Desa Temajuk, Surga Kecil di Ujung Barat Pulau Kalimantan (Djelajah Borneo) Part 1

Kali ini aku mau share petualangan luar biasa aku bersama teman-teman Djelajah Borneo tentang menjelajahi “surga” yang terpendam di sebuah desa yang terletak di ujung ekor pulau Kalimantan (Borneo), sebuah surga bagi penikmat keindahan alam yaitu Desa Temajuk, Paloh, Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. Perjalanan kali ini merupakan edisi travelling yang nyentrik bagiku karena jalan-jalan ala backpacker yang bisa dikatakan berhasil serta sungguh berkesan. Kalau bisa dibilang dari semua perjalanan yang pernah aku alami baik jalan-jalan di Indonesia maupun ke Luar Negeri maka yang super ektrim backpackeran yah di Desa Temajuk ini. Mulai dari tidur di emperan, tragedi ban bocor tengah malam, melewati jalan berlumpur berpasir dan berbatu sampai kehujanan di jalan dan lain-lain. Pokoknya perjalananya penuh kesan dan kegilaan.

Kalau dikisahkan satu buku tidak cukup saking seru serta menyedihkannya. Kayak permen nano-nano, kadang trip itu mengajarkan banyak hal loh tidak melulu hanya mengeluarkan uang terus tidak dapat apa-apa, malahan merasakan sensasi antara pelit, hemat atau menikmati untuk tidak mengeluarkan uang tipis betul loh tapi anehnya perasaan senang. Alhamdulillahnya edisi perjalanan ke Desa Temajuk ini ala mengaku backpacker berhasil karena teman perjalanku kece-kece, aman tenteram terkendali dan mau diajak susah.

Padahal awalnya ekpektasiku teman yang bersamaku ini tidak akan sanggup jadi gembel eeh ternyata mereka adalah orang-orang super kece dan luar biasa. Teman-teman perjalanku ke Desa Temajuk demi menjelajah surga kecil di ekor borneo dalam 4 hari walau lama di jalan selama 2 hari ialah Ibed, Dedy, Dian, Zul, Mery, Iin, Ilham, Dede, Laras, Decky, Ajid, Fahria dan Aku. Harusnya ada Nova tapi karena Nova ada halangan tidak bisa ikut, alhasil perjalanan kali ini tanpa Nova sayang sekali temanku si Nova tidak ikut ngetrip ke Temajuk padahal seru sama dia.

Ok, untuk review perjananan Pengalaman Ngetrip ke Desa Temajuk jadi desa ini berada di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang memiliki garis pantai yang sangat panjang (sekitar +/- 60km) terhampar luas membentang sepanjang pesisir menuju Desa Temajuk. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Negara Kuching, Sarawak, Malaysia.

Berikut Peta Perjalanan dari Pontianak ke Temajuk, Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia.

Perjalanan dimulai dari Pontianak (13/4) pukul 21.00 menggunakan kendaraan motor dari rumah bang Deky, di Sungai Landak. Ini pengalaman pertama kali aku juga jalan jauh pakai motor, selama ini perjalanan paling jauh kalau pakai motor cuma sampai Jungkat gak lebih, kalo sampai Singkawang biasanya udah pakai mobil sih.

Dari pukul 20.00 teman-teman berkumpul di rumah bang Deky untuk berdoa untuk keselamatan selama di jalan, prepare persiapan kendaraan, logistic, untuk bensin kami mesti membawa ken masing-masing buat persediaan bensin di perjalanan, karena perjalanan di malam hari takut gak ada SPBU yang buka, perkiraan perjalanan untuk menempuh Desa Temajuk adalah 12 jam, agar cepat sampai lokasi keesokan paginya.

Perjalanan pun dimulai, rasa deg deg gak karuan khawatir entah bisa sampai dengan selamat atau nggak. Karena perjalanannya malam sebenarnya buat aku agak ngantuk, namun sesekali bang Ibed ngajakin ngobrol jadi ngantuknya agak ngilang, hehe. Sampai simpang pinyuh kami singgah untuk membeli beberapa snack untuk makan di perjalanan, pas sampai di Indoma*et Sungai Pinyuh ternyata teman kami ada yang ngilang, yak motor bang Deky bocor harus ke bengkel dulu, sambil nunggu bang Deky nyari bengket yang lainnya isi bensin yang ada di tangki motor dan ken yang kami bawa. Jujur, disini aja aku sebenarnya udah ngantuk banget.

Oke, perjalanan dilanjutkan kembali ke Kota Singkawang hingga pukul 12.30 malam (14/4), belum sampai Singkawang tepatnya di Sungai Duri nah sekarang motor yang dikendarai oleh bang Zul dan Merry mengalami ban bocor. Karena perginya bareng-bareng, kami semua harus nunggu, beberapa orang membantu mencari bengkel mungkin agak jauh balik lagi ke arah pasar, dan sebagaian lagi nunggu di emperan rumah warga. Sekitar satu jam lebih mungkin kami nunggu, sempat ketiduran juga, untungnya mereka menemukan bengkel yang sebenarnya sih udah tutup, tapi rela buat buka lagi bengkelnya untuk kami *hiks terharu sama abang-abang bengkelnya.

Akhirnya perjalanan dilanjutkan lagi, hingga pukul 02.39 kami tepat berada di tengah Kota Singkawang, yeay… isi bensin dan meregangkan otot-otot kemudian jalan lagi hingga sampai Pemangkat disana kami singgah lagi untuk istirahat, sarapan dan solat subuh pukul 04.00. Waw nya saat di Pemangkat masih ada warung kopi buka, bersyukur banget, sarapan subuh-subuh jadi kayak sahur on the road.

Lanjut lagi perjalanan menuju Kota Sambas, nah pas disini view nya bagus banget, jalanan masih sepi. Kita berkendara seakan-akan mengejar sunrise kece sambil tertiup angin pagi yang masih sejuk.

Sampai kami di Kota Sambas, kami singgah di rumah temannya bang Zul namanya Aziz, Alhamdulillah disambut hangat juga sama keluarganya. Saat itu udah pagi sekitar jam enam kami sempat cuci muka, ngecas handphone, ngopi dan tidur lagi walaupun sebentar. Semuanya sih tidur kecuali aku, aku gak bisa memang tidur pagi-pagi. Sempat ngobrol-ngobrol juga sama Pak Ami (bapaknya Aziz) tentang gimana kondisi perjalanan di Sekura menuju Penyebrangan ke Temajuk. Pak Ami sempat bilang kalau semalam sempat turun hujan, jadi tidak begitu banyak debu ketika diperjalanan, namun harus tetap hati-hati kemungkinan jalan menjadi licin.

Kami lanjutkan kembali perjalanan pukul 08.00 waktu kami berangkat si Aziz juga ikutan bersama satu orang temannya, kami juga menjadikan dia sebagai penjunjuk jalan sih, dia sudah sering kesana jadi tau jalannya.

Benar kata pak Ami, belum sampai di penyebrangan jalan benar-benar licin dan berlumpur. Kondisi jalan dari Sambas menuju Sekura memang sedang dalam pengerjaan jadi terdapat banyak bahan material di pinggir jalan lengkap dengan debu jika panas, berlumpur jika hujan.

Hingga akhirnya sampai di Penyebrangan Telok Karong Sekura, nah untuk informasi sekali penyebrangan dengan sampan biayanya Rp.10.000,-/Motor. Oh ya kami melakukan penyebrangan dua kali pertama di Sekura dan selanjutnya di Sumpit-Ceremai. Menurut penduduk sana, Sungai Sumpit ini masih dihuni banyak Buaya loh. Kami nyebrangnya bukan pakai Ferry tapi pakai kapal kecil bermesin, itu kapalnya yang ada dikasi panah merah, karena kalau pakai ferry harus nunggu penumpang ramai dulu baru mau nyebrang.

Ngeliat ada tulisan Paloh beh rasanya udah dekat aja dengan lokasi Desa Temajuk nya, ternyata masih jaauuuhh gila. Untuk sampai di Penyebrangan yang kedua yaitu Ceremai di Kecamatan Paloh kita harus melewati beberapa dusun lagi baru sampai. *Masih kuat bawa motornya bang Ibed? eh, jangan tanyak abang sih Strooong (wkwk, yang dia jawab sambil pegang pinggangnya, mungkin peggal).

Setelah sampai di Desa Ceremai di sinilah perjalanan ekstrim baru dimulai.

Sebelum persimpangan ke Desa Temajuk tak jauh dari penyebrangan tadi, kami diajak sama bang Ajiz buat liat penangkaran penyu, udah seneng banget bakalan liat anak penyu yang asli dan bisa ngelepasin mereka ke laut lepas. Namun ternyata penyu-penyu nya belum bertelur, karena belum musim. Yah, kecewa banget… tapi nggak apa-apa, mungkin lain hari jika ada kesempatan datang lagi semoga penyu nya mau bertelur, hehe.

Okee, lanjut deh perjalanan ekstrim nya …

Di sepanjang perjalanan tidak banyak rumah penduduk yang bisa dilihat kalaupun ada letaknya sangat jarang-jarang bersyukur kendaraan kami aman dari ban kempes dan lain lain karena sangat sulit sekali mencari bantuan di tengah desa yang masih sepi penduduk. Jalannya yang berpasir, tanah kuning, hingga bebatuan kerikil. Perjuangan banget.

Rasa capek, ngantuk, kaki tangan pegal, penuh debu, kesemutan semua jadi satu saat di perjalanan menuju Desa Temajuk yang memakan waktu berjam-jam. Selama perjalanan jarak kendaraan kami agak berjauhan, karena banyak debu, untungnya aku dan bang Ibed di posisi paling depan, jadi gak kena debu kendaraan lain dan duluan sampai di Tugu NKRI Desa Temajuk. Ketika sampai disini ntah kenapa perasaan aku terharu banget, tiba-tiba rasa Nasionalisme aku muncul karena ini adalah sebuah patok batas negara yang dulu pernah booming karena kasus pencaplokan oleh negara tetangga.

Tidak jauh dari lokasi Tugu NKRI Desa Temajuk, sekita pukul 03.08 kami singgah lagi di rumahnya keluarga bang Dedy (dia manggilnya ‘makteh’ ) rumahnya ada warung, disini kami disambut lagi dengan hangat katanya udah ditungguin dari tadi pagi, kami berasa tamu penting karena disana kami langsung disugui minuman segar dan nasi lengkap dengan lauk spesialnya ikan pari masak santan plus sambal. Behh… beruntung banget kita. Tanpa basa basi mereka langsung makan, sampai nambah berkali-kali kayak kelaparan banget *etapi emang lapar sih karena belum makan siang, aku aja sampe nambah tiga kali.

Sebagian besar penduduk sekitar sini adalah seorang nelayan, udang lopster dan ikan-ikan disini banyak banget. Gede’ gede’ lagi kayak yang dipegang sama bang Zul ini loh.

Makteh nya bang Dedy punya rumah juga di sekitar Pantai Batu Nenek, rumah yang cukup besar lengkap dengan toilet dan perlengkapan dapurnya namun sudah lama tidak didiami sama makteh jadi sedikit berbedu dan tidak ada listriknya. Makteh memperbolehkan kami menginap di rumah tersebut selama tiga hari. Alhamdulillah seneng banget kita, makasih beloggok buat makteh bang Dedy. Untuk penerangan kami menggunakan aki yang ntah bang Dedy dapat darimana yang dijadiin lampu utama ruang tengah.

Selain dekat dengan Pantai Batu Nenek, rumah makteh juga pas banget samping jalan setapak hutan manggrove yang lebat banget, kalau lihat dibawah jalan setapak ini kelihatan air yang jernih.

Kemudian sedikit berjalan kaki kecil kira-kira 100 meter, kami melihat sebuah homestay unik yang terletak di pinggir pantai namanya Villa Kelapa Dua. Bangunan ini unik sekilas mirip dengan Wae Rebo yang ada di Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Setelah jalan-jalan kecil di sekitar penginapan, aku dan teman-teman kembali ke rumah makteh. Karena sudah mulai malam, ditambah perut juga mulai lapar lagi. Di rumah makteh kami mulai masak-masak, karena dari Pontianak kami ada membawa ayam potong yang kemudian kami buat ayam bakar, api unggun di buat oleh bang Dedy dan Bang Ilham buat acara malam kami untuk barbecue- an *aseeekk

Ayam bakar spesial ini dibuat oleh Chief Ilham dan Chief Zul yang dibantu oleh bang Dede. Sambil nunggu ayam bakarnya jadi, karena udah jauh-jauh bawa tenda dari Pontianak kami open dome di teras, siapa tau ada yang mau tidur disitu. Setelah makan-makan bareng selesai, cuci muka dan kaki kami langsung tidur, trip kali ini kami tidur tidak begitu malam karena badan sudah sangat lelah karena perjalanan tadi. Untuk tidur sebenarnya rumah makteh ini ada tiga kamar besar, tapi tak ada satu orang pun yang mau tidur di kamar karena keliatan horor menurut bang Dedy, aku aja tidur di sofa ruang tamu.

