buah Tengkawang dan Mentega Tengkawang

Beberapa produk unggulan tersebut ada Buah Tengkawang, nah buah khas Kalimantan Barat ini banyak tumbuh di kawasan hutan kalimantan, buah ini bersama hewan Rangkong (Burung Enggang Gading) juga dijadikan Logo Maskot Provinsi Kalimantan Barat.

Menurut Wikipedia, Buah Tengkawang adalah nama buah dan pohon dari beberapa jenis Shorea, Suku Dipterocarpaceae, yang menghasilkan minyak lemak yang berharga tinggi. Pohon-pohon tengkawang ini hanya terdapat di Kalimantan. Dalam bahasa Inggris tengkawang dikenal sebagai Illipe Nut atau Borneo Tallow Nut.

Kerajinan Tangan Bambu dan Kayu dari Sintang

Produk kerajinan tangan seperti anyaman dan sendok nasi juga didatangkan dari Kabupaten Sintang, beberapa peserta yang tertarik juga dapat langsung membelinya. Semanget ekonimi kreatif juga ditunjukan dengan adanya produk olahan ikan lele yang dibuat kerupuk dan abon, sirup belimbing wuluh, asam maram dan semprong.

Kerupuk Kulit Lele dan Abon Lele (Produk Khas Sintang Kalbar)
Sirup Belimbing Wuluh
Asam Maram dan Semprong
Produk Unggulan Lainnya di Pameran Mini Forest Talk With Blogger

Demo Masak Pengelolahan Hasil Alam dengan Bahan Dasar Madu dan Jamur

Setelah kita tahu banyak tentang keanekaragaman hayati dari alam, sekarang kita bisa langsung praktek. Nah, di acara Forest Talk with Blogger di Pontianak kali ini juga ada sesi Demo Masak yang menggunakan bahan alami yang berasal dari Hutan Borneo yaitu Madu dan Jamur.

Demo masak ini dipandu oleh Chef handalan dari Ibis Hotel Pontianak yaitu Chef Sumangun Wijaya para peserta yang hadir sangat antusias menyaksikan Chef Sumangun memasak.

Masak-Masak Time!

Madu dan Jamur memang banyak sekali ditemui di Indonesia, selain dengan harga yang cukup terjangkau madu sendiri mengandung beberapa senyawa dianggap berfungsi sebagai antioksidan, termasuk chrysin, pinobanksin, vitamin C, katalase, dan pinocembrin. Sedangkan jamur memang dikenal sebagai makanan yang kaya akan nutrisi, bagi kesehatan jamur juga berfungsi memperkuat sistem kekebalan tubuh, menghambat pertumbuhan sel kangker dan menurunkan kolestrol.

Chef Sumangun Wijaya dan Ayam Bakar Madu
This is it! Olahan Jamur

Saat melakukan demo masak Chef Sumangun juga berbagi tips-tips mengolah makanan, dengan ramah beliau mengajak kami para peserta mencicipi masakan yang sudah dibuatnya. Terima kasih Chef!

Forest Talk with Blogger Pontianak

Nah, setelah berbagai rangkaian acara yang kami ikuti akhirnya tiba dipenghujung acara yaitu ‘Foto Bersama’. Senang sekali bisa hadir dan bertemu dengan pakar-pakar yang semangat memberikan ilmu dan inspirasi yang sangat bermanfaat, keseruan acara tersebut benar-benar kami rasakan dari awal hingga akhir acara.

Mulai saat ini kita harus mendukung penuh pelestarian hutan, bangga menggunakan produk-produk lokal, share yang baik di Sosial Media tentang pentingnya kelestarian lingkungan dan mampu mengolah makanan dari bahan alami seperti Madu dan Jamur.

Tentang Yayasan Doktor Sjahrir dan Climate Reality Indonesia

Yayasan Doktor Sjahrir adalah Organisasi Nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan misi sosial almarhum Dr Sjahrir. Lembaga bergerak lintas sektor, termasuk bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.Yayasan ini memiliki kantor yang terletak di Jalan Sukabumi No. 15, Menteng, Jakarta, email: sekretariat@yayasandoktorsjahrir.id

Sedangkan The Climate Reality Project Indonesia adalah bagian dari The Climate Reality Projct yang berasal dari Amerika Serikat yang dimpin oleh mantan wakil presiden Al Gore, saat ini memiliki dari 300 relawan di Indonesia yang juga berfokus melakukan sosialisai perubahan iklim dan mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi.

Tabik, Semoga Bermanfaat ^^

Be social share!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *