Tiba-tibanya pengen ngonten aja di kabupaten yang sama dengan KTP sendiri, yap Kabupaten Kubu Raya. Yah, meski kalau ditanya domisili aku selalu bilang Pontianak, tapi sebenarnya KTP ku Kubu Raya kok, hehe tapi masa iyaa si Siti Mustiani yang sudah traveling kemana-mana justru jarang explore daerah sendiri kan? Hehe. Kira-kira begitulah rasanya kebanyakan travelers lebih suka bepergiannya yang jauh-jauh ketimbang daerah sendiri, namun kadang kalau ketemu orang baru dari luar kerap yang ditanya di daerah asalku ada wisata apa saja.
Jadi trip ini bisa sekalian untuk menjadi bahan jawaban jika ada yang nanya lagi nanti. Maka dari itu aku putuskan menjelajahi sekalian menulis tempat beberapa tempat tersebut, yang satu diantaranya yang paling unik yaitu Kelenteng Tengah Laut di Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Rencana ku ke tempat ini memang sudah ada beberapa kali, tapi aku tidak memaksa harus pergi, karena ada pertimbangan seperti cuaca, barengan, dan moment, karena lokasi serta aksesnya yang belum benar-benar aku pahami dengan baik.
Namun, dari sekian rencana akhirnya kali ini benar-benar terealisasikan dengan alasan yang cukup kuat, informasi yang didapat tentang tempat tujuan lumayan banyak, serta waktu yang tepat, hahaha. Bersama teman kompetitor ku Achmad Gunawan kita memutuskan untuk mengunjungi kelenteng unik tersebut, karena kami berdua belum pernah sama sekali ke destinasi ini.
Alasan lainnya, untuk ngonten kebutuhan lomba, karena kebetulan ada beberapa kompetisi yang mirip dimana ada kemungkinan bisa diikuti, kalau aku pribadi sih sebenarnya hanya ingin pergi saja sebagai new experience. Tapi bolehlah ikutan lomba juga mana tahu rejeki.
Trip singkat ini kami lakukan saat weekday tengah siang hari, sebenarnya rencananya bertiga sama Ogut tapi di hari H tiba-tiba Ogut ada pekerjaan mendadak di kantor, kalau aku kebetulan di hari Rabu memang sedang kosong jam ngajar, sedangan Gunawan? Nah, ini anak bukan pekerja kantoran jadwalnya memang terbilang lebih flexible dibandingkan kami. Jadi akhirnya kami berangkat hanya berdua motoran.
Perjalanan dari pusat Kota Pontianak ke Sungai Kakap itu kurang lebih 30 menit, jalannya sudah lumayan bagus jadi tidak ada kendala. Tujuannya adalah pelabuhan/dermaga Sungai Kakap, karena nyebrangnya dari sana. Karena kami tiba di tengah siang, sebelum berlayar kita makan siang atau membeli beberapa perbekalan untuk nanti selama ngonten di kelenteng tengah laut itu. Alhasil sebelum sapai ke Kelenteng Tengah Laut itu aku punya satu konten tentang kuliner di sekitar Pelabuhan Kakap, yang aku edit terpisah menjadi dua episode berikut:
Kuliner Muara Kakap
Warung makan yang kami pilih random, jadi yang ada di sekitar muara kakap saja, setelah melewati beberapa kedai (ada yang tutup juga) akhirnya kami memilih Kantin Amoi yang terletak tak jauh dari Jembatan Bintang Tujuh, sebuah kedai cukup ramai dengan pemandangan sungai, saat masuk aku melihat ada juga mereka jual beberapa kue tradisional seperti bacang, doko-doko berendam, chai kue, nagasari, dan masih banyak lagi.
Menu yang kami pesan tidak begitu banyak, karena cuma berdua. Nasi goreng sea food, dan bakwan goreng udang kami nikmati sambil melihat-lihat beberapa sampan motor yang sedang lalu lalang di sungai melewati jembatan hijau yang legend itu.
Untuk nasi gorengnya menurutku cukup standar, kering, topping seperti udang, hekeng (kue ikan), dan beberapa sayur sawi + toge lengkap dengan potongan cabe, ini enak! Porsinya juga pas, sedangkan untuk bakwan dengan harga 2000 per pcs ini juga terbilang besar, meski udang yang dipakai masih ada kulitnya. Bakwan ini jadi tambah nikmat karena sambalnya juga, segerrrr.

Dua menu ini beserta minuman es kacang hijau kami santap di lokasi, lalu kami melipir ke bagian meja jajanan tradisional itu, pilihannya banyak sampai bingung karena pengunjungnya juga ramai. Setelah tanya-tanya sedikit sama penjualnya, dan kami memilih bacang, doko-doko berendam masing-masingnya dua untuk kami bawa ke Kelenteng Tengah Laut itu.
Oh iya mereka juga punya menu udang rebus, ku lihat beberapa pengunjung di meja lain memesan itu, tapi porsinya kebanyakan untuk kami kalau hanya berdua, menu sharing itu rasanya lebih cocok dinikmati dalam kelompok minimal empat orang. Okelah, next aku datang lagi dengan tim yang lebih banyak, lalu memesan itu.
Menu sea food memang andalannya di sini, karena sebagian besar muara ini pelabuhan para nelayan, begitu juga mata pencaharian masyarakat sekitar Desa Sungai Kakap. Next kita datang lagi khusus untuk kulineran saja hehe.
Xiao Yi Shen Tang
Pukul 12 siang, kapal wisata sudah menunggu di dermaga. Kami dibooking-kan satu kapal oleh Bang Roy kenalannya Achmad Gunawan, ini sebenarnya di luar jam operasional (kapal ini biasanya berlayar di sore hari karena di jam tersebut lebih banyak pengunjung). Alhasil kami berangkat hanya berdua, bertiga sama nahkoda kapal.
Kapal pun berlayar tidak begitu laju tapi tidak begitu lambat juga, beberapa kali kami naik ke lantai dua nya sambil menerbangkan drone untuk footage kapal. Eh iya kapal ini cukup besar yaaa, rasanya cukup untuk sekitar kurang lebih 20 orang. Nah, kalau sesuai jam operasional (dengan catatan pengunjung juga ramai) harga sekali naik kapal itu Rp.25ribu, tapi berhubung ini kami cuma berdua kami bayarnya 150ribu. Padahal ekspektasiku itu sampan motor gitu loh, tapi it’s okay.
Berhubung kami ingin berkonten ria yang membutuhkan waktu yang lebih panjang kami minta nahkoda nya untuk menurunkan kami di Kelenteng Tengah Laut, lalu jam 5 sore dijembut, nanti ikut pulang lagi ke dermaga sekalian sama pengunjung di jam reguler. Jadi kami punya waktu cukup panjang, malah kepanjangan kan hampir setengah hari.

Kami berlayar kurang lebih sekitar 20 menit, kami turun dengan naik tangga ke atas kelentengnya. Terlihat satu sampan motor milik penjaga yang sedang on duty di dermaga, begitu kapal wisata meninggalkan kelenteng ini kami mulai explore beberapa sudut kelenteng. Cuaca terik cukup panas, untuk ada satu tempat yang bentukannya ada meja kursi panjang, kedatangan pun kami tidak buru-buru jadi sempat istirahat, buka laptop, makan kue yang bawa dari muara kakap, sempat tidur siang juga.
Listriknya ada? Gak ada yaa, dan untungnya Gunawan bawa power station yang isinya cukup untuk beberapa jam. Seperti apa tempatnya? Intip saja video ku yang singkat ini selama di Kelenteng Tengah Laut berikut ini:
Dari video menurutku sudah cukup memberikan informasi tentang cagar budaya ini ya, jadi aku tidak menuliskannya lagi di artikel ini.
Karena tidak ada aktivitas, jadi, area altar ditutup sama penjaganya. Tapi begitu ada pengunjung yang datang beribadah, atau ada rombongan wisata pintu altar dibuka kembali. Kami senang tidak begitu ramai jadi bisa leluasa ambil video, tapi kalau tidak ada pengunjung kami cukup kesulitan mendapatkan moment yang autentik di tempat ini.
Sehingga kalau ada yang datang kami jadi excited, sesekali kami izin untuk merekam kegiatan mereka, ada juga yang datang rombongan (bukan ibadah) minta dokumentasikan, hehe.

Di kelenteng ini kami benar-benar sampai sore, meski kapal wisata sudah datang untuk menjemput kami di jam 5 sore tapi mereka turun ke kelenteng dulu untuk berswa-foto, hingga sampailah moment sunset. Setengah hari di sini, tanpa listrik, aku puas! Karena bisa dapat semua moment yang bisa jadi gak keulang kembali.
Kami kembali ke pelabuhan muara Sungai Kakap menjelang magrib, pamitan sama nahkoda, ambil motor yang diparkir di tempat yang sama dan pulaaang. Sekian dulu tulisanku ketika mengunjungi Kelenteng Tengah Laut atau Xiao Yi Shen Tang, sampai jumpa di cerita perjalananku lainnya.

Xiao Yi Shen Tang / Klenteng Dharma Bakti
Maps: X533+5Q4, Kubu Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat 78381

