Tengkawang, Pohon Kehidupan Harta Masyarakat Adat

Di Kalimantan ada satu tanaman yang tumbuh subur di tengah hutan hujan tropisnya, sebuah pohon endemik segudang manfaat yang keberadaannya dilindungi oleh masyarakat adat khususnya Adat Dayak, namanya Tengkawang dari jenis Pohon Meranti.

Aku menemukan tumbuhan ini tanpa sengaja ketika melewati sebuah jalur pendakian untuk melihat bunga Refflesia Tuan Mudae di Kabupaten Bengkayang. Bisa dibilang aku cukup beruntung melihatnya, karena tanaman ini tidak berbuah sepanjang tahun, bahkan ada yang butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk berbuah kembali.

Pohon Tengkawang yang sedang berbunga

Bunga Tengkawang yang aku lihat ini masih baru berbunga belum saatnya dipanen lokasinya di Desa Cipta Karya, buah Tengkawang siap dipanen ketika ukurannya sudah besar dan sudah gugur sendiri dari pohonnya. Ketika dipanen pun tidak semua diambil, hanya sekitar 70% sisanya untuk regenerasi dan pakan hewan liat. FYI, salah satu burung endemik dari sini juga yaitu Enggang/Rangkong yang hidup bebas juga memakan buah ini.

Sedikit banyak informasi yang aku dapat ku buatkan konten coursel di instagram, dengan beberapa tambahan proses lainnya sampai menjadi minyak. Tambahan footage lainnya aku dapatkan di Desa Sahan masih sama-sama di Kabupaten Bengkayang yang diambil oleh temanku Aris dan Aldi.

Konten di instagram tersebut sedikit banyak sudah memperlihatkan proses pembuatan sampai menjadi minyak tengkawang, illipe butter yang ramah lingkungan. Itu semua dilakukan di satu kawasan bernama Koperasi Produsen Pikul Tengkawang Layar (Sentra Pengolahan Buah Tengkawang) oleh Masyarakat Adat Hutan (MAH) Pikul, di Desa Sahan, Kacamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat.

Buah Tengkawang siap dipanen
Memisahakan biji tengkawang dengan kulitnya
Proses mengupas kulit dan biji tengkawang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *