Angin laut meniup di bawah langit mendung dengan suasana kapal motor nelayan di atas laut yang berombak menuju suatu pulau tak berpenghuni di Kabupaten Mempawah. Saat itu, keadaan ku sudah mulai tidak stabil, yang biasanya cukup kuat menahan mabuk laut tiba-tiba mual juga, aku memilih berbaring dalam kondisi setengah mengantuk, sambil memandang dek kapal dari kiri ke kanan selama berjam-jam.
Pasti bentar lagi juga sampai, pikir ku. Tepat di belakang nahkoda, aku beberapa kali tertidur lelap berbaring saling jaga. Tidak hanya aku sendiri yang tidur, tetapi penumpang lain juga. Tidur di dalam kapal sepertinya sudah menjadi kebiasaan ya bagi mereka yang sering melaut, tapi bagiku tidur ku kali ini hanya untuk menahan mabuk saja.

Namun, dari drama-drama nya menuju pulau ini, aku juga menemukan sesuatu yang membuat aku merasa jatuh cinta lagi, seakan pulau ini benar-benar mencuri hatiku. Walau kelihatannya pulau ini tak jauh bedanya dengan pulau lainnya ya, bahkan terkesan biasa saja, apalagi pulau ini tidak ada penghuninya, namun ini bukan tentang pulaunya saja tapi cerita perjalanannya yang menjadi bagian kecil dari banyak ceritaku yang lainnya.
Oh iyaa, nama pulau tak berpenghuni yang ku maksud adalah Pulau Dato, Pulau Datu, atau Pulau Datok, lokasinya ada di Selat Karimata, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Rencana/agenda perjalanan ini sebenarnya sudah dicanangkan sejak awal tahun 2026 di group SCK (Summer Camp Khatulistiwa), tapi aku tidak/belum mendaftarkan diri sebagai peserta karena pikirku masih lama, (masih lima bulan lagi), namun masuk beberapa minggu sebelum hari H, ada seseorang yang bertanya kepada ku, “kok gak ikut ke pulau dato?” wah baru ini ada yang sepertinya mengamati karena tidak ada namaku dalam list peserta, wkwk.

Awalnya aku belum tertarik, niat hati ingin ikut hanya 10% tapi semenjak pesan pertanyaan itu masuk, logika ku langsung mencari alasan apa yang kuat untuk aku ke sana. Hemmm, secara teori emang iya sih aku belum pernah menjejakan kaki di sana, belum pernah nulis artikel blog tentang pulau ini, dan alasan-alasan kecil lainnya sehingga alasan ku untuk ikut kuat menjadi 80%. Wkwk bisa gitu ya? Bisa jadi juga sih karena seseorang ini yang menanyakan pertanyaan itu.
Aku juga ada buat carousel singkat rangkuman perjalanan Pulau Dato di feed instagram berikut:
Perjalanan ke Pulau Dato Mempawah ku mulai dari hari Jumat malam bertiga, start nya dari Pontianak pukul 10 malam bersama Ogut dan Bang Qumay. Sengaja berangkat malam biar ada waktu istirahat di Mempawah di rumahnya Bang Ipuy, jadi pagi hari masih sempat untuk sarapan dan prepare santai naik kapal dari dermaga kuala mempawah.
Meski sempat diterpa hujan beberapa area sepanjang Pontianak-Mempawah aku bergantian boncengan sama Ogut, maklum kalau hujan lelaki berkacamata ini kesulitan dalam pengelihatan, karena gak buru-buru kami berhenti beberapa kali di rest area seperti SPBU dan Indomaret Sungai Pinyuh. Perjalanan malam ini aku sama sekali tidak mengantuk, sepanjang jalan ini juga Ogut cukup banyak cerita haha, hingga tiba lah kami di rumah Bang Ipuy pukul 12 malam kurang lebih. Beberapa teman dari daerah lain juga sudah tiba karena mereka berangkatnya sore.
Di rumah bang Ipuy teman-teman lain sudah bersiap istirahat sedangkan kami bertiga yang baru datang langsung disugui nasi hangat dengan lauk ikan asam pedas. Waahh nikmat sekali. Anyway, kami memang difasilitasi tempat istirahat di sebuah rumah yang sekaligus sebenarnya ini adalah asrama, gedungnya baru tapi santri sedang libur, jadi ada beberapa ruangan seperti kelas tanpa meja yang bisa kami gunakan untuk istirahat. Hehe terima kasih bang Ipuy, bak sebuah basecamp di tempat ini pun jadi tempat kami menitipkan barang yang tidak dibawa ke pulau, sekaligus tempat untuk bersih-bersih sepulang trip hehe.
Beberapa tim lain menyusul sejak subuh, hingga pagi kami bertemu di dermaga yang sekaligus juga meeting point, aku masih punya waktu sebelum ke dermaga, jadi ku manfaatkan untuk cari sarapan dan ngebungkus makanan untuk makan siang di pulau. Baru lanjut ke dermaga, kemudian beberapa kelompok naik kapal yang sudah ditentukan dengan jumlah kapal itu ada empat. Setelah semua naik, barulah kapal bergerak berlayar menuju laut.
Kapal baru berjalan sekitar 10 menit, tiba-tiba kami diterpa hujan. Untungnya sejak awal aku memilih duduk di area dalam, tepatnya belakang nahkoda. Aku masih merasa aman, tapi lama kelamaan perasaanku mulai tidak enak, jadi aku memutuskan untuk duduk terus hingga akhirnya rasa pusing bercampur mual pun tak tertahankan, haha padahal 30 menit lagi sudah sampai pulau, aku pun akhirnya mutah (ini pertamakalinya aku muntah) karena si Ogut ini berbaring di depanku (yah sejak awal dia sudah bilang kalau dia mabuk, jadi memutuskan untuk berbaring saja), tapi postur tubuh Ogut yang cukup besar menghalangi jalan ku yang ingin tiba-tiba mutah, dengan selama maaf aku pun muntah di celananya 😭😭😭 dengan rasa tak nyaman, aku segera membersihkan dengan tisu dan badanaku. OH MALUUUUUNYA AKUU.
Begitu pulau sudah tampak, kapal pun berhenti tapi tidak langsung merapat. Aku pun keluar dari dalam kapal untuk melihat keadaan sekitar, meski tidak lagi hujan langit mendung masih terlihat, begitu juga gelombang serta arus air yang terus bergerak, satu jam kapal bolak balik jalan pelan melihat kondisi pulau untuk mencari tempat terbaik untuk bersandar.

Ketika tempat pertama sudah cukup terlihat aman, beberapa peserta turun sontak aku pun tergiur untuk ikut berenang kearah pulau dengan terjun dari kapal. Aku dengan percaya diri kalau aku bisa berenang, dan mampu berenang sendiri tanpa pelampung/life jacket, tapi ini aku salah lagi, begitu aku terjun dengan sendal, hal yang seharusnya tidak aku lakukan adalah “panik!” karena air di bawah cukup berarus, aku cukup kelelahan menggapai tepian karena melawan arus, yang menyebabkan kaki ku keram.
Beruntung aku berenang tidak sendiri, karena dekat dengan Aldi. Aku dengan sisa tenaga berusaha memanggil Aldi (beruntung Aldi merespon), melihat kondisi ku Aldi pun berteriak ke orang yang di kapan untuk melemparkan life jacket, tapi ketika dilempar justru kejauhan dan berakhir hanyut lalu hilang (dalam hati ku “AH SIAL”), life jaket kedua pun dilempar kembali, Alhamdulillah kali ini mampu aku gapai, tapi tetap aku sangat kelelahan untuk sampai ke kapal lagi karena kaki keram.
Aku dibantu awak kapal untuk naik, kemudian terbaring lemah lalu ketiduran. Aku tidak ingat lagi kejadian selanjutnya, tapi kami berpindah ke lokasi yang kedua, baru lah semuanya turun. Ku rasa ini tempat yang berbeda, air nya lebih tenang, dan semua peserta setuju untuk camping di sini. Dari kedua kejadian itu aku menyadari, bahwa sepertinya kali ini aku terlalu ambis, sok kuat, dan lupa kalau yang aku hadapi ini adalah alam 😌
Sebenarnya di sisi balik pulau itu area pantai dengan pasir, tapi kondisi laut tidak kondusif jadi kami memilih area ini saja. Batu batu besar, serta air tenang cukup membuat kami merasa aman untuk bermalam di sini. Setelah semua barang sudah terangkut dari kapan, semua langsung bergerak untuk persiapan camping, ada yang mendirikan tenda, mulai masak, bersih-bersih, dan lain sebagainya.
Lelah ahh sudah jangan ditanya lagi, aku sendiri memilih mengabiskan banyak waktu untuk enjoy the momen tanpa banyak membuat dokumentasi, setelah makan siang sore aku, memilih bersantai di tepi batu besar dan ternyata Ogut duduk di sebelahku, cerita cukup panjang mulai dari soal kerjaan sampai nostalgia waktu sekolah, jauh dari social media (karena ya emang gak ada sinyal juga), obrolan pun hingga larut sampai gelap sambil memandangi kapal-kapal nalayan dari kejauhan pulau yang sedang berburu sotong.
Sebelumnya aku memang tidak pernah berekspektasi apapun tentang pulau ini ya, bahkan aku tidak mencari tahu asal usul maupun sejarah dari Pulau Dato, aku hanya ingin datang, melihat, dan mendengarkan langsung situasi dari pulau. Sedikit banyak informasi yang aku terima diantaranya adalah: pulau dato pernah jadi tempat pelarian nelayan asing yang kapalnya di-ledakkan karena ilegal, terdapat kuburan/makam seorang datok (mungkin itulah satu alasan dinamakan pulau dato ya).

Begitu malam, group kami terbagi dengan beberapa kelompok, memilih caranya masing-masing untuk menghabiskan malam. Mengingat peserta kali ini cukup ramai yakni 30++ orang, dan area datar tidak begitu luas membuat kami terpaksa harus terpisah pisah. Aku memilih ngobrol santai sambil makan snack dekat dengan perapian unggun kecil yang dibuat Radit, aku juga mencoba ambil beberapa dokumentasi menggunakan XIAOMI 17 Pro Max baru milik Bang Qumay yang bisa mode malam. Sisa teman-temanku lainnya ada yang main kartu ada juga langsung istirahat di tenda.

Btwe, ini juga pertama kalinya aku pakai tenda baru hadiah ulang tahun dari diriku sendiri sejak bulan Mei kemarin haha. Tenda putih (sebenarnya abu-abu terang) merek Naturehike diresmikan di pulau dato ini ❤️ Di pulau ini juga aku menguji ketahanan tenda anti rembes karena malam hari ternyata hujan, tenda untuk 3 orang ini aku pakai bersama Ce Sui Me, beliau yang bawa lampunya, jadi tendaku terang sekali kalau difoto dari luar, hehe.
Bagun pagi, suasananya masih sendu tapi tidak hujan. Beberapa teman-temanku menyalakan kompor, menyeduh kopi, masak mie, berkumpul bersenda gurau lagi. Pagi ini rasanya kita punya cukup banyak waktu untuk berkonten ria, melihat langit pun semakin cerah terang benderang, begitu air laut pun tenang. Pas, ini adalah waktu yang tepat untuk snorkeling.
Tidak semua mau turun snorkeling, hanya beberapa saja yang turun termasuk aku. Tak seperti kemarin, cara berenang ku kali ini jauh lebih tenang, dan bahkan sampai melakukan free dive beberapa kali. Sayangnya, aku tidak membawa kamera khusus underwater padahal di bawah laut sekitar Pulau Dato itu tak kalah indahnya dengan pulau lain di sekitar Kalimantan, beberapa biota laut seperi anemon, ikan-ikan laut random, juga bulu babi yang bisa dimakan langsung. Aldi dan Ogut coba mengambil beberapa bulu babi dari dasar untuk dibuka di kapal, kami menikmatinya di atas kapal sambil perjalanan pulang.
Jika nanti kalian berkunjung ke Pulau Dato, jangan hanya menikmati daratan pulaunya saja. Cobalah snorkeling, memancing dengan nelayan lokal, camping meski hanya sebentar. Ada banyak hal yang akan mencuri hati, sama seperti Pulau Dato yang sudah mencuri hati ku. Aku berjanji akan kembali lagi.
Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya, salam lestari ❤️


5 jam berlayar, lumayan lama juga ya waktunya mbak, apalagi kalau kondisi ombak cukup keras.
Aku yang biasanya ga pernah mabuk laut, kalaupun perut mual misalnya, balik lagi ke kondisi kapal dan ombak saat itu.
Sesekali aku minum obat anti mabuk dan memilih tidur