Peran Blogger Dalam Memperkenalkan Budaya Lokal Yogyakarta

Sejak blog ini saya putuskan untuk menjadi Blog Travel, saya benar-benar merasa bahwa ini adalah hal yang tepat, banyak informasi yang dapat saya bagikan terutama seputar perjalanan saya melalui blog. Nah, kali ini saya ingin sharing tentang peran blogger itu sendiri dalam memperkenalkan budaya lokal. Karena dari blog ini juga saya juga bisa mengunjungi berbagai destinasi di Indonesia, informasi wisata banyak saya temui melalaui internet terutama media blog atau pun sosial media.

Saya merasakan betul manfaat adanya media Teknologi Informasi Komunikasi di era digital terutama di dunia blog saat ini. Kecintaan saya terhadap Indonesia pun menjadi-jadi saat saya diberi kesempatan menyaksikan keindahan budaya jawa terutama di Yogyakarta secara langsung.

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan Pulau Jawa, dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini terdiri atas satu kotamadya, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 desa/kelurahan.

Yogyakarta menjadi destinasi wisata favorit bagi Indonesia maupun mancanegara, kenapa tidak? Kota Yogyakarta memang benar-benar mempertahankan betul keaslian budayanya, di era semakin canggih saat ini bukan berarti budaya jogja juga hilang justru malah memperkaya Indahnya Indonesia bahkan Memperkuat Akar Budaya Lokal khususnya Budaya Jawa di Yogyakarta saat ini serta mempertahankan sikap sopan santun dari generasi ke generasi.

Memasuki Kawasan Keraton, Kendaraaan Harus Dituntun

Terutama lewat postingan-postingan blog oleh para blogger, di era milineal saat ini justru gampang betul mencari informasi dengan kata kunci tertentu di mesin pencari Google, nah dari informasi yang dicari tersebut munculah ulasan yang ditulis oleh para blogger tersebut dengan lengkap artikel-artikel tersebut juga dapat diakses diberbagai media digital seperti smartphone dan laptop. Karena internet merupakan jaringan global jadi artikel tersebut sudah pasti dapat diakses di seluruh dunia.

Misalnya informasi tiket masuk wisata, apa saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan di tempat wisata yang dikunjungi hingga hal-hal menarik lainnya seperti kuliner, oleh-oleh, tips dan lain lain.

Nah, jika kalian datang ke Yogyakarta ada beberapa tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi dengan tag Yogyakarta atau yang paling kental budaya jawanya adalah mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Keraton Ngayogyakarta
Guide yang menjelaskan Budaya Yogyakarta kepada Siswa Sekolah
Pagelaran Wagang Golek

Setiap pengunjung yang datang ke keraton ini dengan akan disambut dengan sangat ramah, suasana keraton yang benar-benar kental dengan alunan gamelan dalam pagelaran wayang golek, serta anggota kerjaan yang masih menggunakan pakaian adat jawa. Kemudian ada guide yang mengajak kita berkeliling kawasan keraton sambil mengenalkan budaya jawa.

Hal yang tak pernah ketinggalan untuk dijelaskan adalah tentang Sumbu Filosi Yogyakarta dimana dalam konteks kultural flosofis tata ruang Kota Yogyakarta yang membujur arah selatan – utara (Sumbu Filosofis) mempunyai makna filosofis yang sangat tinggi. Konfigurasi ruang di garis sumbu tersebut dilengkapi dengan elemen ruang baik bangunan Panggung Krapyak – Keraton Yogyakarta – Tugu.

Sumbu tersebut merupakan gambaran konsep mikrosmos, yaitu alam kehidupan nyata yang menjadi laku peziarahan manusia. Secara paralel dalam konsep makrokosmos ada garis imajiner Selatan – Utara, yaitu Laut Selatan – Gunung Merapi.

Sumbu Filosofi Yogyakarta (Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Secara filosofis dari Panggung Krapyak ke Keraton dan Tugu memberikan gambaran konsep sangkan paraning dumadi (dari mana asal manusia dan arah kemana yang akan dituju). Gambaran manusia dari embrional, lahir, berproses, berkembang, eksis, dan apda akhirnya kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Apabila dirinci maka Panggung Krapayak – Keraton merepresentasikan makna Sangkan Paran yaitu asal muasal manusia untuk berproses menuju eksistensi. Sedangkan Tugu – Keraton merepresentasikan makna Paraning Dumadi, yaitu manusia yang eksis berproses untuk menjalankan kehidupannya.

Tugu Yogyakarta

Proses itu untuk mendapatkan kehidupan dalam Jalan Keutamaan, Jalan Kesejahteraan, Jalan Kemuliaan, dan mampu membebaskan diri dari berbagai halangan, godaan, serta nafsu angkara murka.

Manunggaling Kawula – Gusti atau kesatupaduan antara Kawula dan Gusti atau antara rakyat dan raja (mikrokosmos) serta antara manusia dengan Tuhan (makrokosmos) dapat menjadi jalan kehidupan yang baik terutama dalam tataran untuk selalu menjalankan konsep hamemayu hayuning bawana. Makna konsep itu yaitu memperindah kehidupan di dunia atau menjaga kehidupan dunia secara baik.

Banyak cara memperkenalkan budaya lokal

Ingat, ada banyak cara kita mempertahankan budaya lokal misalnya belajar tentang budaya itu sendiri atau menceritakan informasi budaya tersebut di media digital seperti blog misalnya.

Menggunakan media blog, para blogger hanya perlu skill literasi seperti menulis yang baik serta internet yang kencang, internet jangan hanya dipakai untuk eksis di sosial media saja tapi buatlah hal yang bermanfaat untuk banyak orang serta mengenalkan budaya lokal. Tunjukkan kita bangga dengan budaya Indonesia.

Bagaimana? sudah cinta dengan Budaya Lokal Indonesia terutama Yogyakarta? kita buat bangga Indonesia dengan memperkenalkan budaya kita di ranah Internasional melalui media Teknologi Informasi dan Komunikasi. Saya sudah, sekarang giliran kamu. Oh ya, tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019.

Semoga bermanfaat ^^

Referensi:

Be social share!
  • Kang Kimin

    mantaapp.. blogger traveller dan budaya

    • Siti Mustiani

      iyess, bangga dengan budaya2 Indonesia tentunya

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *