Tektok Pendakian Bukit Batu Wangkang
Pendakian kali ini dilakukan dengan metode tektok! Yes, karena lokasinya cukup dekat dari pusat kota pontianak, ketinggian juga masih kategori masuk akal untuk one day trip, dan setelah melihat review beberapa teman yang pernah ke sini, tempat ini juga sering dijadikan jalur running trail.
Jadi gak salah banget memilih tektok, meskipun sebenarnya bisa camping juga dengan bonusnya dapat lautan awan ketika sunrise kalau cuaca cerah, tapi kalau malas bawa peralatan pendakian seperti tenda dan logistic apalagi hanya punya waktu singkat ternyata bolehlah dicoba.
Nama tempatnya adalah Bukit Batu Wangkang lokasinya di Kecamatan Kubu, Desa Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Kalau dari Kota Pontianak itu sekitar kurang lebih 2 jam 30 menit. Nah, lewat artikel ini aku tulis semua detail perjalanan sesuai pengalaman yang aku lakukan bersama teman-teman pada awal Desember 2025 lalu.
Perjalanan dimulai hari Minggu 7 Desember 2025, pukul 5 pagi dengan tikum di rumah Putri di Rasau Jaya. Sambil mempersiapkan peralatan ringan, bekal, dan menunggu semua tim berkumpul, sehingga perjalanan benar-benar baru dimulai pukul 6 pagi. Check point pertama adalah Dermaga Penyebrangan Bintang Mas, Desa Bintang Mas, Kecamatan Rasau Jaya, Kubu Raya.

Entah kapan terakhir kali aku lewat di jalan rasau jaya ini mungkin tiga tahun yang lalu ya, ternyata sekarang jalannya sudah bagus. Saat menuju dermaga penyebrangan ada beberapa genangan air tapi bukan karena hujan, melainkan air rob pasang dari sungai.
Nah, di dermaga ini kami melakukan penyebrangan dengan membawa motor melewai aliran sungai kapuas, bukan kapal ferry ya tapi kapal motor atau kapal klotok gitu. Harganya dihitung per motor yaitu Rp.5.000,- sedangkan jumlah orangnya gak dihitung. Jangan kawatir menaikkan motor ke atas kapal, karena dibantu sama petugas kapalnya. Nyebrangnya gak lama kok, terhitung sekitar 5 menit deh. Karena memang benar-benar lagi banjir, turunnya aku sempat was was soalnya, banjir di bagian sebrang ini lebih tinggi.

Perjalanan dilajutkan ke lokasi pendakian, melewati perkebunan sawit yang jalannya berdebu tanah kuning dan mirip labirin kurang lebih 1 jam 30 menit, sampai bertemu sebuah gereja di Desa Ambawang Dusun Parit Sembilan.
Sampai terlihat sebuah gereja besar, itu artinya kita sudah sampai. Di desa ini kita izin dulu ke ketua RT dan registrasi di pos pendakian sekaligus parkir kendaraan di gerbang selamat datang wisata alam batu wangkang. Untuk harga tiket masuknya ini Rp.10.000,- orang sudah termasuk parkir kendaraan ya.
Tepat pukul 9 pagi, setelah urusan regis, parkir kendaraan, packing-packing kecil, ngonten dokumentasi, barulah kita mulai pendakian santai ini. Terlihat ketika kami baru mulai naik, beberapa tim pendaki lain ada yang turun, sepertinya mereka adalah pendaki yang camping dari hari sebelumnya. Dalam pikiran berarti puncak sepi nih (seharusnya).

Seperti yang ku katakan di awal, pendakian ini masuk kategori middle easy, dengan perjalanan kurang lebih 2 jam sampai puncak tepatnya di ketinggian 343 mdpl, jalur 60% landai, banyak petunjuk arah, jalur terlihat jelas (ini juga karena pendakian dilakukan siang hari), ada pos mata air, sinyal internet so far lancar karena ketika aku matikan mode pesawat notifikasi langsung masuk, eaaa tapi aku lebih senang matikan internet sih biar hemat daya dan gak dihubungi siapapun meski gak ada yang nyariin juga wkwk.
Oh iyaa, dari kaki bukit tadi selama trekking bahkan sampai puncak kita sebenarnya ada akamsi seolah guide kami, tapi bukan orang melainkan beberapa ekor anjing. Anjing-anjing ini jalannya kadang lebih cepat, kadang ada di belakang, bahkan saat di pos bahkan di puncak mereka juga ikut istirahat. Sepertinya anjing ini memang peliharaan warga desa yang dilepaskan bebas, karena sering melihat pendaki jadinya sekalian main di kawasan ini ya, hehe lucu sekali.

Gimana jalurnya? Easy? Hahaha, ini menurutku tergantung si pendakinya, kalau untuk yang jarang mendaki mungkin tempat ini bisa jadi pendakian permulaan sebelum mendaki puncak yang lebih tinggi, perlu latihan di hari sebelumnya.
Sedangkan aku pribadi yang sudah biasa, ini termasuk mudah tapi karena umur (mungkin) yang sudah menginjak 30+ secara fisik masih kuat sih tapi tetap perlu dikit-dikit istirahat juga selama di jalur. Untungnya ini pendakian santai yaaa, tak dikejar malam, yang harus buru-buru. Untungnya juga bawaan tektok kan tidak banyak, jadi pakai daypack ya cukup.
Oh iyaa, hampir semua jalur ini tertutup pohon, meskipun baru naik siang jadi gak kepanasan, jalannya juga tanah batu kering, gak licin dan gak ada pacat. Yah, semoga pas kamu ke sini juga tidak saat hujan ya.

Sesuai perkiraan pukul 11 siang kami semua sudah sampai di puncak, terlihat ada plang yaaa, area puncak ini cukup landai juga ternyata beberapa bisa lah jadi tempat untuk mendirikan tenda. Bebatuan besar di sini juga cukup untuk duduk-duduk sekitar 10 orang. Sudah sampai puncak ngapain? Ya tiduuurrr dulu lah, hahaha. Iyaa, beberapa dari kami memilih membentangkan hammock, dan tidur siang setelah makan siang.







Barangkali ada yang skip-skip baca artikelnya, aku juga buat video rangkumannya juga kok, hehe berikut ya:
Lokasi Bukit Batu Wangkang:
