Pukul delapan malam aku tiba di Jakarta, entah kenapa suasananya sendu sekali dingin dan sejuk, yah karena cuaca hujan yang cukup deras menjelang awal bulan September. Perjalanan ku dari Pontianak pukul 5 sore yang sempat delay berjam-jam, membuat pikiranku “aku harus makan jika tiba di Jakarta, tapi makan apa ya?”.
Setelah landing dan mengambil barang di bagasi yang ternyata juga delay, pukul 9.30 baru semuanya kelar, yaelahhhh (*ga boleh ngeluh). Teman-teman ku yang sudah datang duluan ternyata sudah menunggu di Solaria, aku sudah memesan menu tadi ketika menunggu bagasi, biar tidak perlu pesan lagi. Saat menuju Solaria aku melewati satu restaurants yang cukup familiar di telingaku, itu dia A Fung Baso Sapi Asli.
Semenjak viral beberapa waktu lalu oleh salah satu influencer yang makan kerupuk bab* di mangkuk nya Baso A Fung yang ada di bandara Bali, brand kuliner baso ini jadi semakin dikenal namanya hahah, tapi sebenarnya bukan karena itu juga, brand bakso yang sekarang punya banyak cabang dimana-mana ini memang cukup populer, karena apa? Ya aku sendiri juga penasaran, mending kita coba saja langsung kan.
Oke, aku putuskan pas pulang nanti akan mampir, dan minimal nyobain lah semangkuk baso meskipun di Bandara (pasti paham ya, kalau beberapa menu restaurant bandara tentu harganya jauh lebih mahal, but it’s okay daripada gak pernah sama sekali kan, hehe).
Yah, walau pun nemu di luar bandara ya Alhamdulillah, tapi sepertinya akan kecil kemungkinannya, selain karena jadwalku cukup padat di perjalanan Jakarta-Garut, kami pun harus banyak bergegas karena akhir-akhir ini sedang ada demo di Jakarta.
Kesempatan untuk menikmati semangkuk bakso ini pun terealisasikan saat kami pulang kembali ke daerah kami setelah perjalanan 3 hari, untungnya flight dapatnya siang jadi punya waktu cukup panjang untuk icip-icip kuliner (terpaksa di bandara) sebelum pulang.
Setelah check-in bagasi kami memutuskan makan siang di Baso A Fung, di Terminal 2. Karena pas kedatangan liat restaurant ini tak jauh dari Solaria, sempat bingung saat dicari lagi kok gak nemu. Oh ternyata lokasinya ada di terminal kedatangan bukan keberangkatan, yang lokasinya ada di lantai yang berbeda jadi harus turun satu lantai lagi, hahaha. Tak butuh waktu lama, yaaa akhirnya ketemu.

Sebagai penggemar bakso, aku tak berpikir lama jika diajak ke tempat ini, Alhamdulillah tiga temanku yang lain juga setuju untuk makan siang di sini. Enak ya memang kalau sesama traveler yang gak cerewet untuk milih-milih makanan. Beberapa menu bakso, kita pesan masing-masing sesuai selera, nah aku pesan Baso Isi Campur langsung di karsir.

Awalnya aku pikir akan nunggu beberapa lama untuk penyajian menunya, ternyata begitu order menu langsung dibuat dan bisa dibawa sendiri ke meja menggunakan nampan. Wah cepat sekali! Tapi begitulah seharusnya, karena aku yang pesan duluan aku yang membawa makananku ke meja, lalu disusul tiga temanku yang lain.
Untuk harga seporsi Baso Isi Campur (tanpa mie) ini harganya Rp.86.000,- sudah termasuk beberapa bakso gepeng, tahu isi bakso, bakso urat, pentolan kecil, serta potongan daging sapi dan babat. Kuahnya cukup banyak, dengan aroma kuah kaldu sapi dengan serta racikan bawang putih goreng dan daun bawang. Tekstur kuahnya mirip dengan bakso sapi 91 yang pernah aku coba di Singkawang.


Meskipun singkat, tapi aku cukup puas makan di sini, selain pelayanannya yang benar-benar cepat, di sini aku bisa semeja dengan teman-teman dari Batam dan Banjarmasin menjadikan makanan siang ini sebagai penutup perjalananku bersama mereka sebelum kembali ke kota kelahiran kami masing-masing.

Jumpa lagi yaa kita di perjalanan dan kesempatan lain, terima kasih sudah meluangkan waktu 😊
A Fung Baso Sapi Asli
📍 Soekarno–Hatta International Airport, Terminal 2, RT.001/RW.010, Pajang, Benda, Tangerang City, Banten 15126
Instagram: @basoafung


aku belum cobain, di kotaku sendiri belum ada nih
next time kalau nemu, kayaknya perlu dicoba deh, ngeliat basonya lembutt ya