Bukit Kedungkang & Taman Nasional Danau Sentarum

Kapuas Hulu check!!! Impian meng-explore 14 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat satu per satu hampir terwujud. Kali ini perjalanan saya menyusuri salah satu kabupaten terbesar di Provinsi Kalimantan Barat dan berada di tengah-tengah pulau Borneo yaitu Kabupaten Kapuas Hulu. Pernahkah kamu membayangkan air di Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjangnya sekitar 1,143 kilo meter berasal dari mana? Yap, tentunya dari bagian hulu-nya Sungai Kapuas tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, di sana terdapat danau yang besar yang menampung air tawar yang dialirkan ke sungai menuju setiap hilirnya dan menjadi sumber kehidupan setiap orang yang tinggal di sekitar sungai. Itu sebabnya kabupaten ini mendapat julukan “Heart of Borneo”.

Perjalanan panjang dari Kota Khatulistiwa menuju Heart of Borneo merupakan perjalanan tidak akan terlupakan, karena untuk pertama kalinya menempuh perjalanan darat menggunakan sepeda motor dimana waktu tempuh lebih dari 14 jam. Jadi, perjalanan ini melewati beberapa kabupaten dari Kota Pontianak, yaitu Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang kemudian Putussibau, Kapuas Hulu. Sebenarnya juga bisa melalui jalur Sarawak, Malaysia tapi karena masih pandemi semua kawasan border ditutup sementara, kalau sudah dibuka jangan lupa bawa paspor.

Destinasi utama saya adalah Bukit Kedungkang yang berada di Dusun Kedungkang, Desa Sepadan, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu. Sebelum sampai di kawasan tersebut, mengingat kami menggunakan kendaraan pribadi yang kami bawa sendiri selama perjalanan jadi perlu untuk istirahat dan mengisi tenaga kemudian melanjutkan lagi perjalanan. Beruntungnya punya teman yang rumahnya bisa disinggahi untuk bermalam/menginap seperti Pak Imam di Kabupaten Sintang, kemudian teman-teman GenPI Kapuas Hulu seperti Kak Vera, Wulan, Syam di Putussibau yang menyambut kami dan melayani kedatangan kami. Hiks terharu, oh ya ada Sabarmin dan Rizky Qalbi yang membantu perjalanan kami secara virtual, hehe.

Selamat Datang di Kabupaten Kapuas Hulu

Jadi, lama perjalanan pergi ditambah menginap satu malam di Sintang kemudian satu malam di Putussibau kira-kira dihabiskan selama 2 hari alias 48 jam. Tapi tenang selama perjalanan kami ada banyak singgahnya, jadi beruntungnya punya banyak spot menarik yang bisa dijadikan konten/bahan tulisan, hehe. Setelah explore singkat di Kota Putussibau, ganti oli, cari makan, perjalanan lanjutkan ke Lanjak, dari kota harus menempuh sekitar 3 jam lagi menuju Lanjak ke arah Badau (border perbatasan Indonesia-Malaysia).

Kondisi Jalan di Kapuas Hulu

Sekedar informasi, perjalanan dari Kota Putussibau ke Lanjak ini melalui jalur darat dengan jalan aspal yang mulus, hanya saja harus berhati-hati jika melewati jembatan karena ada beberapa jembatan terbuat dari kayu yang maksimal muatannya 10 ton saja, jalan ini juga dilalui oleh truk, karena ini hampir semua jalan ini melewati kawasan perbukitan jadi jalannya juga berliku dan naik turun. Walau pun mulus pastikan tidak mengantuk yaa, hehe. Oh iya satu lagi, kamu tidak akan menemukan Gas Station/SPBU di sepanjang jalan ini hanya ada beberapa rumah warga yang mejual dengan botolan/ken kecil dengan harga yaa lumayan lebih mahal daripada di SPBU, jadi pastikan kamu ngisi tangki minyak full di kota atau membawa cadangan bahan bakar menggunakan ken/dirigen.

Sedikit kesulitan memang untuk sampai disini jika tidak tau lokasinya dengan tepat, karena memang tidak ada lokasi Google Maps yang bisa membantu kamu untuk sampai di Dusun Kedungkang, ditambah tidak adanya petunjuk/plang yang cukup jelas. Untungnya saya bisa bertanya ke beberapa teman yang sudah pernah kesini ditambah juga bertanya dengan penduduk lokal. Nah, bagi yang ingin kesana saya kasi tips sebuah patokan mudah yaitu, sebelum pasar Lanjak ke arah Badau terdapat sebuah sekolah SMA Negeri 01 Batang Lupar, beloklah ke arah sekolah kemudian lurus saja mengikuti jalan utama sampai menemukan rumah Betang Kedungkang (disini jalan naik turun dan sedikit berbatu kerikil).

Nah, sebelum kita datang sebagai tamu untuk mengexplore kawasan ini kita diwajibkan untuk lapor dengan kepala dusun yang berada di Rumah Betang Kedungkang tempat tinggal masyarakat Dayak disana dan membayar biaya masuk Rp.5.000,-/orang. Tenang saja, masyarakat Dayak di kawasan ini sangat ramah bagi pengunjung, sungguh beruntung disini kita dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat Dayak di hulu dimana mereka benar-benar hidup di rumah tradisional bernama Betang Kedungkang, seperti kondisi suasana rumah, kegiatan sehari-hari seperti berladang/berkebun hingga berburu yang ditemani seekor anjing, bahkan ke laut (danau yang luas tersebut disebut laut).

Kedungkang
Rumah Betang
Menjemur

Jika diperhatikan lokasi Rumah Betang Kedungkang ini cukup menarik, selain benar-benar difungsikan sebagai tempat tinggal bersama juga tertelak sangat strategis, di bagian depan berdahapan langsung Bukit Kedungkang terlihat hamparan ladang dan ilalang yang hijau nan luas. Kemudian tak jauh dibelakang terdapat dermaga panjang ke Danau Sentarum. Pengunjung dapat datang ke sini lewat perjalanan rute air dengan menggunakan speed boat atau perahu air dari Semitau jurusan Lanjak, dan rute jalan darat seperti yang saya lakukan dari Kota Putussibau ke Desa Lanjak yah hanya sedikit memutar.

Bukit Kedungkang

Bukit Kedungkang bahkan banyak yang menyebutnya Bukit Babi hingga sekarang, menurut masyarakat lokal dinamakan demikian karena memang bukit tersebut dulunya digunakan untuk beternak babi tapi agak kebawah sedikit. Jadi, disebutlah bukit babi (walau pun saat saya kesana sudah gak ada babi nya) tapi secara administrasi dari dinas pariwisata nama bukit tersebut adalah Bukit Kedungkang.

Danau Sentarum

Walaupun Dusun Kedungkang ini tidak masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, tapi kawan ini punya daya tarik sendiri dan tetap dapat melihat hamparan air tawar di Danau Sentarum yang begitu luas, airnya yang tenang dan ditumbuhi bakau air tawar.

Danau Sentarum yang memiliki luas 132.000 Ha ini punya banyak keunikan, dimana ada musim-musim tertentu dibeberapa kawasan danau ini airnya dapat surut sehingga masyarakat dapat turun ke dasar danau ini, jika beruntung dasar danau ini akan membentuk kolam-kolam kecil dimana ada banyak ikan yang terperangkap didalamnya.

Jalan ke Dermaga
Air Danau Sentarum

Selain tinggal di rumah betang, masyarakat sekitar danau sentarum juga ada tinggal di rumah yang mengapung di danau, mereka membangun rumah tersebut disaat air danau sedang surut. Karena saya datangnya pada akhir Desember tentunya kawasan ini sedang pasang alias saat air sedang tinggi dan penuh-penuhnya.

Danau Sentarum yang menjadi kawasan Taman Nasional Danau Sentarum ini masuk dalam daftar lahan basah terpenting di dunia sejak 1994. Karena didaerah ini menyimpan banyak sumber kehidupan seperti tempat berlangsungnya hidup berbagai jenis ikan dan burung, sumber ekonomi masyakarat sekiar dan lain-lain. Jadi, pastikan setiap siapa pun yang datang kesini jangan pernah merusak kawasan ini ya.

Nah, sekian dulu perjalanan saya meyusuri kawasan Bukit Kedungkang dan Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, oh ia terima kasih juga saya ucapkan kepada teman-teman yang membantu saya dalam perjalanan ini. Sampai jumpa lagi di tulisan saya selanjutnya, semoga bermanfaat ^^

Be social share!

20 thoughts on “Bukit Kedungkang & Taman Nasional Danau Sentarum

  1. Kak Sitiiiii…. aku loh mupeng liat kakak explore kalbar…. semoga aku bisa juga sampai ke kapuas hulu ya kak… eehh sampai sintang pun jadilah…wkwkwk asli paling jauh aku ke sanggau doang, itupun belasan tahun yang lalu 🙁

  2. Waoa…keren Kak jalan-jalannya, mayan 14 jam perjalananan. Pas bulan Desember pula, danaunya lagi full yah…Asyik juga jalan-jalan di dermaga panjang gitu, sampai ada yg terendam, ngeri ga Kak?

  3. Aku nggak kebayang sih 14 jam di motor. Mungkin pegel bangrt banget kali ya. Tapi terbayar dengan keindahan alam Bukit Kedungkang dan Danau Sentarum. Perjalanan yang “wah” karena pengalaman begini tuh langka.

  4. Manteeeep, Saaaan. Mending kamu umur 27 tahun akhirnya ke danau terbesar itu. Lah aku udah umur segini belum pernah 😀 Btw, videonya keren. Suka lihatnya. Cuma musiknya terlalu kenceng, jadi suaramu kadang-kadang kalah 😀

  5. View yang ijo-ijo begini emang nyegerin ya. Seneng banget andai mudah datang ke sana. Bener-bener keren kak…

  6. Kak Kapuas PSBB nggak? Mau gas pol nih dari Banjarmasin. Hehehe.
    Astaga aku rindu sekali jalan puluhan kilo dari rumah. Sepertinya bisa jadi alternatif buat jalan-jalan nih

  7. Ya ampun, Mbak, surga banget itu. Sembilan bulan ini tiap hari pemandanganku hanya tembok dan tembok. Rasanya jenuh tingkat dewa. Gak kebayang kalau di daerahku ada tempat sehijau ini, pasti udah cap cus. Kalimantan check, next lanjut mana lagi nih?

  8. Kalau naik kendaraan sepeda motor itu berapa lama ya? Kalau aku perhatikan kayak jarak dari Malang ke daerah Semarang mungkin ya. Udah lama nggak ngebolah, jadi mauuuuu haha

  9. Kebayang gimana perjalanannya ke sana, tapi begitu sampai sih jauuuuh dr worthed. Menyenangkan melihat suasana di sekitar masih lekat dengan alam seperti itu, sekalian bertamu izin ketika masuk, kapan2 aku mau dong ke sini :3

  10. Aku suka baperan deh baca postingan Kakak. jalan-jalan terus. Kan jadi mupeng. Pemandangan danaunya indah banget kak. Baca cerita kakak di blog jadi bisa ngebayangin perjalanan ke sana terbayarkan dengan pemandangan semahal itu.

  11. Keren banget alam di negara kita ini. Jangan jauh-jauh ke LN. Ternyata luar Jawa nih banyak banget alam indah seperti Bukit Kedungkang yang asri menghijau dan Danau Sentarum yang bikin sejuk di hati. Semoga bisa travelling spt Kakak… Nunggu anak besar dulu, hehe

  12. Wah alam di bukit kedungkang sangat indah banget ya mbak. Biaya masuknya pun sangat murah banget. Jadi pengen eksplor ke taman nasional danau sentarum nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *