Happy Moon Cake Festival! 🥮🥮🥮
Aku teringat terakhir kali ikut acara kue bulan itu tiga tahun lalu di Pontianak, waktu itu perayaannya diselenggarakan oleh sebuah organisasi bernama MABT (Majelis Adat Budaya Tionghoa) di Hotel HARRIS Pontianak, aku juga sempat menuliskannya di artikel Hangatnya Perayaan Festival Kue Bulan di Pontianak. Seingatku juga perayaan tersebut ku hadiri bersama sahabat blogger kesayanganku dari Singkawang, yaitu Multi Siahaan dia ada nulis juga di blognya inimulti.com ❤️
Tahun ini tanpa rencana yang panjang aku ikut lagi kehangatan acaranya, tapi kali ini lebih rame lebih meriah, dan giliran di kota temanku itu yakni di Kota Singkawang. Pas banget ada “Singkawang Mooncake Festival 2026”. Event yang diselenggarakan selama tujuh hari dari 21 sampai 27 September 2026 ini, namun hari yang aku kunjungi hanya dua hari terakhir yakni Sabtu, dan Minggu sekaligus malam penutupan.
Kalau aku gak datang ke sini sepertinya aku gak tahu kalau event ini ternyata event besar kedua diselenggarakan di Kota Singkawang, pertama kalinya itu tahun 2025 lalu. Karena, setahuku perayaan Kue Bulan biasanya diselenggarakan di lingkungan kecil dalam keluarga saja, tapi siapa sangka ternyata dua tahun ini dibuat event yang terbilang cukup besar. Kabarnya event ini juga akan menjadi agenda tahunan di Kota Singkawang.
Buat yang lupa atau mungkin belum tahu, perayaan moon cake ini adalah festival kue bulan atau pertengahan musim gugur (mid autumn festival) menjadi hari raya tradisional masyarakat Tionghoa untuk merayakan bulan purnama paling terang dan mensyukuri musim panen. Untuk tanggalnya setiap hari ke-15 bulan ke-8 penanggalan Imlek.
Seperti apa acaranya? Baca artikelku sampai habis ya! 😊

Kedatanganku ke Kota Singkawang, lagi lagi bukan diagendakan jauh-jauh hari. Justru, karena kebetulan lewat dari perjalanan pulang setelah on duty sebagai tour leader ke Kota Kuching dimana semua peserta trip itu warga Singkawang yang selesainya di hari Sabtu sore. Rencana pulang akhirnya sengaja ku pending dua hari biar bisa main ke festival kue bulan.
Kebetulan juga di kota ini ada bestie travel blogger ku jadi aku putuskan menginap semalam dulu di rumahnya, terus kebetulan lagi ada partner konten ku Achmad Gunawan dan Ogut yang memang niat ke Singkawang untuk ngonten (karena mau ikut lomba), jadi yah sekalian lah. Sungguh hidup ku punya banyak kebetulan-kebetulan yang menguntungkan, hehe.

Event Singkawang Moon Cake Festival ini sebenarnya diisi begitu banyak kegiatan, aku sampai lupa ada berapa jumlahnya, bahkan bukan cuma saat malam saja tapi pagi pun ada, bukan hanya performance di panggung utama tapi juga aneka kompetisi hingga bazaar kuliner UMKM di sepanjang Jalan Sejahtera Singkawang. Sepengelihatanku karena ada beberapa konten yang lewat di sosial media ku mereka mengadakan lomba makan kue bulan, datang dan perginya putri bulan yang disimulasikan dengan sling, cek kesehatan gratis, hingga lari marathon juga yang dilakukan pada Minggu pagi.
Panggung utama Singkawang Moon Cake Festival tepat di depan Vihara Dharma Bhakti Bumi Raya, kemudian bazaar-bazaarnya di sepanjang Jalan Sejahtera Kota Singkawang. Pas hari ke-6 kedatangan ku di panggung utama mereka ada performance musik tradisional dari Yayasan Kuning Agung Pontianak, kemudian dilanjutkan pertunjukan Boneka Gantung Chiao Thew Ti.
Dari informasi yang aku dapat pertunjukan boneka gantung ini sudah legend, yang memainkannya sudah cukup tua, tapi lebih tua lagi umur bonekanya yakni 200 tahun, alat-alatnya didatangkan langsung dari Tiongkok. Wah ini pertamakalinya aku menyaksikan pertunjukan tersebut, namun aku kurang paham karena mereka menggunakan bahasa Hakka di pertunjukannya haha. Aku melingat bonekanya sedang memainkan barongsai.
Mendengar informasi dari MC setelah pertunjukan selesai, memang untuk melakukan pertunjukan ini sangatlah sulit tidak semua orang bisa melakukannnya, bahkan lebih sulit dari memainkan barongsai sungguhan, jadi maklum kalau pemainnya sudah pada berumur, harapan ku sih ada anak muda terutama masyarakat Singkawang bisa belajar dan meneruskannya biar bisa tetap lestari.
Pada malam ini kunjungan ku ditemani oleh Multi, Zefa (anaknya Multi), dan Charis (suaminya Multi), mereka membantuku mendokumantasikan kegiatan ku di sini, oh sungguh baik sekali keluarga kecil ini. Mumpung banyak kulineran kami pun jajan, aku lupa apa nama-nama makanan yang aku beli tapi semuanya enak hehe. Sebenarnya di sini aku juga janjian sama Gunawan dan Ogut buat ngonten tapi gagal karena mereka telat datangnya, sedangkan kami sudah pulang. Akhirnya kami putuskan untuk besok datang lagi saat acara penutupan.

Tibalah hari berikutnya, hari terakhir sekaligus malam penutupan Singkawang Mooncake Festival, meski sempat hujan tapi menjelang acara puncak cuacanya mereda, aku berangkat lagi sama keluarga kecil multi, namun sampai lokasi kami berpisah. Mereka di panggung utama sedangkan aku menyusul Gunawan dan Ogut menyusuri bazaar hingga ujung.
Di kesempatan ini kami mendokumentasikan pengalaman kami, nyobain beberapa jajanan viral seperti cumi dan sotong bakar, serta tidak lupa mampir ke stand-nya Ling kami yang menjual puding mooncake dan peach gum dessert. Ling ini kenalan kami waktu trip di Pantai Gratis, kemudian bertemu lagi di Singkawang, nah di sini ada stand keluarganya, dan dia bantu jualan.
Kami beli beberapa dan nyobain langsung di stand ini, ya kan acara kue bulan setidaknya nyobain juga kue bulan meskipun hanya dalam bentuk puding hehe. Sebenarnya kedainya ini ga cuma mooncake puding saja yaaa, ku intip instagramnya memang usahanya adalah produk kue kue semuanya puding (kebanyakan kue ulang tahun), usaha rumahan by request jika ingin order.
Satu lagi menu yang pertama kali aku coba namanya Peach Gum Dessert, ini menu dessert paling worth it menurutku karena bahan-bahannya sehat, tidak begitu manis, juga nyegerin. Wkwk ini bukan endorse, karena ini benar-benar kami beli yaaa harganya Rp.25.000,-/porsi. Terima kasih Ling, sudah merekomendasikan makanan-makanan ini 💕



Di malam ini aku mengikuti acaranya sampai selesai dengan ditandai dengan closing dari wali Kota Singkawang ibu Tjhai Chui Mie, lalu dilanjutkan pesta kembang api. Meski malam penutupan ini rasanya cukup singkat karena aku harus segera pulang ke Pontianak menggunakan taxi travel di jam 11 malam. Tapi aku senang, pertemuan ku bersama mereka menyenangkan, dokumentasi ku bagus-bagus, dan aku pun bisa menuliskannya dengan bahagia di blog ini.
Tulisan ini juga sekaligus pengingat ku bahwa aku punya best part selama di bulan September (anyway aku sebulan September ini ada tiga kali ke Singkawang), artikel ini juga menjadi bukti berapa beruntungnya aku bertemu mereka. Sekian dulu ya, sampai jumpa di tulisan-tulisan perjalananku yang lainnya, dan sampai bertemu lagi di Festival Kue Bulan tahun depan!

