Cerita perjalanan ini sebenarnya sudah pernah aku share di sosial media (reels instagram dan video tiktok), tapi tau lah sebagai blogger aku belum puas cerita semuanya! Ada beberapa hal yang bukan sengaja tidak disampaikan, tapi memang durasi video kan singkat ya, plus juga sebisa mungkin sampaikan yang baik-baik tapi tetap jujur.
Kayak misalnya, aku gak ceritain ketika passport ku salah cap, koper ditimbang sampai dua kali, sempat gagal beli internet roaming, ngisi MDAC, dan masih banyak lagi. Lewat tulisan blog ini aku coba ceritain semuanya ya, jadi baca sampai habis. Ok?
AK1782 jadi nomor penerbangan pesawat AirAsia Pontianak-Kuching yang aku ikuti pada 12 September 2025 lalu. Yap, ini perdana setelah terakhir kali tahun 2019 aku ke Kuching naik pesawat AA, kemudian tahun berikutnya COVID-19 hingga bandara Supadio tidak berstatus internasional lagi.
Nah, per tanggal pernerbangan ini lah diresmikannya status bandara internasional, sekaligus AA membuka rute baru Pontianak-Kucing dan Pontianak-Kuala Lumpur, dengan harga tiket murah meriah. Kalau sering terbang bersama AA sih pasti sudah tahu yaaa, ini pesawat memang paling affordable soal harga tiket.
Beberapa hal yang aku lakukan kali ini kebanyakan pengalaman ‘pertama kali’ alias ‘first time‘, seperti pertama kalinya solo trip keluar negeri, pertama kali gak ambil bagasi, pertama kali bawa koper ke dalam kabin, pertama kalinya juga gak ganti SIM card buat internetan di LN, dan pertama kalinya apa lagi ya haha, aku sambil cerita deh.
Oke, aku beli tiket pesawat AA ini saat ada event Sarawak Travel Fair 2025 di Ayani Mega Mall 10 Juli 2025, kebetulan aku saat itu diajak untuk kolaborasi dan visit di acara tersebut. Nah, salah satu booth pamerannya itu adalah AirAsia. Di acara ini juga mereka sounding kalau AA akan membuka rute baru untuk penerbangan internasional.
Ooohhh tentu sebagai warga Pontianak ini kabar baik, karena semenjak ditutupnya penerbangan internasional di Supadio, jadi kalau mau ke Kuching yaa via jalur darat menggunakan bus lewat border Entikong. Perjalanan yang sungguh memakan waktu sangat panjang bayangkan 8 jam, pengalamannya pernah aku tulis di artikel Pontianak-Kuching Naik Bus Asia.
Perjalanan ku kali ini ke Kuching sebenarnya tidak ada agenda apa pun, hanya pengen aja solo gitu mumpung ada uang lebih, namun beberapa alasan lain selain ada uang lebih dikit, yah aku ingin ngonten, survey dikit karena aku berencana untuk membuat open trip ke Kuching bersama travel agency local di sini, sisanya pengen buat tulisan blog baru lah kayak ini, hehe.
Alasan-alasan tersebut membuatku tidak berpikir lama untuk booking tiket pesawat, terlebih salah satu temanku ada yang mau mengajakku berkeliling explore Kuching dengan mobil pribadinya, haha. Yaudah gaslah sekalian, mumpung tiket yang ku beli cuma 400ribuan (tanpa bagasi dan tanpa meals).
Saat booking di aplikasi AirAsia MOVE ada dua pilihan penerbangan, yaitu pagi dan malam. Aku ambil pagi, biar waktu ku bisa sedikit lebih panjang. Mengingat liburku hanya 3 hari (Jumat, Sabtu, Minggu), jadi aku harus kembali ke Pontianak lagi hari Minggu karena Senin sudah masuk kerja. 3 hari cukup lah!
Di e-ticket yang aku booking sudah ku lakukan check-in online di hari sebelumnya, tertulis penerbangan pukul 9.20 tepat waktu. Oh iyaa, ku pikir kalau check in online aku bisa memilih nomor kursi seperti yang biasa aku lakukan di maskapai Super Air Jet atau Lion Air biar bisa dapat window seat, ternyata di AirAsia tidak begitu, mungkin ada harga khusus atau kelas tertentu yang punya fasilitas tersebut.

Karena rumahku cukup dekat dengan bandara, aku tidak begitu buru-buru namun seperti arahan maskapai sebaiknya penerbangan untuk penerbangan internasional kita sudah ada di bandara 2 jam sebelum boarding.
Aku berangkat dari rumah pukul 7 pagi (oh iyaa, rumah ku ke bandara itu sekitar 15 menit), lalu masuk ke counter check-in, suasana bandara masih sepi bahkan antrian ku cuma sepasang penumpang doang (ini kayaknya aku kepagian deh). Prosesnya pun cepat karena sudah check-in online kemarin jadi tinggal cetak boarding pass saja. Di sini tas dan koper bawaanku ditimbang di baggage drop untuk memastikan kalau barang bawaan kita tidak lebih dari 7 kilo untuk masuk cabin.
Sebagai catatan, ukuran koper untuk masuk bagasi kabin AirAsia itu maksimal 56 cm x 36 cm x 23 cm (termasuk pegangan dan roda). Selain itu, kamu juga diizinkan kok membawa satu barang kecil (misalnya tas laptop atau tas tangan) dengan ukuran tidak lebih dari 40 cm x 30 cm x 10 cm yang harus muat di bawah kursi depan. Total berat kedua barang bawaan ini tidak boleh melebihi 7 kg.
Setelah cetak boarding pass seperti biasa masuk ke area ruang tunggu ada petugas pemeriksaan, tidak ada antrian, tidak ada masalah dengan barang bawaan bahkan termasuk tripod dan powerbank yang aku simpan dalam koper, hanya karena aku bawa laptop jadi laptop nya harus dikeluarkan dari dalam tas. Dari sini baru lanjut ke arah gate 8, gate yang paling jauh di bandara Supadio ini. Jadi aku melewati dari gate 3 – gate 8 dimana antara gate 7 & 8 ada pos imigrasi. Dari kejauhan sudah terlihat petugas-petugas yang menunggu.
Sampai di pos imigrasi, seperti loket imigrasi pada umumnya, kita harus menunjukkan passport, dan menjawab beberapa pertanyaan dari petugasnya, yang seingat ku adalah: berapa hari, nginap di mana, liatin tiket booking hotel dan tiket pulang.
Aku yang sudah biasa sebenarnya cukup percaya diri, namun sepertinya petugas imigrasi kali ini masih baru, jadi ada semacam petugas senior di belakangnya yang memantau dan memberi arahan. Proses di pos imigrasi sekitar kurang lebih 5 menitan lah, baru lanjut cek barang bawaan lagi baru deh masuk ke ruang tunggu gate 8. Ah, aku rindu gate ini.

Saat duduk di ruang tunggu, benar-benar masih sepi terlihat hanya empat petugas gate di pintu keluar, dan sekitar lima penumpang lainnya. Sambil nunggu aku lihat-lihat isi passport ku, oh ternyata tanggal yang ada di cap tertulis ’22 MAR 32′, astagaaa ini pasti kesalahan petugas imigrasi tadiii seharusnya kan ’12 SEP 25′.
Jadi aku kembali dan langsung konfirmasi, lalu dicap ulang namun cap sebelumnya tertulis CANCEL dan diparaf oleh petugasnya. Aku adalah penumpang ke-enam, jadi lima penumpang sebelum aku juga salah, akhirnya mereka memanggil semua pengumpang tadi untuk capnya diganti seperti punya ku. Aku maklumi karena bisa jadi ini juga pertama kali.

Karena proses check in dan imigrasi terbilang cukup cepat, jadi aku punya waktu agak lama di ruang tunggu, untungnya pesawat boarding nya gak delay alias tepat waktu. Selagi menunggu di sini aku beli paket internet roaming dan mengisi MDAC. Untuk cara beli paket internet roaming ada di akhir artikel ini yaaa, sedangkan untuk isi MDAC ini wajib sebelum melakukan perjalanan, aku mengisinya waktu nunggu di ruang tunggu.
Mengisinya juga mudah, tidak terlalu banyak, pokoknya isi sesuai data saja, nanti kalau sudah selesai akan dapat email kalau kita sudah mengisi, kamu boleh simpan siapa tau ditanya oleh petugas di lokasi tujuan.

Ok, saatnya boarding. Prosesnya mirip lah dengan penerbangan domestik atau pun internasional lainnya. Hanya di pengalamanku kali ini aku gak bisa duduk di window seat, jadi aku dapatnya di kursi tengah, tapi tidak masalah, lagi pula penerbangan ku juga singkat gak sampai satu jam. Hehe, pengalaman terbangnya agar lebih visual lihat video ku ini aja yaa 😊

Nah, yang bikin kaget adalah pas landing dan ketika pesawat-nya parkir ada water salute, ini benar-benar pengalaman pertamaku, pesawat yang aku tumpangi disiram air penyambutan, lalu pas keluar pesawat ada banyak orang yang menyambut di pintu bahkan mengalungkan kalung manik-manik khas Sarawak, mereka adalah orang-orang dari STB (Sarawak Tourism Board), AirAsia Malaysia, Malaysia Airport, dan masih banyak lagi.
Bahkan sepanjang jalan sebelum imigrasi pun beberapa brand/produk seperti rumah sakit, universitas, dan lain-lain memberikan goodie bag dengan berbagai isi merchandise cantik di dalamnya. Senang sekali!!

Setelah melewati imigrasi di KIA (Kuching International Airport) serta pemeriksaan barang, aku aktifkan internet roaming yang ku beli saat di Indonesia, dan mengabari temanku Farhan kalau aku sudah sampai.
Waktu Kuching lebih cepat satu jam dari Pontianak, berhubung ini hari Jumat aku menunggu Farhan solat Jumat dulu, sembari diwawancara sama salah satu media di Kuching, tapi mereka mempostingnya di Facebook.
Tidak lama kemudian Farhan menjemputku, kami mengunjungi beberapa tempat, dan dia mengantarkan ku ke hotel tempat aku menginap, hehe. Sambil menunggu Farhan di bandara ini sebenarnya aku juga

Aku lanjutkan cerita explore ku di Kuching di artikel lainnya, terima kasih sudah membaca sampai habis 😘