Pagi-pagi sekali aku diajak ke Pantai Batu Nenek (15/4), pantainya biru banget terlihat pula para nelayan yang baru kembali dari laut Natuna dengan kapal-kapalnya.

Kesan pertamaku ke Pantai Batu Nenek di Temajuk ini adalah bersih, sunyi, sepi, cuacanya cerah dan udaranya yang segar. Bagus banget buat refreshing tenangin pikiran dari hiruk pikuk dramanya dunia kota. Sempatkan main air juga kalau kesini, kamu bakalan nemuin terumbu karang, kerang-kerang kecil bahkan binatang laut lainnya.

Mulai agak siang, air laut di Pantai Batu Nenek Desa Temajuk mulai surut. Coba deh jalan-jalan ke arah lautnya liat terumbu karang yang cantik-cantik tapi jangan dibawa pulang ya.

Menikmati angin pantai yang sepoi sepoi juga menjadi salah satu kenikmatan yang wajib kamu rasakan. Pas kebetulan aku baru punya hammock baru beli dari bang Mayu warna merah marun. Jadi pas kesini langsung deh coba pasang, aku juga diajarin sama bang Dian (Zuple) gimana cara pasangnya, jadi ini pertama kalinya aku naik hammock yang aku pasang sendiri. Tidur siang di hammock tepi pantai asik banget. Sedangakan teman-teman yang lain sibuk open dome di tepi pantai, rencananya mau bikin api unggun juga disana dan bang Zul mau bikin pudding, tapi tiba-tiba anginnya kenceng banget. Dome yang tak bisa dipasang pasak karena daerah pasir nyaris berterbangan akhirnya setiap ujung dome dikasi batu.

Saat kami sibuk-sibuknya bangun dome dan pasang hammock, aku baru sadar kalau bang Ibed, Ajid, Dedy dan bang Dian gak ada di Pantai maupun di rumah makteh. Karena rencananya aku mau mengujungi sebuah tempat wisata temajuk yang lagi hits yaitu Rumah Terbalik sama-sama, aku pikir mereka pergi solat ashar dulu ke masjid ternyata mereka pergi ke warungnya makteh bang Dedy, yaudah yang ada di rumah cuma Bang Zul, Ilham, Dede, Mery, Deky, Laras, Iin, Fahria dan Aku, kita susul mereka ke warungnya makteh. Ternyata mereka sudah duluan pergi ke rumah terbalik yang katanya mau kesana sama-sama, dan tau kah kalian mereka ber-empat (Ibed, Ajid, Dian dan Dedy) udah makan siang dengan empat ekor lopster super besar, pas kami datang mereka udah selesai makan nya, kami yang baru datang juga diajakin makan sama makteh tapi lopster yang disisakan kami cuma satu ekor doang itu aja harus berbagi berlima, untung masih ada ikan pari’nya.

Setelah selesai makan siangnya, kita langsung cus ke Rumah Terbalik saat perjalanan sambil mikir mereka makan lopster banyak banget yak… yaudah deh rejeki mereka mah.

Ini dia Rumah Terbalik (The Upside Down House of Temajuk). Rumah Terbalik ini terletak di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk. Wisata ini baru saja dibuka akhir tahun 2016 kemarin, keren ya? gimana ya dalamnya? nah tak hanya diluar saja yang terbalik ternyata didalam rumah terbalik ini juga posisinya terbalik, sempat bingung juga sih pas masuk ke rumah ini.

Kalau mau masuk ke dalam rumah terbalik ini pengunjung cukup membayar Rp.20.000,-/orang tapi kalau cuma di luarnya aja gratis kok. Gimana yang suasana di dalam rumah ini, berikut satu diantara fotonya, lebih banyak ntar lihat di instagram aku ya…

Unik banget ya rumah terbaliknya, tidak hanya rumah terbalik di Resort Camar Bulan juga punya penginapan yang unik seperti bentuk pyramid. Pas disini aku sempat tanya-tanya sama pemilik Resort Camar Bulan tentang penginapan ini, jadi room rate penginapan disini pengunjung cukup merogoh kocek Rp.250.000,-/malam jika ingin extra bed mesti nambah biaya Rp.100.000,- fasilitasnya cukup lengkap ada toilet, dapur kecil, kipas angin, tempat tidur dan meja.

Saat aku kesini, sudah ada beberapa orang yang sedang menginap disini. Untuk pengunjung datang dari berbagai daerah mulai dari yang dekat hingga yang jauh ada yang dari Pemangkat, Sambas, Singkawang, Pontianak hingga dari Kuching, Malaysia. Menurut pemilik Resort Camar Bulan ini (saya lupa siapa namanya) pengunjung bisa ramai apabila saat weekend.

Setelah mengunjungi Resort Camar Bulan bareng teman-teman dan hari mulai sore, tak ketinggalan kami juga berburu sunset di Pantai Batu Nenek Temajuk, pas sampai sumpah sunset nya bagus bangeeettt… berada disini buat aku rasanya tak ingin pulang.

Khusus bagi aku, ini adalah sebuah surga. Surga yang indah untuk di abadikan dalam sebuah gambar, surga yang exotic untuk di gali keindahan setiap sudut panoramanya. Surga yang akan menjadi agenda wajib dalam daftar kunjungan. Sebuah surga yang menawarkan keindahan alami, walau harus menempuh jalur ‘neraka’ untuk menemukannya. Semoga desa ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata pantai, yang tentunya harus di tunjang dengan infrastruktur & akses jalan yang layak, dimana semua orang bisa dengan mudah berlibur di pantai Temajuk.

To be continue…  Desa Temajuk, Surga Kecil di Ujung Barat Pulau Kalimantan Part 2

Be Sociable, Share!
  • Ilham

    It's amazing

    • Siti Mustiani

      Thank you bang Ilham, hahahaha... baca juga tulisan siti yg Part 2 yaa

  • Dedy

    Mantaaaap, cuma kurang horor ceritenye, setau kame disana sedikit horor 😁😁😁

    • Siti Mustiani

      Yg mana horor, kamar nomor 3 paling belakang kah? hahaha... perlu diceritain? 😄

  • urip maulana

    gokil keren banget.. pengen banget gw kaya luh bisa travel sana sini

  • Zoel

    d tunggu cerite dan peejalanan kite siti.yg part 2 same video ny kalo bise lah secepatny jadi 😂😂😂

  • Nofantoro

    perjalanannya seru juga ya, Spesial banget ya pastinya bisa sampai di perbatasan Indonesia-Malaysia.

    • Siti Mustiani

      seru banget mas, ini merupakan perjalanan yang tidak akan dilupakan :D

  • Mister Jubah

    Salam kenal dari blogger Kalimantan, Mbak Mustiani :D

    • Siti Mustiani

      Yuhuu... salam kenal dari Blogger Pontianak 😊😊😊

  • cahya

    Temajok masih jadi impian 😭😭

  • sisi

    Wah menyenangkan sekali ya mba...

  • Imagologi

    memang sering solo travelling ya mbk?

    • Siti Mustiani

      Gak sering2 amat siihh... hehe, tapi suka juga solo travelling 😄

  • jubah muslim

    kira-kira oleh-oleh apa ya kal;o disana?

    • Siti Mustiani

      belum ada oleh-oleh yang khas sih sepertinya, tapi di Sambas ada bubur pedas yang menjadi makanan tradisional asli sambas, cobain deh.. hehe

  • abahadil

    wah perjalanan nya seru banget nih kayaknya tak akan terlupakan nih pengalaman

  • sharingkali.com

    Hmm seruu, pengen ke pontianak. Punya banyak teman juga disana.. hehe. Makasih mba siti mustiani.. :) tulisannya bagus

    • Siti Mustiani

      Hhee... terima kasih, iyaaa yuk ke Kalimantan Barat 😄

  • Abdul Sejarah

    Wah saya malah baru tau ada lokasi wisata ini haha Indah banget, kapan2 tek coba mampir. Makasih infonya

    • Siti Mustiani

      Baik mas Abdul, terima kasih kembali...

  • Mustika

    kerennnn... untuk penginapan kita booking dulu atau langsung kesana ya mbak

    • Siti Mustiani

      Langsung ke sana aja mbak, kebetulan saya kemarin lupa buat minta nomor handphone penginapannya, hehe

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *