Sudah lama sekali rasanya tidak menuliskan artikel perjalanan yang berlatar perjalanan bersama tim Djelajah Borneo, kalau kamu sudah mengikutiku sejak tahun 2017 pasti tahu juga dengan satu komunitas ini, aku sebut ini adalah sebuah perkumpulan pertemanan rasa keluarga yang mengenalkanku tentang dunia pendakian untuk pertama kalinya, bahkan artikel pendakian pertama ku di Bukit Sebayan yah bersama mereka ini.
Hemm, jika diceritakan kilas baliknya pasti panjang sekali bayangkan di tahun ini saja sudah satu dekade alias 10 tahun. Oh iya beberapa perjalanan ku juga sedikit banyak ku tuliskan di blog ini dengan tag Djelajah Borneo silahkan intip saja ya. Namun, semenjak aku bisa mandiri kadang aku gak ikut mereka, sempat vakum bertahun-tahun dengan banyak faktor satu diantaranya sebagian besar anggotanya sudah menikah (paham kan?), jadi begitulah, tapi tenang orang-orangnya masih ada kok, masih saling saling sapa meski hanya lewat sosial media.
Satu lagi, aku juga dulunya terbilang cukup aktif membuatkan konten postingan video di YouTube @djelajahborneo tapi karena gak ada trip lagi yah akhirnya gak buat lagi. Hemmm, ada juga beberapa trip mereka yang juga sengaja gak aku ikuti, tapi alasannya belum bisa aku ceritakan di sini π
Setelah 7 tahun berlalu, semenjak aku resmi menjadi anggota inti DJB ini, maka aku putuskan dengan hati yang matang untuk spesial sepuluh tahun ini juga aku ikut lagi trip mereka, dan aku akan menuliskan lagi perjalanan ke Bukit Kuri yang kami lakukan pada pertengahan bulan Mei lalu di blog ini. Say “welcome back” to me!
Sebelum lanjut cerita dalam bentuk tulisan yang lebih panjang, coba intip dulu video yang ku buat ini, cuma 8 menit kok βΊοΈ
Gimana masih bagus gak sih videonya? Hehehe, sengaja kali ini aku yang ambil alih untuk mengolah video, selain bentuk rasa rinduku sebagai tim dokumentasi mereka seperti dulu, aku juga ingin berkontribusi dan uji diri masih layak kah aku andil sebagai video editor di tengah banyaknya videographer kompeten dengan gear-gear mereka yang lebih mahal (jujur di sini aku agak insyekur, tapi Alhamdulillah mereka masih percara) karena dua tahun belakang ini ada Abdul Rosyid (professional wedding videographer) yang ngerjain video nya. Apalah aku ini hanya content creator social media π
Ooooh tentu, aku tidak sendiri ada Royid, Imam, Dani dan lainnya yang membantu menjadi camper (camera person) menggunakan smartphone masing-masing. Oh iyaa kali ini juga ada Indra Prasetya sebagai pilot drone, teman baru ku dari Kabupaten Landak.
Kenapa Bukit Kuri?
Bayangkan sebuah komunitas yang sudah berusia sepuluh tahun, pertemuan awal kami tentu masih usia remaja-dewasa, dimana kala itu lagi hipe era pendakian dari film 5cm, selama itu sudah kemana saja? Wah, sudah terbayang kan banyaknya tempat yang sudah dilalui baik itu gunung, riam, pantai dan lain-lain. Jumlah tripnya? Waduh jangan ditanya juga nih, kayaknya sudah gak bisa dihitung ya kan? Jadi, bisa dibilang intinya kita ini sudah tua senior wkwkk.
Bukit Kuri kita pilih karena treknya tidak sulit, tidak begitu tinggi hanya 429 mdpl, meski perjalanan daratnya cukup jauh (Pontianak-Sandai kurang lebih 7 jam) tapi view-nya cakep! (Sudah liat di video kan?). Dan alasan ku yang kuat untuk ikut secara pribadi adalah aku belum pernah ke Bukit Kuri sebelumnya, jadi sekalian aku bisa menambah artikel baru lagi di blog ini, terus reunian juga kan sama tim traveling-ku yg spesial ini, hehe.

Trip ke Bukit Kuri dilakukan pada 9-10 Mei 2026, kita berkumpul Jumat malam di rumah ibunya Bang Ibed, meeting point spesial kami yang hangat karena keluarga Bang Ibed ini sangat welcome dari dulu dengan kami. Setelah semua tim dari Pontianak sudah berkumpul, perlengkapan camping dan logistik aman semua, pukul 12 malam kita mulai berangkat motoran pelan-pelan, ingat perjalanan ini 7 jam dengan estimasi tiba di kaki bukit Kuri pagi hari besoknya. Karena malam-subuh sesekali kami berhenti di SPBU, rumah makan, masjid.

Sepanjang perjalanan kami 70% diguyur hujan, capek? Bohong kalau kami bilang tidak, tapi kaum remaja jompo petualang ini sangat menikmatinya. Perjalanan dilanjutkan hingga tiba di Desa Sinar Kuri (Sinar Kuri Kalam), Kecamatan Sungai Laur untuk meeting point berikutnya karena ada tim dari Sandai Ketapang yang bergabung. Di Desa Sinar Kuri ini Bukit Kuri sudah terlihat dengan jelas dari jalan raya, di sini juga kita memutuskan untuk istirahat dulu, makan, packing ulang logistik, registrasi, dan prepare pendakian untuk pendakian agak siang.

Registrasi pendakian dilakukan di depan gerbang selamat datang Wisata Bukit Kuri, dengan biaya 10ribu per orang untuk parkir kendaraannya gratis dan kita bisa menitipkan barang yang tidak perlu dibawa untuk pendakian seperti helm. Nah, dari gerbang kami dapat motoran dengan jalur tanjakan, jalannya sudah semen jadi estimasi motorannya kurang lebih 10 menit hingga sampai area parkir sebelum masuk batas vegetasi.
Area ini sudah cukup tinggi menurutku, saat kami datang tidak ada kendaraan lain, itu artinya belum ada pendaki lainnya yang naik, tapi entahlah mungkin ada yang naik setelah kami, karena Bukit Kuri emang bisa didaki kapan saja, bahkan malam sekalipun. Berhubung rencana kami ingin juga menikmati sunset jadi naiknya sekitar jam 2 biar santai dan gak buru-buru.
Pendakiannya Cuma 3 Jam Kok!
Menurutku rasanya batas vegetasi tempat kita parkir motor itu sudah 200 mdpl, karena trek selanjutnya 50% tebing 50% landai, bahkan kami berjalan sangat santai tidak sampai 3 jam sudah sampai puncak. Sepanjang trek jalurnya mudah terlihat jadi gak butuh guide, di tengah jalur ada sumber mata air gunung (bisa langsung diminum).
Singkatnya ku simpulkan ini pendakian cukup mudah, mengingat Bukit Kuri memang cukup populer sebagai destinasi easy hiking terutama untuk pendaki pemula, dan beberapa kali ku dengar ada yang open trip untuk rappeling, bahkan di sini aku juga bertemu seorang pendaki yang lagi running (trail run) dia sedang melakukan tektok looping sebanyak 5 kali, waw!


Mendekati area camping jalurnya sudah benar-benar landai, beberapa tebing sekitarnya terlihat pemandangan rumah-rumah warga dari atas, beruntung cuaca saat itu cukup cerah ya bahkan Bukit Batu Daya terlihat jelas dari sini. Nah, untuk spot fotonya sendiri ada tiga, pertama area landai sebelum camping area, kedua teras batu, kemudian yang tertinggi puncak lantai di atas lagi tempatnya bisa juga untuk camping hanya lebih sempit dan pepohonan tidak rapat menutup area langit.
Sebelum berswa-foto kami sempat untuk memasak, bukan aku yang memasak kali ini Nanda, Mey, dan Deni seperti biasa tim yang sudah kita percayakan untuk urusan kampung tengah alias perut hehe.
Inilah yang aku senangi trip dengan DJB dibanding trip gunung dengan tim lainnya, karena urusan makan jarang ku temui mereka memilih menu instan, ada saja yang bisa mereka masak, peralatan masak lengkap, menu yang ingin diolah sudah benar-benar dipersiapkan jauh sebelum berangkat, dan terakhir kita menikmatinya bersama-sama secara saprahan. Itu yang rasa kekeluargaan dengan tim DJB ini jauh lebih terasa kuat.




