Mencoba Cinta sama Pulau Lemukutan [Episode 1, 2, dan 3]

Setelah tiga tahun lamanya aku kembali lagi ke Pulau Lemukutan, itu artinya terakhir kali 2023 lalu. Jadi dulu tuh sebenarnya, aku sering sekali ke pulau ini bahkan dalam setahun bisa ku kunjungi lebih dari 10 kali, tapi itu dulu ya, berhubung karena suatu hal kecil ada yang membuatku malas untuk datang sering (mungkin saja aku sudah bosan kali ya haha😌).

Sekarang setelah tiga kali puasa tiga kali lebaran wkwk, akhirnya main lagi ke sini. Aku bawakan lagi cerita yang lebih banyak, lebih baru karena aku nyoba beberapa hal baru dan mengunjungi sudut Lemukutan yang baru pula.

Oh iya, tak biasanya juga nih aku trip bersama rekan kerja, berhubung masih libur lebaran Idul Adha juga, direncanakannya pun dadakan tapi langsung gass. Nah, perjalanan kali ini kita lakukan secara mandiri (tanpa guide), jadi hanya booking villa satu malam termasuk penyebrangan PP (Pelabuhan Teluk Suak-Teluk Cina Pulau Lemukutan). Di artikel ini sekalian ku update ya, beberapa fasilitas maupun aktivitas barunya.

Selamat pagi Singkawang

Untuk keberangkatan dari Pontianak kami motoran ber lima (Aku, Wery, Taufiq, Rey, dan Ponco) Jumat malam. Kemudian menginap di Singkawang satu malam di rumah keluarga Galang, karena kita sudah harus di Pelabuhan Teluk Suak pukul 7 pagi jadi lebih santai dan tidak terburu-buru.

Di perjalanan kali ini entah kenapa kepikiran karena saking banyaknya yang ingin aku bagikan, ku buat video-video perjalanan sampai tiga episode (bahkan sebenarnya kalau dihitung semua ada 5 konten reels dan 2 feed yang aku upload di instagram) beberapa kontennya aku sertakan juga di artikel ini yaa, sambil kita cerita-cerita santai tentang perjalanan ini.

Episode 1: Welcome Back to Lemukutan

Untuk episode pertama aku ceritakan dari awal keberangkatan nya, tapi di video yang aku record dari Singkawang ya. Pagi itu setelah sarapan yang kami nikmati menu sederhana dari ibunya Galang, tepat pukul 6 pagi kami mulai berangkat ke arah Pelabuhan Teluk Suak, cuaca Singkawang saat itu cerah sekali, warnanya hangat, sehangat suasana hati yang berharap selama di pulau pun dapat cuaca yang cerah juga.

Tapi aku tidak terlalu berekspektasi yang banyak juga mengingat ini hari libur nasional yang tepat di akhir pekan, kalau ramai banget yaudah wajar. Kalau tiba-tiba mendung dan hujan yaudah mau gimana lagi kadang alam memang tidak bisa ditebak kan? Yang penting sekarang enjoy aja sama perjalanannya, lagi pula aku ke sini bisa kapan saja tapi sama mereka? Who knows? Karena hidup ini setiap ada pertemuan pasti juga ada perpisahan.

Pelabuhan Teluk Suak masih sama lokasinya, tepatnya di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang. Ketika masuk gerbangnya ada banyak orang-orang yang menawarkan tempat untuk parkir kendaraan, tapi berhubung Galang sudah punya tempat langganan jadi kita ngikut aja.

Pelabuhan Teluk Suak

Anyway, Galang ini sebenarnya bukan rekan kerja kami beliau salah satu mahasiswa jurusan pendidikan agama Islam dari UMP yang pernah menjadi guru magang/PPL selama tiga bulan di sekolah kami, bagi kami beliau cukup melokal yaa karena sering bolak balik Sambas, Singkawang, Pontianak.

Oh iya Galang juga yang bertugas untuk booking kapal dan villa bahkan cari sewaan motor dan dokumentasi drone saat main banana boat di Pulau Lemukutan. Terima kasih Galang, jadi gak cuma jadi guide, tapi kami pun dapat tumpangan istirahat dan makan gratis sebelum dan ketika pulang dari pulau hehe. Beruntung punya banyak teman yang baik-baik kayak gini.

Pelabuhan Teluk Cina, Pulau Lemukutan

Untuk ke Pulau Lemukutan itu kita dapat memilih kapal tapi harus booking dulu, kali ini kapal yang kita gunakan adalah kapal milik Bang Supri, sekalian beliau juga yang mengelola penginapannya. Penginapannya ini juga baru ternyata, namanya Alsaki di Teluk Cina.

Nah, seseringnya aku ke pulau-pulau yang sekitaran Kalimantan Barat akhir-akhir ini, kalau kapal ke Pulau Lemukutan memang lebih besar daripada kapal ke pulau lainnya, karena memang perkembangan pariwisata di Pulau Lemukutan lebih populer, yang membuka jasa liburan ke pulau ini pun ada banyak. Sedangkan kalau ke pulau lainnya itu biasanya menggunakan kapal nelayan, dan itungannya pun charter.

Kapal ke Pulau Lemukutan memang sudah didesain khusus untuk membawa penumpang, untuk update harganya sendiri biasanya sudah include penginapannya sendiri. Tapi kalau cuma kapal harganya sekitar 30ribuan. Hal menarik yang baru aku rasakan setelah sudah lama tidak naik kapal ke Pulau Lemukutan adalah kapalnya menyediakan jaringan WiFi gratis, ku perhatikan mereka memasang starlink mini dengan bahan bakar tenaga surya. Mantap!

Selain kapal juga aku beru tahu kalau ada alternatif lain untuk ke Pulau Lemukutan dengan waktu yang lebih cepat, yakni naik speed boat dengan alokasi perjalanannya hanya 15menit, sedangkan kalau naik kapal bisa 1 jam 30 menit. Tapi aku belum dapat update harga kalau pakai speed boat ini, bisa jadi sekitar 1 jutaan ya per kapal yang isinya ada 10-15 orang.

Hanyaa yang aku cukup disayangkan adalah, dermaga teluk cina ini untuk naiknya lama sekaliii, meskipun aku cukup maklum ya karena kita harus antri untuk tiket masuknya (per orang 5ribu) ditambah memang sedang high season jadi ramai, tapi kayaknya keramaian ini rasaku sudah terjadi sejak lama, yang membuatku tidak nyaman adalah berdempet-dempetan dengan orang lain (ini kecampur antara yang baru datang dan mau pulang) semuanya ada di atas dermaga kayu dalam waktu bersamaan, jadi kelihatannya sangat sesak di tengah siang hari pula (bisa bayangkan?).

Jadi, aku menghabiskan waktu di dermaga ini kurang lebih satu jam, karena yang antri naik bukan hanya orangnya tapi kapalnya juga. Setidaknya ada lima kapal besar yang ingin bersandar di dermaga ini.

Toko Cendramata di Pulau Lemukutan

Setelah satu jam lebih sedikit, kami bergegas langsung menuju penginapannya, oh iyaa ternyata di dermaga ini jadi lebih ramai karena juga sekarang ada UMKM yang berjualan, menarik yaa banyak pernak-pernik a la pulau termasuk oleh-oleh khas Pulau Lemukutan, kalau dulu hanya snack-snack saja sekarang tambah banyak seperti hiasan-hiasan dari kerang-kerang gitu.

Perjalanan ku lanjutkan ke Penginapan Alsaki yang tak jauh dari dermaga, kami istirahat sebentar, cari makan siang, lalu melanjutkan aktivitas lainnya yang ceritanya yang bersambung ke episode 2.

Episode 2: Tiga Hal Seru di Lemukutan

Karena ini trip mandiri, beberapa aktivitas berbayar lainnya kami lakukan secara terpisah, seperti makan siang yang tidak include dalam penginapan tapi villa yang kami pilih ini menyediakan dapur umum lengkap peralatan masak dan makannya, tapi berhubung sudah cukup lelah jadi kami cari tempat makan sekitar penginapan biar bisa langsung makan saja.

Rencananya ada beberapa kegiatan yang kami lakukan hari ini, pertama adalah main banana boat di jam 4 sore, bukan wahana baru sih tapi semenjak terakhir kali aku ke pulau fasilitas ini belum banyak. Jadi, ini adalah experience pertama ku nyoba banana boat di Pulau Lemukutan. Paketan main banana boat ini harganya 75ribu per orang, aku lupa jumlah minimal dan maksimalnya, intinya kami naik ber enam selama kurang lebih 15 menit.

Mereka sudah menyediakan semuanya, termasuk yang bantu dokumentasi pakai handphone dari boat yang menarik banananya. Jadi ada yang bertugas koordinasi di dermaga untuk menentukan antrian dan bantu memakai life jacket, kemudian di boat ada dua orang (satu yang mengendalikan mesin boat, satunya lagi semacam abk sekaligus videoin dari boat), lalu ada pilot drone yang sudah paham betul untuk pengambilan momen selama aktraksi.

So far aku tidak terlalu khawatir akan tenggelam di laut, karena sudah pakai life jacket, air laut pun kali ini tenang, cuaca cerah, airnya bersih. Selama permainan kami diajak berkeliling sekitaran dermaga, dan dijatuhkan dua kali dengan cara belokan tajam, semakin seru dan menguji adrenalin karena saat belokan dilakukan tanpa aba-aba. Menyenangkan sekali! Selain banana boat ada juga wahana air lainnya seperti canoe, padle boat, dan snorkeling.

Sudah cukup puas? Kami kembali ke penginapan untuk berganti baju karena kegiatan selanjutnya adalah hunting sunset di Tanjung Merohom. Karena kami berenam, kami menyewa tiga motor. Begitu motornya siap di depan penginapan, kami pun motoran dari Teluk Cina ke Teluk Melanau, lalu berbelok kanan ke sisi pulau di arah barat.

Perjalanan menyusuri jalan yang naik turun tanjakan, dengan pemandangan setengah laut cukup bikin nostalgia, seakan ‘hey dulu aku ke sini jalannya gak sebagus ini, haha. Juga dulu penyewaan motor tidak banyak. Btwe, sewa motor ini harganya 70 per unit jadi kalau boncengan berdua bisa patungan 30ribu per orang, kita semua dapatnya motor matic.

Tanjung Merohom, yang terletak di sisi barat Pulau Lemukutan menjadi spot favorit untuk menikmati sunset bagi pengunjung. Sebagian besar lokasinya tidak dihuni penduduk, penginapan pun jarang ada di sini. Kabarnya selain tidak ada dermaga terkadang gelombang lebih tinggi di musim-musim penghujan atau angin laut selatan, arus air lautnya lebih kuat, area tepi lautnya kebanyakan batu besar ketimbang pasir. Jadi lebih worth it memang kalau untuk sunset saja, di atas batu besar menghadap barat saat langit cerah, wih dapatlah sunset yang sempurna.

FYI, tanjung merohom punya beberapa spot untuk menikmati sunset ada yang gratis ada yang berbayar, tapi yang paling bagus tentu yang premium jadi kita bayar saja karena ada tiket masuknya yaitu 10ribu per orang. Area nya cukup luas, jadi yang datang pun semuanya kebagian tempat.

Kami membawa tripod, alas kain, dan beberapa snack untuk kami nikmati a la piknik sambil bikin timelapse sampai matahari tenggelam. Sunsetnya benar-benar bagus, tidak salah trip ini dilakukan akhir dan awal bulan (meski cuma satu malam tapi ini masuk penanggalan dalam dua bulan karena 31 Mei sampai 1 Juni).

Okee episode 2 sudah cukup, karena setelah sunset kita kembali ke penginapan untuk makan malam, copy file drone, dan istirahaatttt. Gak boleh begadang takut besok pagi bangunnya kesiangan, karena kita ada rencana untuk lihat sunrise hehe.

Episode 3: Sunrise Pantai Batu Putih

Sudah episode terakhir nih, kalau di video aslinya aku memang terdengar agak galau yaa di awal. Haha karena dulunya aku tuh kalau ke Pulau Lemukutan nginepnya di sini di pantai batu putih tempatnya pak raidi. Dan setelah sekian lama aku ke sini juga, beberapa suasananya tidak berubah satu pohon berar mengarah ke laut tepat menghadap timur, tapi banyak kenangan manis-pahit yang buat aku mengingat hal akan itu lagi.

Sedih ya? Hemm nggak juga sih, justru aku bersyukur bisa liat pak raidi dan istrinya di warung yang Alhamdulillah masih sehat. Mereka tidak mengingatku lagi seperti ya, seraya aku coba memesan minuman hangat untuk teman-temanku kala itu, tapi aku paham pasti karena sudah cukup lama dan mereka juga pasti ketemu banyak orang. Namun, yang tak ku kutemui waktu itu adalah nekwan, semoga beliau juga masih sehat Aamiin.

Aku dan teman-temanku kembali menikmati sunrise tanpa mandi, mengambil beberapa foto dan video sesaat warna matahari beserta langitnya oranye. Cakep! Aku senang, ternyata pagi itu tak seramai ekspektasi, kurasa tak semua orang mampu untuk bangun lebih pagi. Sedangkan kami? Kami semua pendidik yang harus sudah di sekolah setiap jam 6.45 pagi, gak mungkin kesulitan untuk bangun pagi hehe.

Puas-puas menikmati matahari terbit, aktivitas selanjutnya adalah mencari sarapan. Jadi perjalanan dari pantai batu putih ke penginapan kami singgah beli sarapan cepat saji yakni nasi kuning dan nasi uduk, Wery dan Galang nitip doang katanya. Tapi sebelum sampai ke penginapan, tiba-tiba Reynaldi ini berbelok ke satu rumah tepat di sebuah warung persimpangan dermaga, aku heran sejenak ternyata beliau punya keluarga di sini.

Suatu kebetulan yang tak terduga sekali sih ini. Jadi aku, Taufiq, dan Ponco ikutan mampir dong. Berhubung ini hari ketiga Idul Adha yah kami datang seolah-olah sedang lebaran. Reynaldi ini asli orang Sambas yang lama tinggal di Pontianak, sedangkan keluarga yang dijumpainya ini merupakan keluarga dekat Rey waktu di Sambas, mereka sudah tinggal di pulau ini lebih dari 10 tahun.

Sejenak sang ibu mengeluarkan beberapa kue khas Sambas, satu diantaranya yaitu Kue Putu Rateh, masya Allah baru kali ini aku ada di tengah keluarga Sambas yang kental, sedikit banyak kami mengobrol dengan campur-campur bahasa Sambas (aku cukup paham, karena yaa itu bahasanya dicampur, hehe). Kami pamit, tentu dibawakan juga oleh-oleh. Alhamdulillah, manis ya 😊

Yak, intinya perjalanan ini ada banyak hal manis dan menyenangkan, di luar kisah masa lalu yang ingin dilupakan. Aku beruntung berteman dengan mereka, tidak ada drama, tidak ada yang dikit-dikit ngeluh, semua rekan-rekan guru ini cukup open minded, senang diajak kerjasama. Semoga ada waktu lagi, kita bisa trip bersama lagi.

Oh iya satu lagi video horizontal yang direkam pake Xiaomi POCO oleh Reynaldi yang katanya asal rekam, tapi malas edit, jadi aku yang edit dengan tambahan lirik lagu dengan judul Tak Apa Akui Lelah dari Banda Neira. Footage nya dari pulau, pantai gosong yang kami singgah saat perjalanan pulang, hingga sampai berpisah di Pontianak Kota.

Selamat menikmati, dan sampai jumpa lagi di cerita perjalanan lainnya!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *