Kampung Baca Desa Tanjung Saleh

Weekend ini kemana nih? *bingung. Yaudah ikut teman aku yuk, kemana? udah ikut aja, baiklaahhh…

Ternyata akhir pekan kala itu saya diajak ke salah satu kampung yang ramah dimana sebagian besar transportasi utamanya ada di sungai, namanya Desa Tanjung Saleh, tertelak di pesisir kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Tanpa disangka perjalanan kali ini juga memiliki makna tersendiri terutama di Kampung Baca Tansal, seperti pengetahuan baru, teman baru yang cinta dengan dunia literasi, bahkan semangat baru. Seperti apa? Lanjut yuk.

Menyusuri Sungai

Kali ini saya bersama teman-teman baru yang luar biasa, yaitu Siti Badariah Tanjung yang merupakan Founder atau Pendiri Kampung Baca Tansal sejak tanggal 05 Desember 2017, kemudian ada Kak Jesita Resi beliau adalah Duta Baca Kalimantan Barat 2017 dan Kak Quratta Ayun penggiat literasi lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Tanjungpura 2019.

Perjalanan kali ini dimulai saat siang hari dengan penyebrangan sampan motor di pelabuhan pasar Sungai Kakap dengan menempuh perjalanan sekitar 30 menit sambil menyursuri sungai dan kami tiba di Rumah Kampung Baca Tanjung Saleh. 

Rumah Kampung Baca Tansal Dusun Parit Pangeran

Menurut saya kawasan Tanjung Saleh ini benar-benar masih sebuah kampung yang cukup jauh dari fasilitas yang lengkap, bahkan akses internet juga agak sulit diakses, bahkan sinyal telepon ada tapi sedikit sulit dan lemah.

Oh ya, listrik di desa Tanjung Saleh hanya menyala saat jelang sore mulai pukul 16.00 WIB hingga malam dan jelang pagi pukul 06.00 WIB. Setelah itu, listrik kembali padam (seperti di pulau).

Bersama Warga Tanjung Saleh

Sembari mendengar cerita dari Siti Badariah Tanjung, membangun kreatifitas di tengah keterbatasan yang ada dan akses jalan yang sulit, dan hanya bisa ditempuh dengan kendaraan air, tidaklah sesederhana itu. Butuh perjuangan, mulai dari mengumpulkan buku-buku bacaan, mencari volunteer atau guru pengajar, bahkan Kak Badar juga ikut mengajar disebuah rumah yang dibuat satu ruangan dengan berbagai rak buku yang ada di dalamnya.

Keberadaan Kampung Baca ini sungguh sangat membantu anak-anak tetap belajar meski ditengah keberbatasan akses internet. Menurut kak Badar sendiri, adanya Kampung Baca Tansal harapannya agar anak-anak di pesisir tidak ketinggalan informasi di luar sana, meski mereka berada jauh dari pusat kota, paling tidak mereka tidak hanya mengenal kampung mereka saja, tetapi juga dunia luar sana melalui taman baca ini, yang kapan saja bisa mereka datangi untuk membaca buku-buku yang tersedia disini, semua layanan ini gratis tanpa di pungut biaya sepeserpun.

Jalan-jalan keliling Kampung Tanjung Saleh
Anak Anak Pulang Mengaji
Bahagia Melihat Foto di Drone

Saat ini keberadaan Kampung Baca Tansal, mendapat sambutan antusias bagi warga Desa Tanjung Saleh. Anak-anak kita dapat mengisi waktunya dengan belajar membaca, dan terus menambah wawasan dari buku-buku di Kampung Baca yang beragam, sesuai dengan minat baca anak-anak ini. Bahkan koleksi buku-buku di Kampung Baca Tansal ini telah mencapai sekitar 4.000 buah buku.

Dengan adanya semangat literasi seperti kak Badar dan teman-teman, semoga bisa menginspirasi kita semua. Karena pada dasarnya kita punya banyak kesempatan untuk terus belajar dimana pun dan kapan pun bahkan kepada siapa pun.

Salam literasi!

Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *