Canyoneering di Riam Sentegung Landak

Aktivitas olahraga extrem ini kayaknya lagi hits deh di Kalimantan Barat dalam beberapa bulan terakhir ini, bahkan lokasinya bukan hanya satu tapi ada beberapa. Jadi namanya Canyoneering yaitu aktivitas panjat tebing tapi bukan dari bawah melainkan turun dari atas, atau istilahnya itu rappeling tapi lokasinya di aliran air terjun.

Pertama kali aku tahu tentang kegiatan ini saat ada konten fyp di TikTok tapi di pulau jawa (aku lupa nama tempatnya curug apa gitu), nah kalau panjat tebing ini sepertinya dulu aku juga pernah ikut-ikutan teman yang anak mapala untan latihan di basecamp mereka, terus pertengahan 2025 ikut-ikutan lagi wall climbing indoor di grabfit merupakan fitnes center (baru juga di Pontianak). Hahahah, maafkan kelakuan fomo ku ini yah, tapi setidaknya menjawab rasa penasaran kan.

Setelah kegiatan wall climbing tersebut aku punya banyak teman baru, termasuk para instruktur yang hobinya gak jauh-jauh lah dengan organiasi mapala, dari situlah muncul lagi informasi tentang canyoneering yang akan dibuka untuk pertamakalinya di Kalimantan Barat. Tapi aku belum tertarik, maksudku pasti kalau ada yang baru-baru buka kayak gitu banyak yang fomo juga.

Ternyata mereka membuat semacam open trip yang jumlahnya dibatasi, pilihannya bisa langsung di lokasi kegiatan juga ada yang meeting point-nya di Pontianak, kegiatannya pun tidak setiap hari melainkan di tanggal-tanggal tertentu (kebanyakan weekend sih). Lokasi pertama yang aku tahu itu adalah di Riam Merasap di Kabupaten Bengkayang, dan yang kedua ada di Riam Sentegung Kabupaten Landak.

Akhir November 2025, akhirnya aku memutuskan untuk nyobain canyoneering ini di Riam Sentegung Kabupaten Landak, berdua saja dengan temanku Trisna. Kami berdua memilih PP (Pulang-Pergi) di hari yang sama, lokasinya gak jauh kok 4 jam saja dari Pontianak, dengan perhitungan waktu perjalanan-kegiatan canyoneering-istirahat-pulang semua sesuai dengan target yang direncanakan.

Okee, karena trip ini dibatasi jadi sebelum menuju lokasi kita registrasi dulu sama admin trip canyoneeringkalbar, karena kita memilih meeting point langsung di tempat kegiatan harganya Rp.355.000,- per orang, harga ini sudah termasuk semua alat-alat yang dipinjamkan, asuransi (maklum ini kegiatan extreme kan), makan siang, serta dokumentasi oleh photographer professional. Oh iya kalau pilih meeting pointnya di Pontianak harganya Rp.650.000,- ini perginya pakai mobil, jadi tinggal bawa diri dan perlengkapan pribadi aja.

Aku sama Trisna, berangkat dari Pontianak jam 4 pagi, motoran sampai ke Ngabang. Sejauh ini perjalanan lancar, karena jalan juga bagus lokasi riamnya juga gak jauh dari pusat Kota Ngabang, mau ikuti google maps pun titiknya juga sudah sesuai. Sebelum aktivitas canyoneering dimulai, semua perserta diminta untuk berkumpul untuk absen regristrasi, pemanasan, mendengarkan instruksi dari intruktur, dicontohin sama intruktur juga, bahkan dikasi tips-tips untuk gaya ketika canyoneering untuk difoto nanti.

Dicontohin dulu

Tentu turunnya juga satu-satu ya, berdua juga boleh sih jadi semua peserta harus antri. Oh iyaa, salam satu group ini dibagi menjadi dua sesi karena diantara dua sesi itu ada waktu istirahat solat makan siang, tapi berhubung jumlah peserta kali ini tidak banyak jadinya dibuat satu sesi saja.

Meskipun tidak banyak tapi tetap saja aku menunggu kurang lebih dua jam (wajar sih aku peserta nomor urut 20 😂), ditambah lagi saat peserta turun itu tidak dibatasi waktu, hanya menggunakan perkiraan peserta sudah cukup puas/capek baru deh ganti peserta lainnya.

Pemasangan alat
Menunggu antrian

Nunggu dua jam, hemmm ini aku gunakan untuk memperhatikan peserta-peserta lainnya turun sekalian nyari referensi cara turun yang bagus, gaya foto yang oke, meskipun sambil overthingking etdaahhh bisa gak aku yah ini, wah langit mulai hujan bagus gak ya difoto nanti, wkwkwk.

Etapi sambil nunggu ini harusnya sambil makan snack atau kue-kue sih, lumayan juga bikin laper, tapi sayangnya aku lupa gak beli jajan pas perjalanan pergi tadi hiks, seharusnya di sini disediakan kantin kan.

Daannn setelah menunggu, akhirnya giliranku juga! Satu persatu alat dipasang seperti helm, harness, tali (rope), pelindung lutut/siku, carabiner, sarung tangan, kaca mata, dan sepatu khusus yang anti-slip. Setelah semua alat terpasang dengan nyaman, barulah kita naik lewat tepian tebing tak jauh di bagian kanan riam sentegung.

Sampai atas tentu ada antrian dua peserta sebelum aku, tiga panitia/petugas yang sudah dibagi-bagi jobdesk-nya, sampai di sini pun masih ada intruksi lagi seperti mana tali yang perlu dipegang, posisi kaki serta tangan, dan lain sebagainya. Ketika semua set ready, baru deh turun pelan-pelan.

Are you ready?

Gimana rasanya? WOAH INI BENAR-BENAR MENGUJI ADRENALIN YANG LUAR BIASA!!! Air Terjun ini ternyata tinggi sekali tak seperti kelihatannya dari bawah, ya iya lah 30 meter loh ini. Aku turun seketika hujan juga turun (tapi gak deras, hanya rintik-rintik), seketika suara dari atas ada yang berteriak memberi energi “Ayo Kak, Nikmati Hujannya!!!”.

Aku turun dengan tenang sesuai instruksi, sampai ditengah aku memberikan kode kalau sudah siap menahan tali untuk pose foto di sini, aku coba sesuai contoh seperti backflip, serta gaya-gaya lain yang aku gak tahu namanya, seperti apa hasilnya? Berikut ini postingannya, ku tambah-tambah text biar ada emosinya dikit 😌

Gimana oke kan? Hahaha bolehlah yah apalagi ini first time, aku lupa berapa lama proses turunnya ini tapi kayaknya gak sampai 20 menit deh ku rasa, secukup aku merasa puas lalu turun dibantu dengan petugas lain yang menunggu di bawah.

Karena aku turunnya gantian biar ada yang foto/videoin aku pake handphone jadi setelah aku melepas alat lanjut giliran Trisna, aku menunggunya dan videoin dia juga, barulah kami berdua makan siang di pondok. Menu nasi lengkap dengan daging rendang, sayur serta sambal ini nikmat sekaliiii, tapi bagiku porsi segini kurang sih (kurang banyak), wkwkwk.

Menu makan siang

Setelah semua peserta selesai, satu per satu semua pamit. Ternyata gak semua juga dari Pontianak, beberapa ada yang dari Sanggau, Landak, bahkan Sintang. Oh iyaa sebenarnya mereka juga punya basecamp jadi misalnya kalau mau bermalam sebelum kegiatan, atau mau bersih-bersih berganti pakaian/mandi juga bisa, lokasinya sekitar 300 meter dari lokasi Riam Sentegung.

Overall, aku puas dengan aktivitas canyoneering ini, karena segala informasi bisa didapatkan dari panitia lewat group WhatsApp, instruksi jelas, alat-alat dalam kondisi baik sesuai standar operasional, bahkan mereka merangkul semua peserta dengan ramah meskipun dari banyaknya peserta belum kenal sama sekali sebelumnya.

Mau lagi? Hemmmm, boleh aja sih. Btwe, aku juga buat video singkatnya berikut ya!

Riam Sentegung
Desa Mungguk, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat

Share this post:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *